Intelektual Negarawan


dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Judul Buku     : Menuju Gerbang Kemerdekaan (Jilid 3)

Penulis            : Mohammad Hatta

Penerbit         : Kompas

Harga              : Rp 120.000 (tiga jilid)

Tahun Terbit : 2014 (cetakan keempat)

Ukuran           : 14 x 21 (cm)

Tebal              : viii + 230 halaman

Dalam buku dua jelas betul ‘kedongkolan’ Hatta pada sikap Sukarno yang mencla mencle. Tapi jika menyangkut kepentingan orang banyak, juga nyatalah kenegarawanan Hatta dalam menyikapi situasi dan urgensi momen. Ia sadar bahwa rakyat tidak cukup mengerti dan terdidik tentang politik. Ia tahu bahwa rakyat lebih butuh semangat dan arahan dari tokoh yang selama ini mereka dengar dan hormati kehormatannya seluas Hindia Belanda. Rakyat hanya tau bahwa mereka butuh Sukarno Hatta.

Hatta barangkali juga sadar bahwa ia butuh Sukarno yang cakap bercakap dengan bahasa yang dimengerti rakyat. Dalam kekinian sering disebut dialektika dan retorika yang tepat, harmonis, dan berirama. Mau tidak mau Sukarno juga butuh strategi, prediksi, dan intelektualitas Hatta sebagai pemikir negara yang otentik. Yang mengerti hukum, ekonomi, sekaligus psikologi politik lawan main mereka – Belanda. Maka pas dan pantaslah mereka jadi Dwitunggal yang lengkap melengkapi dan menggenapi satu dengan lain.

Dalam sambuta awal buku ini, Taufik Abdullah mengandaikan bagaimana kiranya jika Hatta meneruskan memoarnya catatan-catatan terakhir menjelang hayatnya berakhir. Perlu diketahui oleh calon pembaca, dalam buku ini Hatta hany amerampungkan memoarnya hingga penyerahan keadulatan Indonesia pada tahun 49 oleh Ratu Belanda. Hatta menganggap dua peristiwa terbesar dalam hidupnya adalah saat proklamasi dan penyerahan keaudalan tersebut. Maka mungkin ia ingin menutup tuturan sejarah hidupnya dengan peristiwa yang besar sekaligus kemenangan Indonesia.

Tapi saya lebih memilih mengandaikan dua hal. Apa jadinya jika Hatta yang menjadi Presiden – tetap dengan kelebihan dan kekurangannya. Dan apa kiranya komentar Hatta mengenai pengunduruan dirinya sebagai Wakil Presiden, kala Sukarno mulai berubah menjadi mencla mencle lagi? Coba baca lagi sejarah. Kita tahu bahwa Hatta mundur dari jabatan Wakil Presdien kala Sukarno mulai mengenalkan Demokrasi Terpimpin, yang dalam istilah kasarnya sebenarnya menyerupai kepemimpinan diktatorial.

Barangkali Hatta sudah lelah, ia mungkin saja tau bahwa Sukarno akan seperti itu, terus berulang seperti itu. Hingga ditiru dan digugu oleh penerusnya nanti lama mencapai tahun 98. Barangkali Hatta telah tau juga, bahwa hanya generasi anak cucu muda yang mampu menghentikan kekacauan mencla mencle ini. Barang kali ia mundur untuk mengajarkan pada para pemuda, mendidik para pemuda, untuk melihat dan tahu, lihatlah, dunia tidak berubah. Manusia tidak berubah dari tabiat dan karakternya.

Belajarlah wahai anak muda, belajarlah. Lihatlah aku, lihatlah dia, lihatlah mereka, lihatlah sejarah. Kami mewariskan banyak untuk kalian. Belajarlah.

Barangkali seperti itu yang dipikirkan Hatta. Barangkali saja.

Sutakwa

20141126 2348

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s