Genealogi Pemikiran Islam Nusantara


www.konsultasisyariah.com
gambar dari http://www.konsultasisyariah.com

Beberapa bulan terakhir masyarakat sepertinya agak bingung tentang apa dan bagaimana Islam Nusantara itu. Namun sepertinya topik semacam itu sama sekali ndak menggangu persepsi dan perkembangan islam-nya orang tua dan mbah saya yang tinggal di desa kecil. Saya tidak tahu apakah topik ini mencapai perbincangan pemuda muslim umur SMA yang sangat familiar dengan pertanyaan NU atau Muhammadiyah, atau Aswaja? Yah, mungkin sedikit banyak pemuda SMA kita tahu soal perkembangan Jaringan Islam Liberal, hanya sekedar tahu saja sepertinya.

Topik ini, terma Islam Nusantara ini hanya akan ramai di kalangan mahasiswa dan post-mahasiswa (relawan, kelompok, jaringan, dll) yang sedikit banyak punya kepentingan terhadap harokah mereka, atau terhadap popularitas mereka. Bagaimanapun, mereka memang semacam termavora (baca: pemakan isu dan istilah ramai, populer, dan ndak jelas juntrugannya). Barangkali saya juga seorang termavora, tapi yah sebagai piknik saja, kalau bosan dengan berita negatif semua media Indonesia. Menjadikan isu ramai sebagai dagelan bisa membuat saraf tertawa saya agak bekerja keras karena kebanyakan ngekek satir membayangkan antitesis perdebatan gak karuan kaum-kaum yang kurang piknik.

Perdebatan pada ‘makanan yang belum jadi’ janganlah terlalu serius, apalagi untuk para mahasiswa, itu ndak baik buat perkembangan daya nalar dan daya pikir sistemik yang kelak dibutuhkan saat diminta menjadi salah satu pemimpin bangsa. Ngko dadi pejabat malah mung debat wae. Kuwi mergone mbiyene pas mahasiswa kurang piknik sih. Sebagai mahasiswa, kita tidak usah mendebatkan nama masakannya apa, mbok dimasak dulu sesuai resep tinggalan pinisepuh, dimodif dikit-dikit ndak apa-apalah agar sesuai dengan lidah zaman sekarang, tapi gak perlu kok debatke jenenge opo kuwi masakan belum jadi gara-gara modif-anmu sing mung secuil kuwi. Ndak baguslah Anda membiasakan meng-klaim resep poro pinisepuh gara-gara mung beda minyak goreng sedikit, atau beda merk garam sedikit, ndak patut hal macam itu untuk para pemuda. Mestinya anda bersikap fair dan menghormati sejarah, dengan cara mempelajarinya, bukannya melakukan klaim buta.

Konsep Islam Nusantara memang belum jadi, belum jelas. Sehingga secara otomatis tidaklah bisa/pas jika Islam Nusantara itu di-judge sebagai jenis islam liberal, islam sinkretis, dan lain-lainnya. Masih berkelindan suasana centang perenang dalam pembahasan Islam Nusantara itu, dan perdebatannya pun hanya akan menjadi apriori. Kalau Anda mau mempermasalahkan Islam Nusantara-nya NU, mestinya Anda juga mempermasalahkan Islam Berkemajuan-nya Muhammadiyah, ya walaupun ga jelas opo sing dipermasalahke, minimal Anda fair dan bukan hanya menyalahkan NU saja atau Muhammadiyah saja. Hitung-hitung belajar fair sedikit-sedikit. Belajar adil.

Kalau Anda menyoal bahwa “ndak bisa itu Islam Nusantara, itu namanya mereduksi makna Islam, tidak ada itu Islam Arab, Islam Iran, Islam Turki, dan lain-lain”, mestinya Anda juga mengritik “ndak bisa itu Islam Berkemajuan, itu namanya melebar dan mencocok-logi-kan Islam dengan perkembangan sains dunia barat, tidak boleh itu Islam ngikut dunia barat, nanti Islam jadi teodemokrasi, teisdemokrasi, dan lain-lain”. Dan saya kira ndak fair juga kalau Kementrian Agama hanya menyediakan dana hibah 50 juta per judul penelitian untuk tema Islam Nusantara, sedangkan tidak membukakan kran hibah bagi para mahasiswa ‘yang sangat bersemangat’ untuk meneliti tema Islam Berkemajuan. Mbok yo dipuaskan sekalian hingga memuncak ini mentalitas proyek manusia Indonesia. Mbok ayo sedikit-sedikit belajar bersikap adil – meskipun adil-nya orang Indonesia ya ga cetho sih, tapi ya minimal belajar adil dulu lah.

