Diri yang Berdaulah [Bagian 1]


gambar dari sovcam.org
gambar dari sovcam.org

Selain muda, bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa melayu sangat latah serap sana sini. Mulai dari bahasa Arab yang paling mendominasi, bahasa Jawa, bahasa Inggris, hingga bahasa Belanda. Nah, kadang ora patut e kuwi yen menyerap berbagai bahasa dan budaya tanpa menjlentrehkan arti, sejarah, dan makna serta dalam posisi apa bahasa tersebut digunakan. Ya sebutlah kata ‘daulat’, yang banyak pembaca mengira saya salah tulis kata ‘daulah’ pada judul tulisan ini yang seharusnya ditulis ‘daulat’. Ora ngono kuwi, daulah yo daulah, iku bahasa Arab Jeng! Artine negara. Ngko yen kowe sithik-sithik mlebu harokah, terutama sing berkiblat pada Ikhwanul Muslimin, akeh kuwi istilah daulah islamiyah lan sak panunggalanne. Neng harokah sebelah kadang diistilahkan khilafah, nanging ojo nganti kok waca “khilaf ah”, ngko ono sing nesu.

Bab tentang negara islam ini malah dijadikan senjata bulan-bulanan media untuk meng-islam ekstrim-kan mbah Kartosuwiryo, mbah Kahar Muzakar, dan bahkan cah-cah rohis sing meneng adem ayem yo secara goblok disebut sarang teroris, kuwi jan e podo wae nyindir mahasiswa harokah “yen rohis wae disebut sarang teroris, piye lembaga dakwah kampus disebut?” yo pikiren dewe.

Lah kok kata daulah dijadikan daulat, apalagi diartikan jauh sekali dari konteks dan muasal fungsi serta penggunaanya. Dalam KBBI diartikan sebagai kekuasaan tertinggi.

Memangnya manusia itu punya kedaulatan apa atas dirinya?

Ngatur kapan ngising utawa nelek sak pengenmu wae gak isoh, wes sok-sok-an ngomong kedaulatan. Kamu itu buang air saja tidak berdaulat untuk menentukan kapan-nya kok. Wes to, lihat saja dulu dirimu secara menyeluruh. Apa kedaulatanmu atas dirimu?

Kalau main padu padan kata, daulah artinya negara, daulat artinya kekuasaan tertinggi, yo dadine negara punya punya kekuasaan tertinggi. Sama dengan sekarang, apa saja diatur negera, barang-barang yang rakyat ndak butuh pun negara memaksa supaya rakyat butuh. Rakyat bisa masak pakai kayu, negara kasih minyak, rakyat nurut pake minyak, negara maksa rakyat harus pake gas. Yen rakyat protes gas langka dan harga mahal, negara menyalahkan mafia gas, lha opo kuwi? Kabeh sing disalahke mafia, iki negara mafia opo piye jan e? Rakyat ndak butuh jalan aspal, malah dikasih aspal, terus disuruh bayar pajak ‘katanya’ buat biaya fasilitas umum. Fasilitas umum dimana? Fasilitas umum siapa? Jalan rusak, kontraktor disalahkan, harga daging mahal mafia daging dadi tumbal, harga sayur mahal tengkulak dikambinghitamkan, terus jan e negoro kapan salah e? Kok gak ono iki sing salah e negoro?

Kabeh bubrah gara-gara bahasa, gara-gara pemerintah merasa berdaulat atas rakyatnya. Banyak contoh lain, nasehat diartikan ‘memberi petuah bijak yang benar untuk masa lalu / masa depan. Padahal bermuasal dari basaha Arab nasihah, artinya setia. Maka jadilah bukannya banyak orang yang setia, loyal, komitmen, dan istiqomah, malah mblasuk semua orang jadi merasa berhak memberi nasehat, memberi opini, pendapat, terus dianggap nesehatnya pasti benar, menandingi kebenaran adikodrati. Jadilah ia pembenaran untuk manipulasi, konspirasi, dan piracy atas negaranya sendiri. Piye jal?

 

Padahal harusnya pemerintah dadi cah angon sing menek blimbing, lunyu yo ben, pokok’e menek’o, piye carane pokok’e kudu enthuk blimbing, ora kanggo cah angon e dewe, kanggo rakyat Ndung! Tugas pemerintah ya itu. Menggali sumber-sumber kesejahteraan untuk rakyat, entah itu lewat tambang, politik, korporasi, pendidikan, hukum, apapun, asal kesejahteraan rakyat muaranya. Maka luculah jika BUMN malah menjadi korporasi yang profitable, lebih ra mutu lan saru meneh yen profit itu didapatkan dari rakyatnya sendiri. Mestinya BUMN itu ya ndak punya keuntungan, bak buk, segala jenis keuntungannya digunakan sebesar-besarnya untuk mendukung kesejahteraan rakyat. Bukan malah dengan alasan kerugian yang besar pada tahun-tahun sebelumnya dan terancam collapse kemudian malah harga produk-produk BUMN dinaikkan, bahkan biaya transpor antar daerah wae rakyat sing kon bayar. Gak ono sisi service e blas. Piye negoro arep baldatun toyyibatun wa robbun ghofurtata tentrem kerto raharjo yen koyo ngono pemerintah e? Kudune ngatur, meng-khalifah-i, malah mblaur, sak karepe dewe.

Wah yen mbahas negoro utawa kata per kata gak ono entek’e, ono murid, guru, perempuan, wanita, siswa, peserta didik, amal, amil, wes ora karu-karuan. Golek’en dewe makna lan maksud’e opo. Opo diskusi karo aku kapan-kapan yo gak popo.

Maka, cobo mandeg o sik. Tonton o awakmu kuwi, apakah identitasmu?

——

Lanjut baca [Bagian 2], terus baca [Bagian 3]

 

Sutakwa 150822 2429

Diramu dari pemikiran pribadi, Majelis Masyarakat Maiyah, dan Sinau Kedaulatan bersama Caknun di Sleman Agustus 2015

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s