Indofood Riset Nugraha #0 – Meyakinkan Para Profesor, Menembus Lantai Bursa Para Peneliti Muda


nutrifood
nutrifood

Mari kembali ke titik nol (0). Titik yang membawaku pada titik-titik lain selain nol. Rilis berita Nutrifood Research Centre Grant (NRC) membuatku ‘gatel’ untuk memberikan endorse buat adek-adek biar segera lari tunggang langgang ambil 1000 langkah untuk mempersiapkan dengan detil dan paripurna proposal penelitian mereka, muaranya sebagai ajuan apply proposal ke IRN dan NRC.

Pada waktu yang sama, saya juga mendapat satu materi How to write a winning grant? (lebih lanjut http://i-4.or.id/id/kuliah-online-i-4-how-to-write-a-winning-grant-proposal/). Dari salah satu pendiri pusat neurologi di Indonesia yang bekerjas ama dengan Prof Yohanes Surya. Beliau seorang neurologist lulusan kedokteran UGM yang meneruskan studi master di Japan, dan studi doktoral di USA. Namanya Irawan Satriotomo, interviewer saya di seleksi volunteer penulis buku Kisah 25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia.

Dalam tulisan ini akan saya padatkan pengalaman pribadi penyiapan proposal IRN dan pengetahuan tambahan yang saya dapat dari dokter Irawan. Akan saya bagi menjadi dua bagian, bagian teknis dan non-teknis. Kita bahas lebih dulu bagian non-teknis.

Non-teknis :

  1. Perhatikan deadline pengumpulan seluruh berkas

Kalkulasikan waktu yang tersisa dengan perkiraan kecepatan Anda dalam penyusunan proposal. Pertimbangkan mengenai studi literatur yang dalam yang harus Anda lakukan, lebih lagi jika berniat untuk melakukan percobaan / penelitian pendahuluan sederhana untuk menguji ide dan gagasan Anda – jika belum ada literatur yang cukup kuat mendukung ide Anda.

  1. Baca dengan teliti syarat dan ketentuan

Syarat dan ketentuan dalam istilah saya meliputi tema, topik, alur pendaftaran, pengiriman proposal, dan syarat umum serta syarat khusus. Pastikan menanyakan hal-hal spesifik yang tidak/belum tertera pada rilis pengumuman. Misalnya : dalam syarat peserta tertulis “peserta dapat mengajukan proposal secara individu maupun kelompok.” – tidak dijelaskan secara rinci berapa maksimal anggota kelompok, bolehkah berasal dari universitas/fakultas berbeda, bolehkah tim campur antara mahasiswa S1, S2, dan dosen. Maka sebaiknya tanyaka hal tersebut pada kontak email yang disediakan panitia. Komunikasi dengan panitia sangat penting untuk terus mendapatkan update berita yang valid dan jelas.

  1. Periksa kembali kelengkapan berkas proposal secara teliti sebelum dikirim

Baik pengiriman via pos atau via email, berkas yang dikirimkan harus lengkap dan jelas. Sangat dimungkinkan panitia memilih kelengkapan berkas terlebih dahulu sebelum melanjutkan proposal ke tahap penilaian juri.

Teknis :

  1. General

Secara umum, menurut dokter Irawan – beliau pernah memenangkan grant di US – proposal harus bersifat persuatif, ditulis jauh-jauh hari dengan riset (studi literatur) yang dalam, sesuai bidang ilmu, terencana, dan pendekatan penyelesaian masalah yang unique. Mengenai unique akan dijelaskan lebih lanjut pada poin 2 : Ide.

Dalam kasus IRN 2014, setahu saya ada lebih dari 250 proposal yang masuk. Pada akhirnya yang diterima sekitar 50 proposal. Jika dihitung secata matematis berarti 1 dari 5 proposal lolos, artinya proposal Anda minimal harus lebih baik dari pada 4 proposal yang lain. Lebih jauh, juri yang menilai ada 9 orang juri, 6 profesor, 2 PHD, dan 1 ahli pangan internal dari Indofood. Jika menggunakan sistem bagi rata, maka 1 juri akan menilai kurang lebih 27 proposal. Jika menggunakan sistem bidang keahlian / topik, dengan kepakaran tiap juri berbeda-beda, maka kita asumsikan saja tiap juri menilai kurang lebih 20 proposal. Dengan tebal proposal – jika diasumsikan menggunakan proposal ajuan saya – 40 halaman kertas A4, maka tiap juri akan menilai ±800-1000 halaman A4 selama kurang lebih 45 hari (deadline pengumpulan pertengahan April, pengumuman lolos akhir Mei).