Tidak perlu terlalu serius membahas masakan yang belum jadi. Jangan membayangkan rasanya enak atau ndak, mungkin sih baunya sudah dapat tercium, tapi jangan terlalu ber-ekspektasi tinggi, kadang masakanmu jauh kalah enak dari masakan ibu-ibu warung sebelah.

Pribumisasi Islam

Mari kita mundur sejenak ke bilangan 1980-an. Barangkali mereka yang mengampanyekan Isam Nusantara menisbatkannya pada kisaran tahun ini. Pada kurun itu, orang yang kelak menjadi Presiden RI ke-4 merilis konsep Pribumisasi Islam. Bermula dari pengamatan atas pergaulan pribadinya dengan para rohaniawan katholik. Katholik ternyata mempunyai standar baku bagaimana bercengkrama dan bermesra dengan budaya setempat. Hal ini yang kelak kita rasakan sekarang menjadi persepsi umum bahwa Islam hanya subordinat dari Jawa, hingga sampai pada tahap Islam itu bertentangan dengan Jawa. Padahal kita tidak tahu dan beum tuntas sediitpun menyentuh dan menyifati dakwah ulama, kiai, dan wali-wali di Indonesia. Kita tidak tahu bagaimana dahsyatnya gagasan dan perwujudan demitologisasi Hindu Budha di tubuh Jawa oleh para ulama, kiai, dan wali terdahulu.

Terlepas dari banyaknya kontraversi Gus Dur itu sendiri, paling tidak beragam mahasiswa harokah Islam tau saja lah, cukup tau saja bahwa kelak saat Gus Dur menjadi Presiden negeri ini, diizinkannya kembali agama Konfusius sebagai agama sah oleh Gus Dur dan Amies Rais berdampak besar pada surutnya pasokan dana gereja, hingga bermuara pada berkurangnya ‘uang kristenisasi’ sejak saat itu. Kita perlu tahu bahwa dilarangnya agama Konfusius semasa Soeharto membuat golongan Tionghoa hanya punya tiga pilihan rasional, Budha, Katholik, atau Kristen. Dan mayoritas mereka masuk ke Katholik dan Kristen. Dampaknya? Pikirkanlah sendiri secara imaginer. Konglomerat Tionghoa yang selalu bersambung dengan daratan China Besar dalam segi persaudaraan dan keuangan, mayoritas uangnya disumbangkan ke gereja, jadilah uang itu mendukung kritenisasi masif pada tahun-tahun Soeharto. Nah, pada masa Gus Dur menjabat, menjalarlah perpecahan kaum Tionghoa, ada yang kembali pada Konfusius, ada yang tetap berkhatolik atau berkristen dengan loyal, sebagian secara ekstrim membentuk kalangan Gereja Bethany yang hanya berisi orang Tionghoa. Namun dalam skala besar saat itu terjadi kehilangan masif pada pasokan dana gereja, konglomerat Tionghoa keluar dari gereja. Porsi besar ‘uang kristenisasi’ lenyap seketika.

Matur nuwun Gus, matur nuwun pak Amien. Ngko aku nulis koyo ngene dianggep Gusdurian? Lah lah wes yen emang kurang piknik kuwi wes angel diajak piknik. Yah, kurang lebih sama dengan sejarah pembebasan jilbab masal di negara ini, hanya sedikit yang tahu tentang Lautan Jilbab-nya Cak Nun, sayang sekali kalau para akhwat-akhwat yang bebas itu tidak berterima kasih atau minimal sekedar tahu saja deh soal Lautan Jilbab. Sekedar tahu saja ndak apa-apa.

