Pendidikan, dan Jawa: Hajar, dan Emha [Bagian 1]


gambar dari idzsn.com
gambar dari idzsn.com

Dikatakan bahwa Ki Hajar Dewantoro telah menyarikan tetes-tetes inti pendidikan Indonesia lewat Taman Siswa kala itu. Bahkan jauh ia telah memikirkan tentang akselerasi SD ke PT dan pendidikan semacam apa yang patut dan pantas pas untuk manusia Indonesia setelah merdeka. Pada tahun 1905 Ki Hajar menggagas demo besar pada VOC sebagai respon atas kebrutalan VOC yang memaksakan kooptasi pengetahuan antar akaum pribumi (warga Indonesia sebelum merdeka) dengan kaum keturunan Belanda yang menetap di Indonesia saat itu.

Kita mengenal jargon Tut Wuri Handayani saat ini, hanya Tut Wuri Handayani. Dalam bahasa nyinyirnya, “dewe mung kon melu neng mburi tok, meneng o, melu o, nurut o”. Perkara itu salah, perkara itu mudharat, perkara itu nggawe goblok bukan soal, dan bahkan ditidurkan, dibuat mimpi, ben ora ngerti kuwi bechik opo ala hakikat e. Kita tidak diharuskan kenal Ing Ngarso Sung Tuladha, apalagi Ing Madya Mangun Karsa. Maka jadilah tumbuh anggapan bahwa arti Tut Wuri Handayani itu sudah merupa keparipurnaan, lengkap, genap. Anggapan itu menggurita, men-dasawarsa, men-dekade. Jadilah seperti ini warga Indonesia, mayoritas mereka hanya ngikut saja. Maka mereka tidak pernah mengenal sikap berani didepan memberi contoh yang benar, apalagi membesarkan hati para golongan menengah yang memayoritasi pertumbumbuhan Indonesia.

Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani adalah konsep luas tentang pendidikan menyikapi hidup yang dipadatkan dalam metafora sastra bahasa jawi kelas tinggi. Ia berarti sebagai gerakan kesadaran yang sekaligus mendidik para pemegang harta intelektual dan para rakyat menengah. Ia mengajarkan pada kita untuk memulai di depan dengan memberikan contoh yang sejati, posisi depan yang berat dan sangat menggoda karena akses pada kekuasaan, kekuatan, dan keterjaminannya dalam segala hal. Kita dimaksudkan di depan untuk menjadi uswatun khasanah.

Namun Ngarso yang diajarkan Ki Hajar patutnya juga harus menjadi Madya. Ia tidak lagi ngendas-ndasi tapi turut membangun sebagai gerakan massal dalam karya dan maslahat bersama, maka ketika itulah ia yang berawal di depan melebur bersama rakyat menengah memperkuat barisan tengah yang membangun dengan benar. Hingga pada kondisi itu tidak dapat disebut siapa yang di depan, siapa yang di tengah, dan siapa yang dibelakang. Ia telah nyawiji, ia melegenda, tapi tak kemudian menjadi mitologi. Jikapun ia disepuhkan maka itu hanya sebagai simbol penengah kemungkinan kekacauan, dan keputusan besar tentang maslahat orang banyak haruslah diputuskan bersama, bukan lagi menjadi kuasanya.

Dan muara dari keagungan gagas Ki Hajar ini adalah Wuri. Ketika golongan menengah telah mandiri dengan karsa-nya maka mundurlah perlahan, tugasmu sekarang hanya mengawasi akidah dan hakikat mereka, jika ide dan caranya berbeda dengan perhitunganmu, biarkanlah mereka. Kerena mereka manusia, mereka berkembang dengan keputusan ijtihad mereka. Inilah pelajaran terbesar bagi ia yang mengawali kebangkitan sebagai Ngarso, lantas kemudian meredam kesombongan dan nafsu untuk menjadi Madya, malah lantas membunuh dan meniadakan hasrat dan sirat kekuasaan itu sendiri dengan bersembunyi sebagai Wuri. Transformasi Ngarso-Madya-Wuri inilah yang mestinya dipahami oleh mereka yang ber-jahadu dengan tulus berniat membangkitkan bangsa ini. Ia harus paham, Anda harus mengerti bung, niat saja tidak cukup. Allah memang menghitung niat, tapi yang membuat perubahan adalah sikap. Maka ketika Anda meluruskan niat, gariskanlah sikapmu juga sejajar segaris dengan niatmu.

