Pendidikan, dan Jawa: Hajar, dan Emha [Bagian 2]


gambar dari astayoga.files.wordpress.com
gambar dari astayoga.files.wordpress.com

Ki Hajar menyuguhkan kita konsep Pendidikan Semesta dengan Trikon-nya: konvergen, konsentris, dan kontinu. Juga menu lain bernama Tripusat: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tapi kita seolah ndak mau belajar memasak. Kita mung mbadog tok. Kita tidak tau apa bumbu suguhan itu, kita tidak tau bagaimana proporsi bumbu dengan bahan dasarnya. Kita tidak bisa meracik masakan itu. Sehingga kita tidak bisa memasak. Bisapun hanya seenaknya sehingga jadilah itu hambar tidak sedhep, asin bukan gurih, dan pahit bukan manis. Jadilah pendidikan itu sekarang berupa hambar, asin, dan pahit. 

Pendidikan yang hambar oleh logika, bukan pemaknaan. Pendidikan yang asin, karena lebih banyak dipakai untuk minteri ketimbang memberi pencerahan. Dan pahit, karena muaranya adalah eksploitasi dan pemenuhan nafsu material. Perang Dunia adalah contoh kecil. Konsep Ki Hajar jauh lebih luas ketimbang pendidikan karakter/mental yang kerap dikambing-hitamkan menjadi komoditi politik. Bagaimana mau mengerti sekedar pendidikan karakter, wong buku yang disusun dengan rapi, jelas dan kamil oleh Erie Sudewo saja sudah dilarang edar oleh pihak-pihak yang tidak berkarakter.

Maka benar jika dikata bahwa akan datang masa dimana yang engkau anggap baik itu sebenarnya membunuhmu. Maka kembalilah pada sejarah agar engkau tidak terbunuh. Belajarlah pada sejarah. Orang-orang naif mempercayai “pengalaman adalah guru terbaik”. Tetapi mereka tidak mempelajari pengalaman orang lain. Terlebih pengalaman para wali dan guru bangsa, bahkan Rasulullah shalallahualai wassalam pun tidak mereka kenal. Bagaimana bisa mereka menemukan “guru terbaik” itu?

Mestinya pendidikan itu minimal dapat membuat manusia menggunakan cangkul, pedang, dan keris. Cangkul sebagai lambang keterampilan ekonomi, pedang sebagai simbol kekuatan menghadapi kemudharatan, dan keris sebagai pertanda kehormatan dan martabat diri sebagai makhluk yang diperintah untuk memenuhi takdir sebagai pengatur bumi. Keris itu lebih dari sekedar jati diri. Ia adalah muruah, marwah, sebuah ajining diri. Karena jati diri hanya pada tingkatan me-manage hati dan akal agar satu ucapan satu perbuatan. Sedangkan ajining diri adalah sesuatu yang beyond, derajat dimana manusia dapat jauh melebihi malaikat.

Didunia ini segala yang mengalami kenaikan/penurunan materiil akan melahirkan semburat kesombongan yang menyeruak. Kita jadi kaya, disitu lahir sombong. Kita jadi miskin, disitu lahir sombong bahkan tidak bersyukur. Kita punya kuasa, disitu lahir sombong. Kita tak berkuasa pun, mencari-cari legitimasi untuk sombong. Bahkan pendidikan mengajarkan kita untuk sombong walaupaun dalam waktu yang sama dengan cara yang sangat naif kita dilarang oleh guru-guru untuk menjadi sombong. Bagaimana tidak sombong, nilai diukur dari tinggi dan rendah. Lantas melahirkan kasta bodoh dan pintar. Lahir kesesatan anggapan, IPA dan IPS. Hancurlah segala identisitas dan tajali Allah dalam entuk manusia yang berkeragaman. Anak sekolah harus menggunakan label bodoh/pintar untuk bergaul dengan guru, juga dipaksa memakai rompi IPA/IPS untuk mendefinisikan dirinya pada masyarakat, bahkan ketika kuliah diparahkan dengan pembedaan D3/S1/S2/S3, negeri swasta, lokal/internasional, dan IPK tinggi/rendah. Pendidikan macam apa itu? Pendidikan untuk demokrasi yang rusak.

