Sadar Indonesia


republika.co.id
republika.co.id

Dalam satu kesadaran yang penuh, pada persepsi global mungkin sangat sulit membayangkan ada negeri semacam Indonesia. Bayangkan saja, sejarah mencatat 350 tahun lebih orang Belanda menetap di Indonesia – meski bukan berarti menjajah 350 tahun, namun dalam beberapa puluh tahun terakhir selama 350 tahun itu banyak putra dan putri Indonesia menggali status keilmuan disana, bahkan pada data 2014 menurut Nuffic Neso 2011-2012 ada 1200-an mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh higher education-nya disana. Tahun 2015?

Jelas lebih banyak. Berkait dengan Jepang? Lebih ekstrim lagi. Ada sekitar 2276 mahasiswa yang belajar dan beberapa menetap disana hingga kini (per 1 Mei 2013 ; Konsul Muda Jepang Takayuki Kawai). Ekstrim karena disana sini semua anak di seluruh Indonesia setidaknya pernah menonton produk hiburan – yang sekaligus kampanye budaya – buatan Jepang (Ultraman, Anime, dll). Ekstrim karena yang awalnya festival jejepangan hanya menjamur di kota-kota besar, kini bahkan rutin membanjiri kota-kota tingkat dua sekelas kabupaten.

Itu baru secuil potret masa kini yang dicuplik dari logika sejarah, tidak akan masuk pada logika orang China yang hingga kini memusuhi Jepang, orang India dan Pakistan yang bahkan di India seorang anak bisa saja dibunuh orangtuanya jika ‘murtad’ menjadi Muslim, orang Korea Selatan dan Korea Utara yang terus menerus larut pada perang dingin dan perang media berkutat pada tema nuklir dan senjata pemusnah massal, juga Jepang pada Amerika yang bahkan harus susah payah me-media-kan status “tidak bergabung dengan Amerika” dalam upaya penanganan ISIS secara militer – meski kabarnya satu warganya telah dipaksa membunuh warganya yang lain dalam satu paket penyanderaan dua orang. Jepang memilih berdalih akan turut membantu penanganan ISIS dengan cara mengirimkan bantuan ke negara-negara yang secara langsung terkena dampak negatif pergerakan ISIS – daerah Syria, Iran, dan sekitarnya. Banyak lagi sentimen lain, antara Inggris dengan Perancis, Rusia pada Amerika, dan banyak negara pecahan Soviet pada Rusia. Betapa dendam perang mendarah daging pada hal yang sangat kecil, bagi mereka bangsa-bangsa non-Indonesia. Logika sejarah, tidak pernah bisa in pada akal pikir orang Indonesia.

Menyadari Indonesia, tidak akan kelar meski mungkin menghabiskan seumur hidup. Mungkin inilah negara yang paling sadar politik dari seluruh negara demokrasi maupun non-demokrasi di jagad bumi. Mulai dari makanan pokoknya (beras, dan 4 sehat 5 sempurna), hingga rumah, gedung, bahkan prinsip hidupnya. Bagaimana tidak, beras yang selama ini digaungkan seolah produk asli Indonesia, berasal dari Filipina, ia bermula pada orde baru yang menjadikan ‘4 sehat 5 sempurna’ sebagai alat politik, hingga ‘nglotok’ sampai sekarang. Manusia Indonesia, kalau belum makan nasi, belum ‘makan’ katanya. Dengan premis tersebut, maka semua barang tentang swasembada beras, dan lainnya juga alat politik. Yang dalam sisi tertentu membunuh keanekaragaman makanan daerah dan pedalaman, yang masih bertahan? Tentu saja Sagu, untuk orang Indonesia wilayah timur. Melewati milenium, masyarakat pekerja – masyarakat kota – melabeli diri mereka sebagai masyarakat modern. Seiring masuk produk makanan cepat saji, secepat itu pula masyarakat kota bertransformasi menjadi ‘masyarakat luar negeri’. Para produsen produk-produk pangan (yang mayoritas berasal dari luar negeri) tentu saja lebih banyak mencipta pangan yang ‘ramah turis’, izin masuk perusahaan-perusahaan ini-pun, produk ‘deal-deal-an’ politik. Jadilah masyarakat indonesia sebagai turis di negeri sendiri, membayar mahal untuk negeri seberang lautan. Logika nasionalisme, tidak pernah bisa in pada akal pikir orang Indonesia.

Gambar besar Indonesia tidak bisa dirasakan lewat fotografi seindah apapun. Kita mesti masuk sendiri pada gang-gang kumuh yang banjir tiap Januari dan Februari – kadang hingga Maret. Kita harus hidup minimal 45 hari ditengah masyarakat desa menengah untuk hanya sekedar ‘tau’ bagaimana uang membunuh gotong royong. Kita pasti baru tahu bagaimana hidup petani murni dengan mendaki gegugungan pehamparan lahan pertanian, yang keringatnya mengharumi buah dan sayur kuaitas tinggi, namun hartanya tidak pernah genap hanya untuk membiayai anak-anak mereka kuliah. Kita tidak diragukan lagi hanya bisa tahu asin manis sedapnya tuna dan lobster ekspor tidak senikmat hidangan makan malam para pelaut lokal yang mempertaruhkan sengal nafas diantara petir dan badai.

Inilah Indonesia, yang lantai dua musala dan mesjid dijadikan tempat pengungsian. Benarlah mereka mungkin meneladani manajemen masjid zaman Rasulullah, menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan agama, dan sosial ; menjadikan masjid sebagai benteng pertahanan terakhir. Tapi sayang, tidak beserta utuh akhlak Rasulullah diteladani. Hingga rumah Allah dijadikan tempat bernaung, bukan tempat bersujud. Terdengar keras mengganggu mengalahkan suara imam, cekcok ‘tempat tidur’ rebutan antar pengungsi. Bahkan, logika agama, tidak pernah bisa in pada akal pikir orang Indonesia.

Masih banyak, banyak tersisa, membludak, baik yang baru saja sirna dan akan menghilang. Inilah Indonesia yang tidak habis, yang senantiasa senang bahagia, meski berkubang dalam lumpur, bermandikan darah, tak bernaung, tak berarah.

Sutakwa

20150209

*Banjir. Gang kumuh Kelurahan Lagoa, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s