Manusia Berkebutuhan Khusus (2)


Musykil. Menyamaratakan manusia adalah sebuah kemustahilan yang hampir-hampir seperti meniadakan sifat Allah Yang Maha Pencipta. Telah saya bahas di Manusia Berkebutuhan Khusus (1), penyamarataan manusia sama seperti melupakan Allah Yang Maha Menciptakan. Lantas saat golongan lain tak bisa sama rata, dikata bid’ah, dikata musyrik, kafir, syubhat, dan dipojokkan sejadi-jadinya, dijatuhkan kehormatannya sejadi-jadinya. Pada ia sesungguhnya tidak benar-benar tahu. Pada ia sesungguhnya tidak pernah tahu.

Apakah lupa ia pada Rasulnya yang tidak menyamaratakan sahabat hingga pada hal ibadah sekalipun, hingga pada hal panjang pendek bacaan salat, pun pada hal besar kecil nilai harta sedekah. Tidakkah mereka belajar pada Rasulullah shalallahualaihi wassalam? Allah Azza wa Jalla barangkali ingin kita sedikit menggunakan akal, bukan melulu pikiran. Bedakan akal dan pikiran, bukankah dalam Quran juga disebut dua kata berbeda yang diartikan sama oleh lembaga terjemah Quran? Berakal dan Berpikir. Maka mari gunakanlah akal, Allah mungkin saja ingin membuat kita bersyukur pada keadaan musykil itu, bahwa Ia ingin menunjukkan sungguh Allah Yang Maha Pencipta dapat mencipta segala apa yang unique tanpa identical.

Pada sebuah forum umum yang telah berjalan lebih dari 15 tahun, bahkan lahir sebelum janin janin ‘pemaksa’ reformasi lahir. Hadir seorang biasa yang sering dicitrakan oleh media sebagai budayawan, jurnalis senior, dalang, penulis buku, figur yang sangat terkenal di kalangan muda. Pada forum itu, lebih banyak dibicarakan perkara umum keseharian, namun selalu bermuara pada ajakan mendekartkan diri pada Allah. Media kadang membesar-besarkan judul dengan menyebut pemilik forum adalah kyai mbeling, kami lebih senang dalam satir menyebutnya konco lungguh, ‘teman duduk’ saja. Maka budayawan itu berkata – setelah bahasan panjang tentang Quran, dan Salat – “Aku seneng dan tentrem baca Quran, tapi entah kenapa salat ki dudu aku, aku merasa salat itu bukan diriku”. Pendengar terdiam, berpikir dan mengira hujjah atau endorse dari ‘sang teman duduk’ untuk menguatkan dengan kekata motivasi tentang salat dan kemuliannya, tentang pahalanya, atau barangkali menakut-nakuti tentang hal pertama yang ditanyakan pada hari pertanyaan. Sang ‘teman duduk’ juga sepersekian detik terdiam, dikira oleh pendengar barangkali sedang menata kata untuk budayawan bingung ini.

Ora popo jo, kowe ki sedang berhijrah. Kamu sedang mencari. Tidak banyak yang berani  mengaku saat ditanya satu lawan satu tentang kontinuitas salatnya. Kowe malah ngaku tegas neng forum luas ngene yen kowe ora salat. Nggak semua orang berani ngaku ngono. Kuwi hijrahmu. Pada saatnya nanti, yen neng ayat innalladzina amanu wahajaru wajahadu.. kui kowe dalam keadaan hajaru. Kowe wes yakin karo islam, wes amanu, beriman. Wes seneng moco Quran, saiki dalam kondisi hajaru, lagi berhijrah. Dari sebelumnya ora nggenah kae, dadi berhijrah koyo ngene.” Dan sungguh, saya membaca sirat ketidak-menyangkaan pada seluruh wajah pendengar.