Lantas anda bertanya pada saya. Emang e kowe ga sekolah koyo ngono po? Ga kuliah koyo ngono?

Tentu saja saya sekolah formal, saya kuliah. Tapi pemahaman saya akan kehidupan, 90% saya sadari dan mengakui sama sekali bukan dari bangku kuliah. Dari lingkungan kampus dan lingkungan kuliah mungkin, tapi sama sekali bukan dari bangku kuliah. Bukan. Maka saya posisikan pendidikan formal ini sebagai kewajiban dalam membahagiakan ibu, ibu, ibu, dan ayah. Bukan sebagai sumber dasar pemaknaan dan pencarian saya terhadap hidup.

Orang jawa mengajarkan kita tentang diri. Jawa bisa nglenggahke apapun, nyengkuyung kabeh. Ia secara elegan mengambil dan membuang apa yang ditawarkan dari luar, untuk kemaslahatannya. Karena ia (orang jawa) dapat menjadi diri sendiri. Mau bagaimanapun, mau mati pun ia bertahan dengan ke-diri sendiri-an nya. Yen kowe lombok yo lombok o, yen kowe bebek yo bebek o, ojo lombok dadi mbebek gegoro wedi ora payu. Wes to yen kowe setia pada otentisitasmu mesti payune. Apapun pameo terhadapnya ia tetap pada ketetapan bahwa tresna sing tenanan iku tresna sing ora ngenyang, kuwi ngko berkah e gedhe. Ia njawani secara kultural dan menyeluruh. Dan tentu saja sadar untuk belajar sejarah bahwa kabudayan jawa juga dipengaruhi Islam. Jawa itu tidak menutup diri, tapi juga tidak membuka membabi buta. Semua ada empan papan-nya. Maka orang Jawa sing tenanan njawani seharusnya tahu dan tertata kehidupan keislamannya. Gula kuwi kudu tetep dadi gula, ojo sing penting legi, yen mung sing penting legi yo umbel kae yo ono legi ne. Kalau Indonesia berusaha menjadi asing yo remuk rek.

Karena manusia itu dinamis, ia ditulis dalam Lauh al Mahfuzh sebagai Khalifah. Pemikirannya memuai. Berkembang. Ia mesti bisa terbang setinggi langit, tapi kakinya harus tetap sanggup menginjak tanah bumi. Manusia harus berkembang akal, pikiran, dan hatinya dengan ilmu. Tapi ingat, kita jangan “makan” apapun tanpa mengetahui nasabnya. Mencuri itu namanya. Akidah itu ada dalam dirimu, dan masyarakat butuh akhlakmu.

Maka jika pendidikan Indonesia buntu, mestinya pak mentri menyambangi Taman Siswa. Dan Taman Siswa juga mesti lahir kembali seperti gagasan awal Ki Hajar. Sama seperti jika kader islam buntu. Mereka harus kembali ke pesantren yang otektik. Bukan ke pesantren modern yang kacau balau, para pesantren modern itu juga mesti kembali pada wujud awalnya, pesantren tradisional. Yen pesantren yo kudu tetep pesantren, mati o yo kudu tetep pesantren. Jangan berubah secara ekonomis menjadi modern untuk memenuhi pasar ideologi masyarakat yang telah diracuni oleh materialisme kapitalisme.

Pendidikan harus menjadi “taman”, yang dapat dinikmati oleh siswa. Guru mengajari kenikmatan berbuat baik. Bukan logika yang mengalahkan niat kebaikan itu. Secara muasal dan hakiki, manusia sebenarnya dapat membedakan apa yang baik dan apa yang benar. Namun jika terus menerus digempur dan dicekoki materialisme dan kapitalisme yo isoh e mung untung rugi. Hidup menjadi matematis. Mereka tidak berusaha menggunakan angka 0 (nol) dengan benar. Mereka berpikir bahwa nol itu tidak dapat menghasilkan karena apa yang ditambahkan dengan nol tidak pernah bertambah dan apa yang dikalikan dengan nol justru menjadi kosong. Mereka tidak belajar bahwa segala yang dikurangi dengan nol juta tidak akan berkurang, dan apapun yang dibagi dengan nol maka menghasilkan nilai yang tak terhingga. Mereka kecele bahwa nol itu sampah, padahal ia adalah “harta surga”.