Kembali pada Gus Dur, kita bayangkan saja bahwa Gus Dur yang cerdas itu menyadari bahwa islamisasi di Indonesia sangatlah kacau, organisasi lama macam NU dan Muhammadiyah tidak terlalu berpengaruh lagi, selebihnya malah ditarik-tarik ke ranah manipulasi politik, lahir pula harokah ‘impor’ baru segolongan PKS dan HTI, semakin nggrambyang dan tumpang tindihlah islamisasi Indonesia. Barangkali persatuan visi dan misi sekelas Masyumi memang hanya akan menjadi legenda dan tidak mungkin lagi lahir keturunannya. Sementara itu dengan gamblang dan tercengang Gus Dur menyimpulkan tata kelola strategi Katholik dan Kristen sebagai coup d’etat pada Islam yang telah sejak ratusan tahun memuncaki budaya Jawa dan Indonesia dengan filosofi keislaman yang dalam merasuk. Maka karena memang sudah parah, Gus Dur mungkin berpikir bahwa yang mungkin dilakukan saat itu (mumpung bisa, dalam kapasistas Presiden) hanya massive shock pada sisi pendanaan kritenisasi itu sendiri, walaupun hanya bersifat sementara, hingga jadilah 6 agama sah Indonesia saat ini sedikit banyak memang membantu delay kristenisasi yang seharusnya siap tinggal landas meroket.

Islamisasi Dunia

Secara denotatif atau konotatif sebenarnya Baginda Rasulullah telah mengajarkan kita semua epistema Islam selama 23 tahun periode akhir nubuat itu. Kita tinggal buka bab-bab ajaran Rasulullah itu, dengan cermat, dan tepat. Mengenai interaksi Islam dengan budaya, Rasulullah mencontohkan dengan pas dan jelas bagaimana menyikap budaya. Kita ambil tiga contoh kecil, budaya diluar Islam yang diserap menjadi Islam (berjabat tangan), budaya diluar Islam yang di-edit menjadi Islam (aqiqoh), dan budaya Islam yang menyimpang diluruskan dan  diteguhkan bahkan menjadi rukun Islam (haji).

Ritual berjabat tangan aslinya berasli dari Yaman, ia kemudian diserap dan dijadilah syariat penguat ukhuwah yag bahkan menggugurkan dosa diantara dua saudara muslim. Ritual aqiqah orang Quraisy secara bilangan sama, bayi laki-laki disembelihkan dua kambing, dan satu kambing jika bayi perempuan, darah sembelihan itu diusap-usapkan ke kepala bayi, sementara dagingnya dipersembahkan ke shaf-shaf berhala di Kabah, di-edit oleh Rasulullah dengan menghilangkan ritual mengusapkan darah, dilengkapi dengan membagikan daging sembelihan ke warga muslim sekitar. Sementara haji adalah ibadahnya seluruh agama keturunan Ismail, yang awalnya benar, lantas melenceng mengikut tafsir ‘Amr bin Luhay paska kunjungan safarinya ke negeri Syam, dan Rasulullah merombak total segala paganisme pada ritual haji, hingga jadilah ia rukun Islam yang muara bagi muslim dunia.

Dengan ijtihad pada bab interaksi budaya dengan Islam yang dicontohkan Rasulullah. Ulama besar pada perkembangan Islam juga mengambil minaret (baca: menara) orang Majusi (awalnya digunakan sebagai tempat api suci penyembahan dewa api) menjadi khas masjid dan penggaung panggilan mengingat Allah. Juga kubah yang bermula dari gereja-gereja ortodoks kristen kemudian disandingkan dengan menara-menara dalam menggemakan kalam hayya ‘alas solah. Tidak jauh beda dengan keren-nya ulama dan wali besar Indonesia pada zaman sebelumnya yang dengan sangat elegan dapat mengelaborasi interaksi Islam dengan budaya Nusantara. Lihat saja filososi slametan Jawa yang menghadirkan Jadah (dari kata jahada) dan Wajik (dari kata wajaha). Teliti kembali demitologisasi cerita pewayangan pada kebijaksanaan Semar tingkat dewa, yang dijadikan kakak Bethara Guru, namun ditempatkanlah ia di bumi berperan Punakawan, penjaga kebijaksaan masyarakat. Cermati pula detil simbolik ksatria dan raksesa (dan tokoh jahat pewayangan lainnya), bagaimana tokoh ksatria selalu terukir kaligrafi Muhammad pada bagian sekitar mulutnya, kaligrafi Allah pada bagian sekitar teliga, digenapi dengan telunjuk yang menunjuk, menyeolahkan tahiyat yang khusuk sebagai penjaga amal dunia; sementara raksesa disimbolisasikan dengan huruf alif ba lam sin sebagai penjelmaan arti iblis, juga dinyatakan lebih lanjut dengan tiga jari tangan yang menunjuk, jempol, telunjuk, dan kelingking, simbolisasi satanisme yang kerap dipakai oleh pegandrung musik metal, bahkan tahun-tahun terakhir ini dipakai juga sebagai atribut kampanye “wong cilik” itu. Padahal wayang garapan para wali dan ulama itu bukan hanya bab Baratayudha saja, ada wayang Sadat, ada juga wayang yang meramu kisah 1001 malam, dan banyak lagi jenis wayang lainnya. Ah, kalau kita tahu sejarah, kita akan mingkem dan takjub kita pada celana tertara keraton yang sangat nyalafi itu (baca: celana prajurit keraton sangat cingkrang).

