Hatta-Soekarno : Iman dan Kurang Iman


goodreads.com
goodreads.com

Judul Buku     : Berjuang dan Dibuang (Jilid 2)

Penulis            : Mohammad Hatta

Penerbit         : Kompas

Harga              : Rp 120.000 (tiga jilid)

Tahun Terbit : 2014 (cetakan keempat)

Ukuran           : 14 x 21 (cm)

Tebal              : viii + 192 halaman

 

Inilah bagian awal perkenalan Hatta dan Soekarno – secara langsung. Mungkin keduanya telah saling mengamati dari jauh lewat surat kabar lintas negara – kala Hatta masih bergelut dengan buku-buku tebal guna memuluskan gelar doktoralnya. Kala ia rutin melanglang Eropa mengalkan frasa Indonesia dan ketegasan politik non-kooperasi-nya. Tidak diceriterakan kapan Sukarno mulai membangun PPPKI (Persatuan Partai-Partai Kebangsaan Indonesia) dan PNI kala itu, namun jelas dan nyata bahwa awal “persimpangan pandang” itu dimulai ketika Sukarno ‘membubarkan’ PNI, kemudian mendirikan Partai Indonesia (Partindo).

 

Pembubaran PNI itu mendapat tanggapan serius dari Hatta, ia ‘beraksi’ membesarkan hati anggota PNI yang loyal dan membantu sekuat hati dan pikiran dengan cara yang tertata, terencana, dan terhormat. PNI Baru, yang didirikannya kini ia sebut bukan ‘partai’ melainkan Pendidikan, Pendidikan Nasional Indonesia. Membangun gerakan yang tidak menuhankan pemimpin, yang tidak lembek dan hancur kala pemimpinnya diasingkan ke Sukamiskin. Katanya – Hatta – pembubaran PNI membuat pengikutnya kecut dan runtuh – diakui atau tidak. Karena mereka hidup dari agitasi dan orasi.

 

Maka itulah dasar Pendidikan yang ditawarkan Hatta, melahirkan kader yang kuat pendirian dan kata-katanya. Jika sebuah persatuan dan pergerakan hanya hidup dari orasi dan agitasi, maka ia akan kalah jatuh terkapar bilamana agitator dan oratornya terbunuh. Jika pergerakan dibangaun dengan didikan dan pengetahuan serta kemandiriian berpikir, maka tiap penganjur (founding father) yang ditangkap dan dibunuh, lahir saat itu juga pemimpin-peminpin baru, jika semuanya hagus terberangus, maka ada pikiran lewat majalah yang tetap menutun keyakinan rakyat, membangun harapan rakyat, meninggikan hati pengikut. Majalah (pers) menjadi pemimpin katanya – Hatta.

 

Ketika Sukarno bebas mulai mandiri dengan Partindo, kemudian saling hantam lewat tulisan dengan Hatta perkara Politik Non-Kooperasi. Pertarungan itu disudahi dengan penangkapan kedua Sukarno, dilanjutkan dengan internir-nya (pembuangan), tidak lama dari itu mencul tragedi – pada masa itu disebut Tragedie Sukarno. Sukarno menyatakan menarik diri dari segala bentuk pergerakan, menarik diri dari Partindo dan PPPKI. Hancur lagi hati rakyat yang menaruh hormat dan harap padanya, lebih luluh lantak kala disebutkan bahwa alasannya keluar dari segala bentuk pergerakan adalah karena tidak cocok lagi dengan asas Partindo dan PPPKI. Tidak cocok, sungguh padahal Sukarno sendirilah yang menyusun asas Partindo dan PPPKI.

 

Lalu muncul kabar lain bahwa Sukarno tunduk begitu karena keluarganya jatuh melarat, istrinya menangis dalam sedih yang berkepanjangan, hidup keluarganya tidak teratur, kacau balau, kalah. Tanggapan Hatta? Kurang Iman. Benarlah apa yang Hatta ungkapkan, sesungguhnya pemimpin itu panjang akal harusnya, berdikari dan mandiri untuk keluarganya, sebelum terjun ke ladang pertempuran yang ganas. Inilah sejarah yang tidak pernah aku tahu dari buku-buku sejarah selama ini, dan terasa terang benar saat kenyataan ini dinyatakan oleh pendamping Sukarno sendiri di masa datang, Mohammad Hatta.

 

Sungguh, dalam buku ini pun Hatta juga dibuang jauh ke papua, ke Boven Digul. Hidup sangat kekurangan, dan sungguhpun ia tetap dapat hidup dan menghasilkan, 5 gulden tiap kolom di majalah Pemandangan. Cukup ia hidup dengan tulisannya itu, ketimbang menerima 7,50 gulden tunjangan dari Pemerintah Kolonial. Ia teguh dengan politik non-kooperatifnya. Ia tegak, tetap pada pendiriannya. Bahkan ia telah berpikir untuk menyiapkan hidupnya selama minimal 10 tahun di Digul, membangun rumah yang kokoh dan layak untuk 10 tahun.

 

Ini, adalah kisah nyata sejarah kita. Sejarah yang dituturkan oleh bapak kita sendiri. Mohammad Hatta.

 

Sutakwa

20141106 1552

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s