Pendidikan harus menjadi jalan menuju surga atau minimal mengintip “harta surga”. Ia (pendidikan) harus sadar pada fakta bahwa manusia di surga bukan bahagia karena perbendaharaan surga yang serba tak terbayangkan, tak terdefinisikan, dan tak tertandingi nilainya dari apa yang ada di dunia. Tetapi bahwa manusia di surga itu bahagia karena Allah menyusupkan rasa bahagia, rasa menikmati, dan rasa ikhlas pada hati manusia surga. Begitulah nol dapat menjadi harta surga. Karena ia menjadi furqon antara yang minus dan yang plus, dimana pada zaman ini tidak lagi kita ketahui apakah minus pasti rugi dan plus pasti untung. Begitulah nol menjadi guru pada mata kuliah dengan sks tak terhingga di dunia ini – ilmu ikhlas – yang juga sekaligus harta surga. Begitulah seharusnya matematika diajarkan. Ajari siswa menikmati sekolah, jadikan pesantren adalah kebaikan dan kemuliaan, biasakan mereka bahwa memberi dan berbagi itu sebuah kenikmatan.

Jangan ajari anak-anak kita kesombongan lewat pendidikan. Kesombongan dalam mencerna apapun di dunia. Lalu membuat ia lupa bahwa sepintar apapun manusia mencari kebahagiaan, lewat perang, lewat minyak, lewat emas, lewat uang, sex, kekuasaan, konspirasi, apapun, segalanya. Manusia akan mentok pada satu perasaan, perasaan dasar yang menjadi kehendak Allah. Perasaan kebutuhan pencarian muasalnya. Manusia mencari darimana ia berasal, bermula, berwujud. Di indonesia gejala kecil ini diwujudkan dengan budaya mudik. Budaya yang bahkan tidak pernah ada pada bangsa selain Indonesia. Memang dapat dipahami bagaimana bangsa selain Indonesia susah menemukan dan mengakui pemaknaan “pencarian terhadap Tuhan”. Tapi tentu saja Allah Maha Pemberi Pilihan, sehingga semua manusia akan dilintaskan dan disiratkan minimal satu kali dalam pikirnya, “apakah aku, darimanakah aku, untuk apa aku ada?”

Yah, nasihat saya pada bangsa selain Indonesia, dan bangsa Indonesia sendiri juga. Datanglah ke Jawa. Karena jauh sebelum bangsa lain membahasakan Tuhan, orang Jawa telah mampu membahasakan Tuhan dengan cantik. Pada isilah gusti mboten sare, pada kebiasaan mereka ngewongke segala hal. Batu dinamai, keris dinamai, apapun dinamai. Krama inggil, ngoko, dan terma bahasa jawa lainnya dianggap feodal, bertingkat. Tidak, sekali kali tidak, hal-hal semacam itu pada orang Jawa karena mereka punya roso, pemaknaan terhadap sesuatu. Mengerti empan papan atas sesuatu. Roso yang kemudian mencapai derajat pemaknaan Tuhan.

Tapi kowe kudu melek le, Adam alaihi salam pun harus diajari oleh Allah nama-nama benda, yang malaikat pun tidak diajari oleh Allah tentang itu. Apalagi wong Jowo yo kudu ngerti kapan kudu mandheg. Harus mencari pada Allah, mengerti apa apa yang Allah ajarkan pada kita. Disitulah manusia akan menemui “dirinya”. Mengerti apa, darimana, dan untuk apa ia. Disitulah bertemu manusia dengan penciptanya. Karena satu fakta, Allah mengajari kita bagaimana mengenal-Nya, bukan karena kita bisa/dapat mengenalnya dengan upaya kita sendiri. Tapi karena Allah membiarkan dirinya untuk dikenali. Padahal Allah sama sekali tidak butuh apapun dari mahkluknya.

Pendidikan, harusnya minimal dapat mendekatkan kita pada Allah Yang Maha Dekat.

Balik, baca [Bagian 1]

Sutakwa

150802 2157

Bersumber dari pemikiran pribadi, maiyah Caknun, dan diskusi pendidikan dengan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s