Bencana Identitas [Bagian 2]


gambar dari media.licdn.com
gambar dari media.licdn.com

Banyak orang bicara krisis identitas, tapi mereka tidak benar-benar yakin sebenarya apa dan bagaimana dengan identitas mereka sendiri. Kita lihat masa kecil kita, tanpa mengurangi rasa hormat dan doa kepada segenap guru sekolah formal yang tentu saja berkontribusi atas pandangan, pemikiran, dan perkembangan diri saya hingga saat ini, saya merasa lebih sepakat dengan pak Erie Sudewo, bahwa sekolah memang lembaga pertama yang menghancurkan karakter anak-anak Indonesia.

Kita akui saja, kita mengenal ‘pintar’ dan ‘bodoh’ itu di sekolah. Kita dipaksa yakin 100% bahwa murid yang pintar itu selaku berkelakuan baik dan harus selalu dibela dalam insiden apapun, mendapat keistimewaan, dan derajat yang tinggi. Sementara murid yang bodoh dipaksa menerima anggapan bahwa kalian bodoh karena tidak belajar, tanpa mengenal bagaimana lingkungan keluarganya, bagaimana kondisi sosial masyarakatnya, dan apa kelebihannya dalam bidang lainnya. Kita dipaksa menganggap kelas IPA itu lebih superior dari IPS, jadilah hancur tatanan moral di sekolah, anak IPS berontak dengan kebisaan mereka bernakal ria, anak IPA mencibir bahwa kenakalan IPS adalah hal bodoh yang tidak termaafkan. Semua karena urusan bodoh dan pintar.

Maka mana ada Kepala Sekolah yang mengenal dan tahu seluk beluk kondisi dan masalah keluarga muridnya saat ini? Ada kok, tapi baru ada satu yang saya kenal. Dan tentu saja ia bukan kepala sekolah formal yang dibiayai oleh BOS yang membuat guru-guru sibuk menyusun laporan keuangan BOS ketimbang belajar wawasan dan keterampilan tepat guna untuk diajarkan pada murid-muridnya. BOS selalu nomor satu.

Selain sekolah, pihak yang saya kira paling berat timbangan ‘hasut’-nya didepan mizan adalah media. Baik koran, radio, televisi, media sosial, atau media oral yang menghasilkan gunjingan-gunjingan tingkat RT dan RW. Kita mengenal ‘kaya’ dan ‘miskin’, serta ‘cantik / ganteng’ dan ‘jelek / buruk rupa’. Lambat laun saya menyaksikan sendiri, profesi guru SD / kyai bukan lagi didahulukan sebagai pihak alim yang dimintai pertimbangan atas progam di tingkat desa, dusun, rt rw, tapi merekalah para orang kaya yang mendapatkan bungkuk-bungkukkan hormat para pamong desa untuk didahulukan hajat dan keinginannya. Saya menyaksikan adik-adik saya berulang kali mengoleksi lagu dan poster boyband girlband korea, lantas jadilah anggapan bahwa cantik itu putih macam orang korea, mbangir macam orang korea, halus kulisnya, kurus, dan tinggi semampai. Lantas dijadikan hina mereka yang punya tompel, tahi lalat. Laris habis bedak dan lotion pemutih, mereka luruskan rambut ikal jadi plain dari akar hingga ujung, mereka diet mati-matian sampai hampir mati. Mereka sedot lemak, mereka fitness, perut harus berkotak enam, mereka ikuti bajunya, model jaketnya, celana harus ketat mengikat. Apapun, apapun mereka lakukan untuk tidak menjadi bangsa Nusantara. Untuk tidak menjadi bangsa Jawa. Maka setelah semua itu mereka puas dan ‘merasa’ mendapatkan identitas. Identitas, mereka berdalih.

Sing parah meneh yo sing nggawe-nggawe identitas, islam nusantara lah, islam liberal lah, islam fundamentalis, ekstrimis, wahabi. Pekok kabeh lah, sak wadog e dhewe ngomong iki kuwi gak moco sejarah. Kalau kamu aktivis, maka bacalah aktivisme sejarah, sebelum itu, ke-aktivis-an mu mung omong kosong mlompong.

Yen islam yo ngislam o. Wes titik ngono wae. Gak penting opo benderane, warnane, identitase, sing penting yo kowe islam. Islam kuwi yo melindungi tiga wilayah manusia; martabat, harta, nyawa. Kuwi sing penting. Akan terlihat kok, Anda itu islam beneran apa ndak, akan sangat terlihat. Yen islammu mung kanggo gawan politik yo cetho, yen islammu mung kanggo gawan penglaris buku yo cetho, yen islammu mung kanggo gawan nikah karo wedok-an sak donya yo cetho, pokok’e cetho wong sing ngislam karo mung islam sithik-sithik. Mereka mengambil apa yang disukai dan sesuai dengan pikiran serta pendapat mereka, lantas meninggalkan apa yang tidak sesuai dengan nafsu dan keinginan mereka. Mereka menjadikan islam sebagai identitas, bukan hidup, bukan akhlak, bukan manifestasi.

Kalau kamu berislam, maka islam itu haruslah hidupmu, hidupmu haruslah islam. Kalau kamu berislam, maka islam itu mengajarkan akhlak, akhlak menjadi ajaran islammu. Kalau kamu berislam, maka islam itu manifestasi dirimu, dan dirimu hanyalah sebagian kecil dari manifestasi islam yang Maha Islam.

Identitas yang mereka banggakan, adalah bencana. Bencana materialisme.

——

Lanjut baca [Bagian 3], balik baca [Bagian 1]

Sutakwa 150822 2429

Diramu dari pemikiran pribadi, Majelis Masyarakat Maiyah, dan Sinau Kedaulatan bersama Caknun di Sleman Agustus 2015

Advertisements

One thought on “Bencana Identitas [Bagian 2]

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s