Sekolah Alam Bengawan Solo #5 – Babak Tambahan Waktu


bsfsMenjelang akhir program kegiatan KKN, sebenanya banyak intriguing issue  yang sejak awal telah saya dan kawan-kawan di tim inti tahu, akan menjadi salah satu masalah besar – walaupun sekaligus dalam satu waktu yang sama kami juga yakin masalah tersebut dapat diredam dengan beberapa upaya. Intrigue ini bersifat kedalam dan keluar, maksudnya ia timbul dalam internal 49 orang dalam 6 tim terpisah, pun dalam ratusan masyarakat yang kontak langsung dengan 6 tim ini. Mungkin inilah titik yang lebih dibanding KKN di tempat lain yang lebih sering happy ending.

Di babak tambahan waktu ini, pada akhirnya kami paksakan Bengawan Solo Festival (BSF) berdiri, meski harusnya ia baru mampu mrangkang, namun kami tuntun, kami pandu, kami topang untuk sanggup berdiri. Dua hari puncak yang campur mengaduk antara lelah, marah, kecewa, pasarah, dan kalah, dengan tenang, optimisme, faith, dan tekad, menjadi dua hari yang mengakhiri secara ‘formal’ lebih 30 hari kami menjalankan KKN.

Kami sendiri mengakui – terutama saya  pribadi, bahwa persiapan BSF sangat kurang dan kurang.  Namun saya ingat salah seorang kawan mengulang kata-kata yang mungkin saya lupa juga – kemustahilan hanya untuk para pemalas! Begitu dulu saya menjawab keraguan para haters. Bagaimana tidak mustahil – pikir mereka, ide muncul sejak awal, persiapan dicanang paska lebaran, kerja dimulai H-20. Akal manapun yang pernah menggelar acara kelas nasional, maupun yang belum, akan memahaminya sebagai sebuah kemustahilan.

Makanya, reckless kadang juga perlu. Dengan berkata ‘kemustahilan hanya untuk para pemalas’, credit point didapatkan untuk membakar kayu keraguan beberapa orang, tentu saja tidak semua, dan tidak dapat bertahan lama. Poinnya, mereka butuh dikuatkan, maka kuatkan. Itu saja. Seperti Pangeran Diponegoro.

Mungkin sedikit yang tahu bahwa Sang Pangeran, sesungguhnya benar-benar Pangeran – Diponegoro adalah anak dari calon Sultan Hamengku Buwono III. Dan saya juga baru tahu fakte kalau memang demikian. Bagaimana tidak, Diponegoro selalu disimbolkan sebagai simbol Semarang dan sekitarnya, mungkin beberapa orang orang menyagka bahwa beliau serupakan Pangeran dari salah satu kerajaan di Semarang. Yang lain akan mengira bahwa Semarang adalah salah satu medan pertempuran utama saat beliau dan pengikutnya membuat VOC bangkrut – utang karena perang Diponegoro sangat besar, membuat VOC sebagai korporasi dagang saat itu bangkrut dan diambil alih oleh pemerintah Belanda. Lebih parah lagi, tidak pernah sedikitpun digambarkan kaitan atau hubungan Diponegoro dengan Kesultanan Jogja dalam beberapa informasi umum. Mungkin karena Diponegoro dianggap sebagai ‘pemberontak’ oleh pihak kesultanan. (Baca buku Takdir karya Peter Carey untuk informasi yang lebih valid dan luas).

Sempat kami khawatirkan aka terjadi kerusuhan massa, mengingat rumor beredar bahwa antar dusun sering terjadi silang pendapat, malah mengarah ke pertikaian berkepanjangan. Lebih dari 7 tahun, hanya karena preferensi politik yang berbeda. Pada kenyataannya demokrasi lebih rawan untuk menyulut permusuhan di negeri toleransi dan gotong royong ini.

Lebih parah lagi membayangkan potensi itu timbul karena keberadaan kami sebagai mahasiswa KKN. Belakangan malah beredar kabar burung bahwa kami menyerahkan uang 1 juta pada pihak tertentu yang dekat dengan lokasi BSF. Tentu saja di kemudian hari kami semua berang dengan isu ini. Yang lebih mengesalkan adalah mereka yang kami minta konfirmasi tentang ceritera ini mengakui bahwa itu adalah berita burung, namun tetap saja entah dari mana burung itu bisa lepas dan terbang kesana kemari hingga banyak sekali warga dari 6 dusun lokasi KKN kami di kemudian hari menanyakan kabar itu pada kami.

Begitulah politik dan uang, jika tidak dimanfaatkan dengan tulus dan ikhlas, ia akan membunuh kita, keluarga, society, negara, dan dunia.

Kembali pada BSF, pada akhirnya. Beberapa agenda besar terlaksana, pengobatan gratis, kenduren (wayangan), bersih kali Bengawan, dan lomba-lomba. Tentu banyak kekecewaan jika pada hari H pelaksaan tidak seperti perencaaan. Ada kupon pengobatan gratis yang awalnya kami takutkan kurang, pada hari H justru tidak lebih dari separuh warga yang menggunakan. Ada instansi terkait yang tidak totalitas membersihkan kali, ada penonton kenduren yang hadir dengan wajah kecut dan curiga, berpikir semua agenda ini ‘titipan’ orang ketiga.

Namun, pada akhirnya kami sendiri sadar bahwa BSF ini adalah memang kurang dan kurang kami persiapkan. Mungkin kami memperburuk konflik disana. Mungkin kami hanyalah asing yang menyusahkan mereka. Mungkin kami memang tidak memberikan perubahan yang nyata. Tapi aku mendengar cerita, ada pemilik rumah yang menitikkan air mata kala kami pamit pulang. Ada adek-adek TPA yang selalu sms “bakkesiningajartpalagi..” dan selalu sms seperti itu. Ada pemuda-pemuda yang selalu mengundang kami ke acara karang taruna mereka. Ada dari kami yang tanpa aku ketahui sring kembali kesana, sekedar untuk lewat, atau bahkan meberikan jajan-jajan yang tidak mahal harganya.

Dan itulah keluarga. Ada konflik dan pertentangan. Ada cerita dan kenangan. (Selesai…).

Sutakwa

20140104 1417

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s