Menerjemahkan Ibu


dok. pribadi

Judul Buku     : Mengeja Cahaya Surga

Penulis            : Nassirun Pourwokartun, dkk

Penerbit         : Ar-Rijal

Harga              : –

Tahun Terbit : 2015

Ukuran           : 14 x 20,5 (cm)

Tebal              : 220 halaman

Buku Mengeja Cahaya Surga bagi saya adalah buku yang sama sekali baru dan segar. Baru dan segar baik dari konsep tampilan, cerita dibalik pembuatannya, serta komposisi isi bukunya. Menampilkan kursi nyaman yang sederhana dan bersih, halaman cover buku ini seolah mengajak kita menerka kenyamanan di sudut pikiran tentang rumah dan keluarga, menerawang ke belakang jauh dari suasana perantauan pada tempat bernama rumah yang tenang dan penuh manja kasih sayang. Notasi kecil berbunyi “tinjauan fikih, psikologi, dan parenting” membuat saya mengernyitkan dahi,

bagaimana jadinya buku kumpulan esai dan kisah yang diramu dengan tinjauan ilmiah dan fikih?

Di bagian awal, tinjauan fikh di-jlentreh-kan sebagai penguat pondasi dalam berkewajiban berbakti. Diramu dengan kumpulan cerita yang membuat duduk menjadi lebih tetap. Ada kisah tentang buku dan ibu, tentang bagaimana masa kecil penulis tumbuh dalam keluarga buta aksara. Ada kisah tentang romantisme haru keterkurangan ekonomi dan perjuangan pendidikan, diramu dengan penuturan yang merendah namun menggugah. Pun ada cerita dari benua biru, dari Kota Wuppertal, dimana salah seorang penulis pernah belajar dan hidup sekali waktu di sana, mendalami dan mengamati muslim minoritas dan membayangkan lewat penuturan yang tak terbayangkan, hidup seorang anak dan keluarga jauh dari ras, budaya, bahasa, hingga agama.

Bagi saya, hidup dengan ibu adalah kejutan yang mengejutkan pada setiap jejak kehidupan saya. Saya yang kecil itu tidak mengerti bagaimana dan mesti bersikap seperti apa pada sosok yang disebut Ayah. Iya, Ayah saya “diamankan” oleh Allah saat usia saya 40 hari. Saya membayangkan mungkin saat itu kulit saya tidaklah merah seperti frasa bayi merah yang kerap digunakan sebagai katalis dramatisir cerita anak yatim. Itu juga didukung dengan semua orang diluar keluarga yang selalu bilang “bocahka, kaya bapane yo..”, dan tidak pernah saya saya tahu Ayah atau Bapak itu seperti apa, tentu saja saya tahu dari foto pernikahan Ibu dan Bapak, tapi hanya itu, itu saja.

Ibu pernah sekali dua bercerita, didatangi Bapak, lewat mimpi. Saya hanya diam mengangguk, mau bilang apa? Saya memang selalu bingung harus bilang apa kalau Ibu berceritera tentang Bapak. Kata Ibu, Bapak suka sambel, es, dan makanan yang disaji dalam kondisi panas atau anget. Kata Ibu, bapak suka ngutak-utik barang-barang elektronik, sampai bisa bikin jam, salon (speaker / woofer / pengeras suara), radio, hingga televisi sendiri. Keterampilan itu diwarisi keponakan Ibu, yang selalu “merecoki” om-nya saat merakit sesuatu. Yang aku warisi adalah tidak nafsu makan kalau tidak ada sambel, dan keluar kos tengah malam mencari es teh sebagai pendamai hati yang sedang rewel.

Ibu juga bilang dengan rona sendu bercampur canda, katanya pernah saya “ditawar orang” senilai dua juta rupiah. Tahun 90-an uang dua juta rupiah, entah berapa nilainya sekarang, mengingat tahun 98 saja nilai 1 dolar menembus 20.000 rupiah. Tapi Ibu menolaknya, ah Ibu, banyak tentang engkau yang selalu menjadi nilai dan makna yang mengejutkan pada hari-hari dewasaku. Menerjemahkan Ibu, adalah bahasa yang paling rumit dan sulit untuk saya teliti, merasa damainya lebih mudah dan menentramkan nurani. Dan melihat ‘iklan’ Kisah Ayah di akhir buku ini, ah rasanya ingin aku berandai lantas menarikannya lewat frasa-frasa cinta tentang percakan kita di awang-awang, Ayah.

Tebal dan dimensi buku yang cocok untuk dibaca sekali duduk, dirangkai dengan ilustrasi yang soft disepanjang isi buku cukup bagus. Namun, beberapa puluh halaman sepertinya mengalami kesalahan cetak, sehingga ilustrasi yang mestinya menjadi selingan yang menyejukkan indera visual justru tidak tercetak dimulai dari halaman 88 hingga halaman 108. Hal ini memberikan kesan “Apakah pihak penerbit tidak melakukan Quality Control pada setiap buku yang akan dilepas ke pasar?”. Atau mungkin kesalahan cetak ini hanya didapat pada buku-buku ‘gratis’ yang saya dapatkan dari acara khusus saja? Kalau seandainya begitu nyata, ini justru bagus, karena berarti buku yang beredar pasti tidak mengalami salah cetak.

Sutakwa 20150626 2155

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s