Satu orang juri menilai lebih dari 1000 halaman A4 selama 45 hari. Dengan kesibukan mereka sebagai profesor dan peneliti senior, saya bisa katakan mustahil mereka membaca seluruh utuh bulat proposal Anda. Anda harus dapat membuat juri terpengaruh dan yakin pada ide anda, seperti di awal saya sebut bahwa proposal Anda harus persuatif.

“Dont write the grant for you/publication, but write it for the jury/reviewer… Grant is not science, it is marketing of science!”

  1. Ide

Unique, hampir seluruh lomba abad ini menyaratkan keunikan, inovasi, dan kreatifitas, beberapa lomba yang tidak mencatatkan 3 hal tersebut sebagai syarat, saya yakin dalam penilaian akan tetap menjadi 3 poin penting dan pembeda. Untuk mencapai taraf unique ini diperlukan studi literatur yang dalam, elaborasi ide dan masalah yang timbul, serta analisis tepat pada celah-celah yang belum pernah diteliti oleh orang lain. Singkatnya, selain unique haruslah otentik.

Beberapa pertanyaan yang harus Anda jawab dalam penyusunan ide diantaranya, apa masalah yang Anda angkat? Siapa yang butuh penyelesaian masalah tersebut? Kalau dilakukan penelitian, siapa saja yang mendapat keuntungan? What are you going to do? Why is it important? How are you going to do? Hal hal ini yang kemudian akan menciptakan hipotesis yang kuat didukung data yang kuat dengan pendekatan yang logis dan penyelesaian yang kreatif.

Anda harus stand out. Berbeda. Berbeda dari applicant lain. Showing expertise, dan innovative.

  1. Judul

Good proposal is good idea, and well expressed. Begitu kata dokter Irawan. Sambungnya, judul ini penting, sangat penting. Dalam kondisi terburuk (pendaftar yang sangat banyak – buruk bagi Anda), bisa saja dengan matematika juri yang saya jabarkan diatas, proposal Anda hanya akan dilihat judul dan abstraknya. Para profesor itu tidak punyak banyak waktu, mereka punya segudang riset yang lebih menguntungkan buat mereka, dibandingkan membaca/menilai puluhan lembar proposal yang anda ajukan dengan detil.

Oleh dari pada itu, Anda harus membuat judul proposal Anda catchy dan contextual. Bahasa yang padat, ringkas, menarik, dan menumbuhkan curiousity dari juri. Dalam pengalaman saya sebagai mahasiswa, dosen saya berpesan judul penelitian tidak boleh lebih dari 13 kata. Dalam kuliah lain dikatakan, judul penelitian Anda harus dapat menggambarkan garis besar ide dan solusi Anda tetang suatu masalah, secara implisit.

  1. Abstrak

Abstrak harus solid dan concise. Pada dan clear, tuliskan apa yang perlu, singkirkan apa yang kurang perlu. Itulah kenapa pada beberapa syarat call for paper kerap kali ditentukan abstrak tidak boleh lebih dari 300 kata. Menurut dosen saya, sebagai peneliti dan akademisi kita harus ‘tega-tegaan’ dalam membuat abstrak. Meng-cut data dan kata pendukung yang mungkin vital untuk maksud abstrak kita, dan menggantinya dnegan data dan kata utama yang sangat vital. Dont too wordy, kata dokter Irawan. Mesti struktural (runtut dan urut – latar belakang, masalah, kemudian selanjutnya data, tujuan, metode, hipotesis – dalam beberapa paragraf padat – idealnya 3 paragraf).

Jangan lupa menunjukkan ke-unique­-an proposal Anda via abstrak ini, lewat satu dua kalimat yang enunjukkan significant innovation yang Anda tawarkan dalam cara penyelesaian masalah. Gunakan bold, italic, atau underline untuk beberapa kata kunci yang krusial, tapi jangan terlalu banyak, ia disebut kata kunci karena jumlahnya yang sedikit dan sangat penting. Sentuhan terakhir, minta pendapat kolega/kawan/dosen Anda mengenai abstrak yang Anda buat. Less is more, simple and clear.