Inilah hijrah. Berhijrah adalah berpindah. Dari hitam pada abu-abu, dari abu-abu menuju putih. Dari tahu menjadi ingin tahu, dari ingin tahu mewujud bersungguh mencari tahu, dari kesungguhan pencarian menjadi ketetapan belajar pada Islam. Pada mungkin si budayawan dalam keadaan mencari. Dan biarkan ia mencari. Berikan satu dua kata penunjang keingintahuannya, jangan berikan jawabannya. Biar ia terus mencari, biar ia menemukan sendiri Islam yang kaffah menentramkannya. Biar ia dibimbing oleh janji ‘Allah yang akan berlari padamu jika engkau berjalan mendekati-Nya’. Karena memberikan jawaban pada orang pintar hanya membuatnya menyepelekan itu, seperti seorang siswa olimpiade matematika yang diberikan sebarang bocoran soal UN matematika. Uninteresting waste, it’s not challenging anymore.

Banyak hal syubhat di dunia ini. Lebih parah dengan globalisasi dan perkembangan teknologi. Akui saja, pada hal-hal abu-abu kita lebih banyak meyakini sesuatu yang jare-jare atau kata-katanya. Ketimbang sesuatu yang kita alami sendiri dan saksikan sendiri. Bahkan dari yang kita saksikan sendiri itupun tidak 100% terlihat nyata begitu adanya, maka masih ada kemungkinan bahwa yang kita saksikan itu pun tidak 100% akurat. Apalagi yang hanya jare-jare, lebih parah lagi tingkat akurasi kebenarannya. Akui saja.

Sungguh berislam adalah hal yang sangat sederhana bagi para calon pemeluknya. Dan jauh lebih sederhana bagi para pemeluknya yang mainstream. Ia hanya perlu salat, puasa, zakat. Itu yang mereka tahu. Bahkan zakat pun tidak terkelola dan terlaksana dengan semestinya hingga masih ada fakir dan miskin di bangsa kaya segala ini. Islam menjadi sungguh sangat sederhana, salat dan puasa. Dan salat pun masih banyak yang molor mepet di akhir waktu, beberapa banyak lagi yang lewat waktu hingga matahari membuncah merah. Jadilah islam sangat sangat sederhana, ‘kelihatan’ puasa di bulan Ramadhan. Cukup ‘kelihatan’ saja, tanpa perlu sungguh-sungguh berpuasa menahan diri. Toh Cuma Allah yang tahu. Islam sangat mudah, sangat sederhana.

Tapi ingat, engkau akan menangis jika sekali tertanya dalam relung akal dan hati. Sudah benarkah salatku? Puasaku? Zakatku? Engkau menangis melihat para muallaf menjadi ustad. Engkau menangis memahami para ilmuwan menjadi muslim karena penemuannya tentang kauniyah Allah. Engkau kemudian menangis lebih hebat kala mendengar kata Kaffah. Engkau meratap pada buku berjudul Tazkiyatun Nafs. Engkau menangis membaca Siroh Nabawi, engkau haru membaca tafsir Quran. Engkau sakit hati ketika tahu berbagai adab yang tidak pernah engkau pelajari dengan serius. Engkau gigit jari. Adab bertetangga, adab berilmu, adab bergaul dengan lawan jenis, adab makan, adab bergaul dengan istri, adab tidur, adab hidupmu dari bangun dari tidur hingga tidur kembali. Engkau tertusuk. Engkau menjadi istiqomah. Engkau kemudian mempelajari sejarah, engkau ingin tahu soal asbab Quran, engkau ingin tahu soal Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, engkau ingin tahu soal peristiwa Aisyah dan Ali, engkau perlu tahu soal peristiwa Ali dan Muawiyah, engkau harus tau soal Mahzab, soal sejarah Fiqih, mengenai kodifikasi Quran oleh Hajjaj. Hingga Mehmed II, hingga Saladin, hingga Cordoba. Mencapai Samudra Pasai, merambah Diponegoro, Ahmad Dahlan, segalanya. Engkau harus tau segalanya yang mungkin dan dapat engkau tahu tentang Islam. Maka kemudian engkau menangis sejadi-jadinya. Engkau menagis. Engkau tahu bahwa sungguh Islam tidak sesederhana itu. Islam tidak hanya salat, puasa, zakat. Engkau menangis mengenali setan apa yang merasuk hingga pernah jahal menganggap Islam itu cukup salat, puasa, zakat. Dan menangislah engkau setiap malam, semacam pesakitan. Namun, garang dan istiqomah penuh ketegakkan sepanjang siang. Seperti singa. Itulah Islam yang engkau kenali, mesti engkau kaffahi.

Sutakwa 20150613 0154

Dalam diam

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s