Bencana Materialisme [Bagian 3]


gambar dari payload.cargocollective.com
gambar dari payload.cargocollective.com

Anda harus dapat mencapai derajat materi yang tidak materialistik. Manusia harus bisa mencapai derajat seperti itu. Jangan hanya memenuhi takdir bahwa Anda lebih bisa ingkar dan durhaka sak-setan-setane melebihi iblis. Tapi Anda juga harus mencapai dejarat taat dan semulia-mulianya melebihi malaikat. Anda mesti bisa membedakan mana identitas, dan mana diri Anda. Anda mutlak harus dapat membedakan nama itu diri atau identitas. Nama baik / nama buruk (pandangan masyarakat terhadap Anda) itu diri atau identitas. Kerja itu diri atau identitas. Solat itu diri atau identitas. Harokah itu diri atau identitas. Berpolitik itu diri atau identitas. Berorganisasi itu diri atau identitas. Baju sing kok nggo itu diri atau identitas. Mobil itu diri atau identitas. Kalau anda sakit, berobat itu diri atau identitas. Rumah, emas, akik, motor, tingkat pendidikan, hasil penelitian, ormas, negara, hingga agama. Itu semua diri atau identitas.

Anda harus bisa menempatkannya, dengan pas, dengan roso manungso-mu iku, mana yang lebih pas ditempatkan sebagai diri sejatimu, mana yang lebih tepat ditempatkan sebagai identitas sing gak penting-penting banget, gak butuh-butuh banget, gak kudu-kudu banget.

Maka coba deh renungi. Anda itu kalau sakit, berobat untuk apa? Baca lagi islammu, piye perintah e yen sakit? Anda itu, kalau sakit diperintahkan untuk bersabar, maka jadilah itu penyakit sebagai penggugur dosa, barulah setelah itu Anda berikhtiar untuk mengobati sakit, tentu sambil terus bersabar, dan kalau Anda sembuh setelah minum obat Anda harus tetap sadar melek bahwa yang menyebab sembuh itu bukan obat yang Anda minum, tapi karena rahmat Allah Ar-Rahman. Obat kuwi yo gak mesti obat kimia saka apotek kae, air doa pun obat, daun pun obat, makanan halal pun obat, puasa apalagi, ia obat ultimate pada sakit apapun.

Lha kok gara-gara ilmu kesehatan dan ilmu media sekarang orang sakit bukannya bersabar malah lari kesana kemari ke rumah sakit termasyur diseluruh jagad bumi, ke Singapore, ke Jerman, kemanapun, malah rakyat dibawah disuruh beli obat generik saja di apotek generik. Lha trus proses bersabarmu kuwi kapan? Bar ngombe obat? Telat, Bro! Kuwi jenenge kowe mempertuhankan obat generik, rumah sakit termasyur, lan sakpanunggalane. Memdem o kowe klelep bencana materialistik, kesembuhan menjadi hal materialistik.

Ingatlah nabimu Musa, pada suatu waktu ia sakit perut lantas berdoa pada Allah, diperintahkanlah ia oleh Allah untuk lari ke atas gunung, ambil daun pada pohon di atas gunung, makan. Maka larilah berpayah itu Musa ke atas gunung, belum sampai setengah jalan, hilang sudah rasa sakit perutnya. Turunlah ia tidak sampai atas gunung. Belum sampai bawah tempat dia beristirahat, sakitlah lagi perutnya meronta. Maka larilah Musa cepat-cepat hingga pohon di atas gunung, ia makan satu, dua, tiga, banyak daun pada pohon itu. Tidak juga reda sakitnya itu. Bertanyalah ia pada Allah, Yaa Rahman Rohim, saya sudah makan daun ini tetapi kenapa tidaklah sembuh sakit perut ini Yaa Ghofur? Maka nyinyirlah Allah menyindir, saat pertama kali kau sakit Aku perintahkan kau lari ke atas gunung, makan daun itu, maka sembuh ditengah jalan lantas kau turun. Saat kedua kali kau sakit, kau lari membuta ke atas gunung, kau makan daun itu, kau lupa kah? Siapa yang memerntahkanmu makan daun itu? Kau tidak memohon pada-Ku? Kau kira daun itu menyembuhkanmu, padahal bukanlah daun itu yang menyembuhkan. Maka Ku-katakan tidak. Tidak. Bukan daun itu yang menyembuhkanmu. Bukan daun itu. Bukan obat. Bukan apapun. Hanya Aku. Hanya Allah yang dapat memberi kesembuhan.

Coba deh seksama-i. Anda itu kerja buat apa? Untuk dapat uang? Anda itu (yang suami istri) berhubungan badan buat apa? Untuk dapat anak? Anda itu petani menanam padi dan sayur buat apa? Untuk panen? Semuanya apapun, Anda itu apapun buat apa? Untuk apapun?

Kerjamu tidak bisa membuat rezeki untuk keluargamu, ia mungkin dapat mengahasilkan uang, tapi uang bukanlah rezeki, kawanku. Gajimu 5 juta merasa kamu kurang, naik gajimu 10 juta tetap saja kamu utang. Jadilah kamu kaum yang pantas untuk dizakati. Maka uang itu bukanlah rezeki. Uang itu ya uang, mung alat tukar. Ia bisa membeli materi, tapi tidak bernilai apapun untuk membeli kebahagiaan atau rezeki. Alat tukarmu untuk rezeki, rizki, apapun bahasa Indonesia-nya, adalah kerja. Allah perintahkan kerja, maka kerjalah. Ia tanggung rezeki, kecukupan, dan kebahagiaanmu. Allah minta kamu nikah, maka nikahlah, berhubungan badanlah, bukan karena hubungan badanmu yang menjadikan anak dalam rahim, tapi Allah yang menciptanya hanya dengan kun fayakun. Allah suruh tanam maka tanamlah, bukan pupuk atau teknologi irigasimu yang menumbuhkan bulir pepak padi itu, bukan pestisida gratis tetek bengek dari pemerintah, tapi tanamlah. Allah yang menumbuhkan tetanaman itu, padi itu, sayur itu.

