Karakter Hanya untuk Orang Baik


dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Judul Buku     : Best Practice Character Building

Penulis            : Erie Sudewo

Penerbit         : Republika

Harga              : Rp 80.000

Tahun Terbit : 2011

Ukuran           : 13,5 x 20,5 (cm)

Tebal              : xvi + 289 halaman

Dua minggu teakhir, kereta lokal menjadi tempat singgah yang hampir tetap. Bolak-balik Solo Jogja yang pada awalnya kucoba dengan roda dua, kini setelah remuk badan dan sadar, akhirnya roda besi lebih memberikan kenyamanan. Dalam kesibukan khas mahasiswa tingkat akhir ini, kutemukan banyak jenis manusia di dalam kotak besi. Kami saling berbicara, tidak dengan bahasa verbal atau non-verbal, hanya dengan gerak langkah, tatap sepintas, membuah wajah, dan banyak hal lainnya. Aku belajar, manusia hidup sendiri, apalagi setelah muncul sosial media, social circle yang aktual semakin lenyap. Aku tidak tahu, mereka berkarakter, atau tidak.

Tujuh bagian buku ini konkret jelas menjelaskan pendidikan karakter. Pertama kali muncul di tahun 2010, buku in pernah dilarang edar oleh kementrian agama. Saya tidak membaca buku ini satu kali, tapi lebih. Penulis merupakan praktisi akar rumput yang tau benar bagaimana dan apa itu karakter. Tulisannya seolah kita sedang berbicara tatap muka, diberikan wejangan luas yang meluaskan pandangan kita tentang hidup. Inilah sebuah masterpiece pedoman hidup berkarakter di zaman ini. Zaman yang sudah bukan lagi peradaban.

Setelah terjebak dalam keilmuan semu bernama teori relativitas einstein, bahkan setelah mengetahui bahwa manusia bisa musnah karena teori ini – via nuklir – tetap saja manusia memilih berpikir relatif – saya kira ini adalah bentuk pembenaran diri yang payah dan parah. Coba ingat-ingat sejak kapan kita berpikir semuanya serba relatif? Ada karakter baik dan buruk, seolah semuanya hanya relatif. Salah. Besar. Karakter itu baik, selalu baik. Jika buruk itu namanya tabiat. Begitu jelas penggambarannya dalam buku ini.

Pada bagian awal, buku ini men-jlentreh-kan bahasan kompetensi. Lengkap dengan kapasistas dan kapabilitas. Mudah dan terang. Kapasitas itu modal terukur yang setiap manusia memilikinya. Ruangnya terbatas, tapi bukan berarti tidak dapat maksimal. Kapabilitas itu kemampuan mengolah kapasitas, inilah instrumen terpenting untuk mencapai maksimal. Dalam hal ini mencapai kompetensi yang maksimal. Kapabilitas dapat dilatih, dipelajari, dan dibiasakan selaras dengan kesungguhan dan kemauan diri.

Dalam halaman-halaman selanjutnya bahasan lebih dalam dan spesifik. Mengacu pada hakekat karakter. Ia hidup bersama manusia, karakter itu sebenarnya sudah tertanam dalam nurani tiap manusia. Tapi ia mesti dimunculkan, dicari, diolah, dipahami, dan jadilah ia nilai. Nilaipun tidak berguna sama sekali, jika tidak menjadi perilaku baik. Dan inilah karakter, sekumpulan perilaku baik, bukan hanya sifat atau nilai. Ia adalah laku, perilaku. Ia hidup bersama manusia, menjadi manusia itu sendiri.

Maka dalam buku ini pembaca diajak memilih, 1) menjadi (bukan) manusia, 2) menjadi manusia, 3) menjadi manusia unggul, atau 4) menjadi pemimpin manusia.

Menjadi bukan manusia ialah mereka yang hidup tanpa prinsip, hingga dirinya hanya dipenuhi tabiat, bukan sifat baik, bukan nilai, apalagi karakter. Mereka bak monster yang jahat, picik, dan menyembunyikan diri demi keuntungan pribadi.

Menjadi manusia artinya tahu, paham, dan memiliki karakter dasar. Ialah tidak egois, jujur, dan disiplin. Barulah ia sebagai manusia yang berdasar. Manusia yang baik.

Menjadi menusia unggul itu mereka yang ikhlas, sabar, bertanggung jawab, memperbaiki diri, bersungguh-sungguh, mau berkorban, dan mampu bersyukur. Mereka unggul lebih banyak dari manusia dasar yang hanya baik.

Dan di puncak, merekalah yang sebenarnya tidak peduli apakah itu puncak atau bawah tanah. Mereka hanya peduli untuk melayani. Merekalah ini yang adil, arif bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana, visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif. Jika mereka ada, sebuah kumpulan menjadi bermakna. Mereka memberikan alasan dan keyakinan pada sang terpimpin, untuk terus bangkit, maju, menjadi lebih baik dan lebih baik. Menjadi manusia berkarakter.

Sutakwa

20141127 2158

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s