Dalam kondisi semacam ini kita juga diingatkan untuk memilih dan menerka mana kira yang akan terjadi pada bangsa ini. Akankah menjadi “mati siji mati kabeh; mukti siji mati kabeh; mati siji mukti kabeh; atau mukti siji mukti kabeh”. Jika nalar kita memilih mukti siji mukti kabeh barangkali itu nalar ideal, dan hanya akan terwujud bersama turunnya sang Imam bernama Muhammad bin Abdullah galur asli Rasulullah shalallahualai wassalam. Barangkali saya juga memilih menyerahkan pada Anda dan pilihan Anda tentang liarnya 4 resolusi bangsa ini. Karena saya juga memilih akhir untuk diri saya sendiri, dan saya mempersiapkan diri untuk akhir yang saya pilih. Jadi, pertanyaannya apakah Anda hanya memilih kemudian mempersiapkannya, ataukah Anda hanya memilih, menggerutu, dan menunggu hasilnya? Dirimu di masa depan, adalah apa yang kau lakukan saat ini bung.

Kita mesti punya skala prioritas dalam bersikap. Apalagi jika sikap itu berkelindan dengan masa depan kita. Kita mesti tentukan mana yang mesti kita tunduk, dan mana yang harus kita lawan. Anda bisa belajar pada orang Jawa soal ini. Orang Jawa adalah pemilik epistema manggraito kabudayan manungso. Ia (orang Jawa) bisa mengukur dan menilai dengan roso yang tepat dalam bersikap pada suatu keniscayaan atau kemusykilan. Maka hanya dengan Bismillah pun ia madheg mantep mengahadapi apapun. Habis PHK, ndak punya uang, arep nikah, wes pokok e bismillah… Hidup dengan 100rb bismillah, dengan 50rb bismillah, bahkah gak ono duit pun yo tetep bismillah. Jan jan e iki wong jowo ki wes koyo poro sahabat Badar. Madheg mantep. Orang Jawa sejati di pedesaan yang jauh dari kota akan tetap bisa hidup dengan karsa mereka sendiri, dengan atau tanpa pemerintah. Kadang ki malah pemerintah sing malah ngrecoki, pajak-lah, sertifikat tanah-lah, jalan aspal-lah, tv-lah, sekolah-lah, ndobos kabeh, nggawe bubrah kemandirian wong Jowo tenanan. Masyarakat budaya yang mandiri dan terpencil dipaksa “bergantung” pada pemerintah, dipaksa keluar dari keadaan awal mereka yang telah makmur sejahtera. Dipaksa menuruti definisi sesat “kemakmuran dan kesejahteraan” rekaan reportoir drama busuk pemegang kekuasaan. Dipaksa memilih mati siji mati kabeh oleh pemerintah.

Bukan berarti saya tidak setuju bahwa orang desa membutuhkan pendidikan. Tapi pemerintah harus sadar bahwa setiap daerah dan setiap kebudayaan mempunyai caranya sendiri dalam berpendidikan. Mereka juga membutuhkan sesuatu hal dan tidak membutuhkan yang lain. Maka dalam hal ini segala bentuk penyeragaman baik pendidikan, politik, dan nilai-nilai dasar dalam bernegara sesungguhnya telah membunuh HAM itu sendiri – kalau pemerintah menghormati HAM. Sedang bagi saya, HAM itu cuma rekaan untuk melariskan demokrasi. Karena jika saja manusia mau jujur dan adil sedari pikirannya, maka ia akan mengakui bahwa sesungguhnya manusia tidak punya hak apapun atas apapun berkaitan dengan hidupnya atau hidup orang lain. Istilah “asasi” hanyalah sesuatu yang rusak untuk melegitimasi kebenaran pemerintah dalan kesewenangannya menentukan mana kasus yang dapat dikategorikan pelanggaran HAM dan mana yang “tidak perlu” dikategorikan sebagai pelanggaran HAM agar consumable dalam istilah media. Sistem dan manusia yang picik. Benarlah jika dikata para setan dan iblis itu mung nganggur dan bosan hingga capek tertawa di Indonesia.

Lanjut baca [Bagian 2]

Sutakwa

150802 2157

Bersumber dari pemikiran pribadi, maiyah Caknun, dan diskusi pendidikan dengan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s