  1. Tujuan

Ini adalah bagian penting, sangat penting. Mungkin bagian tujuan ini hanya memakan tidak lebih dari satu halaman penuh dari berpuluh-puluh proposal penelitian Anda, namun saat Audit IRN Tahap 1, para profesor sangat menekankan dan menggarisbawahi bagian ini. Ada beberapa penelitian yang mentok, dianggap tidak masuk akal, output tidak terlalu bagus, dan sebagainya. Pada akhirnya juri membolehkan merubah bagian lain pada proposal, kecuali tujuan ini, karena kata mereka, pada prinsipnya penelitian dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditulis. Maka berhati-hatilah dalam menulis redaksional tujuan penelitian. Hal tersebut, berdasarkan pengalaman saya di IRN. Program hibah yang lain dengan juri yang lain sangat mungkin berbeda kebijakannya.

Harus terlihat jelas apa problemnya. Flow and logic. Dapat juga tersirat/tersurat outcome mengenai penelitian yang Anda lakukan. Ada dua tipe penulisan tujuan. Pertama, dengan poin per poin – ditulis dengan 1, 2, dan seterusnya. Kedua, pada satu dua paragraf padat dengan beda isi paragraf. Misalnya, paragraf pertama menceritakan tujuan pertama, paragraf kedua menjelaskan tujuan selanjutnya, dan seterusnya.

  1. Budget

Dalam detil penilaian, bagian biaya penelitian harus dicantumkan. Dari bagian ini juri akan melihat apakah Anda menyusun biaya dengan detil, ataukah ngawur. Terlebih lagi juri adalah profesional dan pakar dibidangnya, seperti yang pada pembahasan awal telah saya sebutkan tentang juri yang mayoritas bergelar guru besar.

Pembagian biaya penelitian dapat diurai menjadi beberapa bagian, misalnya biaya untuk bahan penelitian, biaya alat (pengadaan alat dan/atau sewa alat, sewa laboratorium), biaya pengujian sampel penelitian, biaya transportasi. Dalam materi oleh dokter Irawan disampaikan pula kita dapat memasukkan biaya honorer peneliti dan anggota. Jika penelitian berdurasi sangat panjang, maka cukup logic jika biaya honor juga dimasukkan.

  1. Curriculum Vitae

Mungkin bagian CV hanya bagian penilaian tambahan, namun dalam persaingan grant yang ketat, bagian ini akan menjadi poin fatal yang menentukan lolos tidaknya propsal Anda. Lebih dari itu juri ingin tahu siapa Anda, apa pengalaman Anda, penelitian apa yang pernah Anda lakukan. Anda mesti showing expertise.

Tuliskan pengalaman Anda, tulis yang sesuai keperluan, let them know your hole experience. Tapi jangan tunjukkan yang sama sekali tanpa hubungannya. Misalkan grant tentang pangan, maka tunjukkan prestasi Anda di bidang pangan, misal pernah menjuarai lomba karya tulis/esai bertema pangan. Tuliskan juga pengalaman menjadi asisten praktikum, kunjungan ke perusahaan pangan. Dan hal-hal lain yang sekiranya dapat membuat juri mempercayai Anda bahwa Anda dapat menjalankan penelitian Anda sesuai dengan proposal yang Anda ajukan.

Bagian latar belakang, tinjauan pustaka, metode, dan lainnya tidak saya bahas karena bagian-bagian yang saya bahas diatas cukup mewakili bagian yang tidak saya bahas. Misalkan saja bagian abstrak sebenarnya mewakili bagian-bagian yang tidak saya bahas, hanya saja dalam versi ringkas. Yang perlu benar-benar ditekankan adalah Anda harus melakukan studi literatur yang cermat, dalam, dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahan teoritis yang fatal. Ketidaksesuaian hasil penelitian dan teori bukanlah problem, namun kesalahan teori dibandingkan hasil penelitian adalah petaka. Menunjukkan Anda tidak mendalami topik penelitian secara serius.

Sebenarnya masih banyak yang mesti dijelaskan lebih lanjut terkait pembuatan proposal hibah penelitian, oleh karena itu jika pembaca merasa tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, saya menyediakan sarana konsultasi via email adi.sutakwa@student.uns.ac.id atau akun facebook Adi Sutakwa. Terima kasih, semoga Anda mendapatkan manfaat.

Adi Sutakwa

20140107 0938

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s