Pelat dan Pulpen


dok pribadi
dok pribadi

Mengingat pelat, sama saja kembali menarik berkas mata yang tertinggal jauh pada masa sekolah. Bukan sebuah istilah yang asing dan aneh untuk anak sekolah. Tugas wajibnya, memudahkan kami meruncingkan pensil kayu. Tugas ilegalnya, pasrah kala terkadang kami paksakan ia merusak meja, kursi, kertas, bahkan hingga tanaman hijau yang menerima perlakukan jahiliyah itu. Tapi pelat dan pulpen menjadi istilah yang aneh dan asing bagi saya, mungkin karena sejak awal program memori dan deskripsi “pelat” telah mentah dan absurd sejak masa sekolah, maka ia menjadi asing dan aneh pada masa ini.

Ini adalah gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), lembaga dakwah yang mulai tumbuh lembaganya pada masa Masyumi bubar, sekitar tahun 1960-an. Sebenarnya saya tidak tahu kapan gedung DDII di Solo ini kapan berdiri, saya hanya tahu salah satu pendirinya adalah AR Baswedan, kakek dari Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menegah saat ini, setidaknya untuk lima tahun kedepan. Dan disinilah pertama kali saya masuk menyelam pada lautan komunitas yang bahkan anggota aktifnya mencapai daratan bersalju dan pasir gurun. Lebih istimewa lagi, karena dari sini – komunitas ini –  lahir penulis-penulis muslim yang mencerahkan.

Forum Lingkar Pena (FLP), bukan istilah yang mengalami alienasi dalam processing data memori otak saya. Forum ini pertama kali muncul dalam salah satu babak hidup sekolah saya, khususnya pada fase sekolah menengah atas. Saya ingat ada juga salah satu pertemuan komunitas FLP yang sempat digelar di sekolah, namun urung menjadi aksi yang saya pilih, barangkali karena terlalu sibuk dengan dunia lain bernama teknologi komputer.

Kita fast forward ceritanya, mencapai sesi tanya pada satu dari dua mentor menulis hari ini, khusus ada babak menulis fiksi. Beliau – Afifah Afra nama penanya – mengungkap bahwa membuat novel sejarah bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi novel sejarah biografi seperti yang saya gambarkan – sebelumnya beliau menjelaskan ada tiga jenis novel sejarah, pertama novel yg berlatar sejarah, kedua novel sejarah biografi, ketiga biografi murni.

Ia menambahkan, mungkin saya bisa ‘main’ ke rumah Dukut Imam Widodo – jika tidak salah ejaannya – di Jogja. Ialah penulis sejarah aktif yang pernah ke Leiden untuk menggali kearifan masa lalu Indonesia yang konon – menurut beliau menceritaan diskusinya dengan pak Dukut – 90% sejarah Indonesia ada di Belanda. Fakta baru yang melengkapi penjelasan rusaknya otobiografi Diponegoro di Indonesia, karena tidak terawat, tidak juga terhirau. Kemudian dielaborasi oleh Peter Carey menjadi 3 jilid tebal lebih dari 1000 halaman fokus pada perang jawa, ia beri judul Kuasa Ramalan. Oleh permintaan penerbit lain – menginginkan buku yang lebih pendek dan tipis, ia fokuskan data dan fakta tentang Sang Pangeran pada buku yang lebih tipis berjudul Destiny – Takdir.

Teori tentang menulis – atau mengarang dalam istilah pelajaran Bahasa Indonesia – sebenarnya telah pernah aku temui. Namun tentu rasa dan flavor-nya jauh berbeda jika dituturkan oleh penulis itu sendiri, terlebih oleh penulis yang telah mencipta banyak karangan dengan riset yang komprehensif. Beliau menuturkan bahwa menulis adalah kerja kreatif yang tidak dapat dijelaskan. Ada insight  yang unspeakable, unidentify, dan untraceable  yang telak sebagai bumbu rahasia, bahkan si koki pun tak dapat menjelaskannya.

Tetapi, bukannya mentoring ini absurd dengan fakta tersebut. Justru kemudian dapat digaris bawah tebal dan miring bahwa ada dua hal dasar dalam sebuah insight yang ‘sakral’ tersebut. Ialah membaca dan riset. Saya tidak pernah selesai dan ajeg dalam menyelesaikan membaca novel. Beberapa hanya saya baca bagia awalnya saja, beberapa saya skip dengan langsung menonton filmnya. Tapi saya tahu, penulis pasti melakukan riset besar dalam penciptaannya – novel. Riset yang hanya bisa didapatkan dengan dua cara, membaca atau tinggal secara realtime pada latar yang ia tampilkan dalam novelnya.

Saya pernah rutin menulis puisi – saat SMP, belum pernah menulis cerpen, apalagi meulis novel. Dalam waktu yang tidak dapat ditentukan, saya hanya berencana menulis tiga novel sejarah, dan setidaknya saya menjadi tahu bahwa ini akan menjadi rencana dan proyek besar yang membutuhkan banyak waktu, banyak narasumber, banyak literatur, bahkan mungkin saya harus ke Leiden sendiri untuk menyelesakan tiga novel ini. Saya tahu, dan memang berencana meneruskan kuliah di negara terapung itu. Negara besar yang mengajarkan banyak pada negeri yang kecil ini. Setidaknya, sampai anak cucunya kelak tahu bahwa negeri ini tidaklah kecil.

Bandung Mawardi? Saya kenal beliau, dan memang paska break saya tidak mengikuti materi beliau. Saya kenal dan pernah menjadi objek ajar beliau pada suatu forum diskusi di kampus. Beliau bukan orang kebanyakan – beberapa akan menganggapnya aneh. Tapi lihat saja riwayat beliau, sebagai esais, kritikus, dan budayawan – lihat apa yang beliau ajarkan. Akan mengerti dan segera meralat anggapan tentang beliau, karena jelas sekali beliau adalah orang dengan riwayat dan barang bacaan yang panjang mengular. Sayang sekali tidak sempat menanyakan beberapa hal tentang tulisan non-fiksi yang memang lebih sering saya lakukan.

Tapi dengan masuk komunitas skala bumi ini, kucanangkan salah satu warisan untuk anak cucuku, menjadi penulis yang membumi – itupun hanya hobi sampingan, bukan hobi utama. Karena menulis bukan pekerjaan. Karena menulis kegemaran yang mencerahkan. Karena jika membaca membuka jendela dunia. Dan jika mempelajari (riset) membuka pintu misteri. Maka menulis mampu mengubah dunia.

Sutakwa

20150104 1222

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s