Manusia Berkebutuhan Khusus (1)


Indeed, those who have believed and emigrated and fought with their wealth and lives in the cause of Allah and those who gave shelter and aided – they are allies of one another. But those who believed and did not emigrate – for you there is no guardianship of them until they emigrate. And if they seek help of you for the religion, then you must help, except against a people between yourselves and whom is a treaty. And Allah is Seeing of what you do.” – Al Anfal : 72

Maka dimanakah keberadaan kita?

Pada golongan yang beriman? Pada gololongan yang beriman dan berhijrah? Atau pada golongan yang beriman, berhijrah, dan bahkan telah mencapai derajat bersungguh di jalan Allah?

Judul tulisan ini tidak sedikitpun berniat memberikan kesan diskriminasi pada mereka yang diberikan “alternatif jalan lain” dalam beribadah kepada Allah terkait kekhususan fisik ataupun mental mereka. Bahkan Rasulullah shalallahualaihi wassalam pun memberikan pilihan pada seorang perempuan epileptik yang selalu terbuka auratnya ketika kambuh penyakitnya. Memilih didoakan sembuh atau bersabar dan mendapatkan surga.

Dalam kesadaran golongan, sangat susah untuk menerima keanehan dan ketidakmasukdiakalan golongan lain dalam hal ijtihad 1001 perkara agama kita, Islam. Golongan A menganggap amalan rutin golongan B sebagai sesuatu yang tanpa tuntunan. Golongan lain menyebut golongan A tidak sesuai niatan awal pada urusan politik. Golongan lainnya lagi sibuk menutup diri dengan faham keharusan kekhilafahan saat ini dan harus segera saat ini. Golongan lainnya lagi susah dalam persepsi masyarakat, disebut ekstrimis dan tidak terjangkau pada pikiran rusak masyarakat yang kacau ini. Dalam satuan pandangan golongan itu, saya melihat adanya sebuah kemusykilan dalam ber-jamaatul muslimin.

Apakah kita lupa untuk mengingat salah satu sifat Allah yang Maha Mencipta? Sejauh yang saya tahu, organisme hidup di bumi ini, baik dalam bentuk organisme sederhana maupun organisme kompleks tidak pernah mempunyai tingkat identik 100%. Apalagi jika mengenai psikologi manusia yang jauh lebih kompleks ulasannya sejak zaman Nabi hingga saat keturunan Rasulullah shalallahualaihi wassalam kelak turun mengimami seluruh muslim dengan salat yang paling benar.

Pada keadaan musykil semacam itu, maka juga merupakan sesuatu yang musykil untuk menyamaratakan perlakuan pada satu manusia dan manusia lainnya. Baik dalam hal pengajaran, penceritaan sejarah, persepsi, dan toleransi baik buruk.

Golongan yang beriman, diartikan secara padat dan kuat sebagai orang-orang yang mempercayai Allah dan Rasulullah, dalam bahasa pra-Islam, disebut bertauhid. Logika bertuhan adalah logika dasar yang telah ditanamkan Allah pada para janin sebelum mereka lahir. Maka adalah sebuah penyangkalan konyol jika ada orang yang mengaku dirinya tidak pernah tersirat sebuah pertanyaan tentang penciptaan, atau asal diri.

Golongan yang berhijrah, inilah golongan yang sangat luas panjang lebar dan tinggi. Berhijrah adalah berpindah. Dari hitam pada abu-abu, dari abu-abu menuju putih. Dari tahu menjadi ingin tahu, dari ingin tahu mewujud bersungguh mencari tahu, dari kesungguhan pencarian menjadi ketetapan belajar pada Islam. Pernah suatu kali saya diceritakan, bahwa para Liberalis di Indonesia adalah orang Liberal yang lapar. Sebuah penuturan otentik dari mereka yang berjalan pada jalur Liberal, mereka butuh uang untuk menghidupi keluarga, dan mereka dibayar untuk mengatakan hal-hal ideologi tentang Islam Liberal. Mereka bukan Liberalis yang ideologis, mereka hanya lapar. Maka barangkali para muslim ahlus sunnah juga berperan dalam keliberalan mereka, seperti seorang muslim kaya yang disalahkan oleh Amirul Mukmin Umar ibn Khathab karena tetangganya mencuri barangnya, padahal mestinya satu muslim dengan lainnya saling menanggung. Orang-orang Liberal ini, berkebutuhan khusus.

Mengenai kebutuhan khusus. Saya sendiri mengakui bahwa saya lebih cocok dan masuk paham mengerti jika menyimak pengajaran ustad muda yang segar dengan beberapa guyon satir, dengan penjabaran historis pada zaman Nabi dan Sahabat. Atau menyimak pengajaran ustad senior berpengalaman tingkat tinggi dengan banyak kiasan sarkasme yang halus menohok rasa sesal dan ingin tahu, pun dengan pancingan historis mengenai banyak pengalaman nyata mereka dengan bacaannya, dengan peran nyata mereka sebagai pelaku sejarah. Maka saya ini, berkebutuhan khusus. Saya perlu dan lebih efektif mendapatkan pengajaran dengan cara penelusuran historis dan beberapa taburan kiasan.

Pun ada orang yang membutuhkan motivasi tentang khilafah agar pengajaran Islam masuk dalam benaknya. Ada orang yang membutuhkan shalawatan agar petuah hadist dan intisari Qurani melesap dalam relung hatinya. Ada orang yang cukup membaca buku tentang Nabi dan shahabah Nabi untuk mendekatkan diri pada Diin menuju kaffah. Ada orang yang perlu dipuji untuk menyegarkan dan menyemangatkan diri dalam konsistensi ibadah. Bukankah itu semua bentuk hijrah mereka? Bukankah itu semua pencarian mereka akan ketenangan Islam? Karena memang jalan itu yang (mungkin) mesti mereka tempuh, jalan itu yang sesuai dengan pikiran dan akal mereka. Jalan itu yang meresap membasahi kering hati mereka. Itulah jalan Hijrah mereka. Hampir sama dengan Tjokroaminoto yang berhijrah lewat gerakan kemanusiaan dan perburuhan. Sama seperti jalan ribuan manusia lain, sama seperti jalan para mahasiswa harokah yang lantang dan tetap pada caranya berdiskusi, lantas beraksi. Maka itulah jalan Hijrah.

Bukankah apapun yang membuat hati kita dekat dengan Allah adalah sebuah kebaikan? Lantas bagaimana kebaikan ini bisa disebut bukan Hijrah? Then it is, those who have emigrated.

Sutakwa 20150609 1818

Advertisements

One thought on “Manusia Berkebutuhan Khusus (1)

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s