Allah yang mencukupkan rezeki. Bukan uang yang membeli kebahagiaan. Allah menyusupkan rasa takut pada para prajurit prajurit kafir. Allah pula yang menyusupkan rasa tiada takut apapun pada para serdadu muslim. Allah yang berdaulat atas apapun. Jika tau tentang kedaulatah Allah itu, Anda mestinya tau juga bahwa segala materialisme apapun bukanlah tujuan Anda, bukanlah perintah Allah. Anda harus sadar tiga hal; apa yang dapat Anda rubah, apa yang mungkin bisa Anda rubah / mungkin tidak bisa Anda rubah, dan apa yang mustahil Anda rubah. Dari situ Anda akan tau dimana kedaulatan Anda dan dimana kedaulatan orang lain. Dimana kedaulatan Allah.

Anda mengira kekuasaan itu baik. Lantas Anda berpikir menjadi macan itu keren, kuat, berkuasa. Anda lupa bahwa macan harus susah payah berburu, macan harus membunuh hewan lain untuk hidup, macan harus membunuh kancil untuk hidup. Anda tidak tahu bahwa setelah umur 12 tahun, macan tidak selincah kancil lagi, ia tidak dapat mengejar kancil, maka matilah ia kelaparan, mengenaskan. Ia mati, hanya meninggalkan belang. Anda pikir, Anda ingin jadi macan. Padahal, ada pilihan untuk menjadi kancil yang bisa makan tetumbuhan apapun. Anda tidak butuh daging yang mahal dan hanya dapat diperoleh dengan membunuh. Anda tetap bisa lari bebas dari macan apapun hanya dengan makan rumput. Anda tidak butuh daging. Anda tidak perlu membunuh. Anda tidak ingin menjadi pembunuh.

Anda ingatlah. Rasulullah itu tidak bernegara, ia tidak punya jabatan apapun. Ia hanya manusia yang ditanya, dan ia jawab sesuai apa yang Allah ajarkan. Rasulullah tidak berprofesi, ia tidak berkarier, ia ndak punya tujuan pribadi, ia tidak bercita-cita penuh nafsu. Dakwah itu bukan profesi, wahai kalian yang menyatakan diri sebagai pendakwah lewat berbagai lembaga dakwah. Piagam Madinah itu kesepakatan antar kabilah, baniyah, bukan paksaan dan kehedak Rasulullah. Tugas Rasulullah membina, ia ditanya maka ia menjawab. Maka dari umat yang terbina, lahirlah keluarga yang terbina, masyarakat yang terbina, dan negara yang terbina. Lahirlah baldatun toyyibatun wa robbun ghofurtata tentrem kerto raharjo. Maka dari Rasulullah-lah emphasis islam itu memancar, tetesan paling tekstual itu menyeruak. Bahwa islam itu ya seperti yang dilakukan Rasulullah.

Dan tidaklah sedikitpun Rasulullah memikirkan sesuatu yang materialistik untuk dirinya. Kenalilah ia – Rasulullah – lewat sirohnya. Dan kenalilah Allah lewat apa-apa yang Ia – Allah – ijinkan kita untuk mengenalinya.

Bukanlah perkara mudah membunuh dogma materialistik pada logika kita, logika manusia. Tidak bisa tidak, bahwa kita harus pada waktu yang sama sejajar seiring sekaligus mengenal Allah. Tapi sungguh, sungguh, kita tidaklah mengenali Allah sama sekali. Kita hanya tahu lewat pengetahuan. Adam hanya tahu apa-apa yang Allah ajarkan. Kita hanya tahu 99 yang Allah ijinkan secara tekstual, kita dapat merasakan tajali dalam kauniyah-Nya. Tapi sungguh, sungguh, sebenarnya kita tidak mengetahui apapun tentang Allah. Maka mintalah pada Ia yang Maha Pengabul Pinta, mintalah pada-Nya agar kita diijinkan untuk mengenali-Nya. Mengenali apapun yang timbul dari-Nya dan apapun yang di-ada-ada-kan untuk merongrong keberadaan-Nya. Jadilah kita hamba yang merendah dan penuh kias lembut, karena Allah menyukai mereka yang gigih dikala siang dan menyuruk ambruk menangis habis dikala malam. Ambruk pada ketidakberdayaan diri tanpa Allah. Habis pada segala dosa dan kebodohan diri tanpa Allah yang Maha Pemberi Hidayah. Mintalah agar Allah mengijinkan kita untuk mengenali-Nya. Mintalah agar kita dapat menjadi furqon. Mintalah agar kita dapat memilih jalan-jalan orang yang menegakkan, agar kita dapat memilih jalan yang tidak dimurkai Allah. Mintalah. Karena kita diperintahkan untuk meminta.

——

Balik baca [Bagian 1] dan [Bagian 2]

Sutakwa 150822 2429

Diramu dari pemikiran pribadi, Majelis Masyarakat Maiyah, dan Sinau Kedaulatan bersama Caknun di Sleman Agustus 2015

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s