Berkawan dengan Pilihan


materialminds.com
materialminds.com

Hujan bulan November bukan lagi anomali yang sedikit menyegarkan panas sejak September, ia telah masuk pada entitas lain bernama musim penghujan, di akhir bulan November. Yang dibelahan dunia lain masuk kategori winter, dengan saljunya yang tidak semenyenangkan seperti tayangan animasi masa aku kecil. Hujan akhir November mungkin menyusahkan bagi para penganggur – yang juga menurut mereka musim panas September kemarin menyusahkan. Jadi alasan baru bagi ahli kilah untuk menambah ilmu kilah lidahnya. Namun juga jadi pintu nyata bagi mereka yang serius dan menyeriusi urusan-urusan keilmuan dan ibadahnya.

Alasan tidak hadir karena hujan, telat karena hujan, lan sak piturute sudah bukan lagi terobosan dialektika yang cerdas. Hal itu menjadi excuse yang payah ditengah dunia global yang semakin gombal ini. Memilihlah, jangan jadi pengecut. Berdirilah diatas pilihan kan taruhanmu sendiri, yang dapat kita nikmati sendir gagal atau fatalnya, yang bisa kita dalami sendiri menang dan gemilangnya. Jadilah dewasa sebagai manusia.

Sabtu kemarin, saya diminta mengisi salah satu annual training dari fakultas. Masih saja buku rujukannya adalah buku Stephen R Covey, kali ini sudah beranak satu teorinya, sedari 7 menjadi 8. Mulai nampak seperti semacam komoditas ekonomi, bukan lagi ilmu, apalagi Habits! Sejak menjadi panitia saat semester 3 dulu, saya telah menerbitkan tanya mengapa buku 7 Habits yang digunakan, hingga kinipun aspirasi itu katanya telah disampaikan ke unit CDC yang memberikan mandat pelaksanaan training pada BEM FP, katanya mentok.

Perkara buku ini penting kawan-kawan. Secara terbuka saya sendiri merasakan dan menyatakan, 12 tahun pendidikan dasar dan menengah, tidak sedikitpun membuka otak saya hingga pada tahap ‘berpikir’. Saya hanya mencapai tahap tahu dan hafal. 12 tahun itu seolah mencetak manusia menjadi kotak sekotak robot. Ilmu diposisikan sebagai entitas terbatas dan rigid. Tidak dipengaruhi oleh hal apapun, memodelkan realita dan meniadakan realita. Peserta didik menjadi alat tampung memori, bukan aset pikir pengembangan ilmu.

Maka satu poin yang saya ajarkan selama penuh satu hari training itu, bukan tentang 7 Habits yang jelas jelas kalah jauh dari filosofi pendidik dasar Indonesia maacam Ahmad Dahlan, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Hasyim Ashari, Suryo Mentaram, hingga Amien Rais, Emha Ainun Nadjib, dan Erie Sudewo. Kalah jauh. Mereka memposisikan ilmu sebagai entitas pikir, bukan komoditas ekonimi yang hari kemarin 7, esok bisa jadi 8, lusa bisa jadi 9, 10, 11 dan seterusnya. Ilmu itu pengembangan berpikir manusia. Kenapa to ndak menyadur teori para pendiri negeri saja, atau minimal teori pemikir 2-3 dekade ini, pemikir Indonesia.

Dan berpikir itulah yang saya ajarkan seharian pada adek-adek mahasiswa baru yang kosong mlompong. Membuka pikiran mereka dengan satu bahan. Pilihan. Saya meminta mereka untuk berpikir sedikit, untuk memilih. Membiasakan diri berdiri pada kaki dan kepala sendiri. Membiasakan diri tidak jadi pencundang dan pengecut. Membiasakan diri untuk mengahadapi gagal dan fatal. Membiasakan diri untu memilih.

Satu bahan saja, tentang pilihan. Saya katakan diawal sesi bahwa mereka bisa saja tdak datang hari ini, mereka bisa saja pulang jam 10 nanti jauh sebelum training usai, mereka bisa saja malas dan tidak hirau pada saya, mereka bisa saja pergi dan kembali seenak mereka. Tapi jadilah sia-sia jika mereka seperti itu. Saya tidak peduli jika bahkan hanya ada satu peserta tersisa diruangan saya, karena saya manusia, dan mereka manusia.

Saya memilih, dan mereka juga. Saya memilih untuk bersedia menyediakan kompas dan penunjuk jalan. Saya memilih untuk mengantarkan mereka yang buta atau sekedar membisiki mereka yang tertidur. Karena saya manusia, dan mereka juga. Maka jangan jadi pengecut, piliihlah dan pertanggungjawabkan. Berkawanlah dengan pilihan, karena hidup manusia itu pilihan. Jangan beralasan semua sudah tertulis pada kitab besar penciptaan alam semesta, karena kitab  itu juga menulis bahwa kita dikaruniai akal dan nafsu, yang hanya bisa disatupadukan dengan satu alat lagi. Bernama Iman.

Maka memilihlah dengan akan dan nafsumu, tapi luruskanlah dan kendalikanlah dengan iman yang bersih dan bercahaya.

Sutakwa

20141126 2307

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s