Padahal Anda tahu ndak? Paham Hindu Budha Nusantara pada masa itu adalah Tantrisme, golongan pemakan daging manusia. Anda berani ndak menjadi ulama dan wali besar zaman dahulu? Menghadapi para pemakan daging manusia? Jika Anda adalah golongan yang berpendapat bahwa doa kita pada para ulama yang bukan segaris nasab tidak akan sampai, paling tidak pelajarilah ilmu tinggalan para wali dan ulama itu, agar mereka mendapat pahala dari ilmu mereka yang bermanfaat bagi kita. Sungguh sebagian besar Islam yang kita nikmati saat ini adalah harkat dan upaya ulama-ulama dan para wali terdahulu.

Membaca gejala ini, Ibnu Khaldun kemudian mencipta ilmu Georgrafi Sejarah. Melahirkan pemikiran bahwa letak sebuah bangsa memunculkan beragam budaya dan peradaban, namun Islam-nya tetap hanya satu. Maka jangan kita terlalu rigid pada budaya, kita mestinya menyelami surah Al Hujurat ayat 13 yang secara skriptual-tekstual mengamini bahwa budaya dan bangsa adalah sebuah sunatullah. Pun, kita jangan terlalu fanatis pada budaya, tengoklah para santri yang membaca bahasa Arab dalam memaknai literasi fiqih dan hadist, menyelami bahasa Persia untuk mendalami sastra, mencermati bahasa Turki seraya men-detil-i kelengkapan ilmu militer, hingga bermuara pada bahasa Melayu bersebab kewajiban tabligh dan dakwah mereka pada warga Nuswantoro.

Berkaitan dengan islamisasi sebagai paham, disandingkan juga hadapannya pada integrasi sebagai  paham. Paham integrasi ini menempatakan Islam sebagai part of knowledge hingga lahirlah cocok logi, ada psikologi ditinjau dari islam, politik ditinjau dari islam, matematika ditinjau dari islam, dan seterusnya yang sebenarnya semakin ndak jelas ilmunya, saling berpecah belah. Sedangkan paham islamisasi merajakan islam sebagai basic of knowledge, hampir sama dengan Dr Zakir Naik yang mengistilahkan Quran sebagai Book of Sign, bukan Book of Science. Islam menjadi sumber ilmu, terutama secara mayoritas pada ilmu sosial. Dengan begitu tidak akan ada pertentangan dengan beragam macam postulat sains, karena jika mau diakui secara fair sebenarnya ilmu pasti yang kita kenal sebagai sains itu sendiri selalu tidak pasti dalam perkembangannya hingga saat ini.

Secara waras, kita akan sadar untuk lebih sepakat pada paham islamisasi ketimbang paham integrasi. Tapi secara tidak sadar dan tidak mau mengakui kita tidak punya sama sekali strategi membumikan islam dalam kerangkan islamisasi. Tidak ada strategi sama sekali. Penerus harokah tidak membaca sejarah, tidak mempelajari periodisasi perkembangan Islam, hingga mewujud pada ketidakpahaman atas apa yang mesti dilaku dan dibuat untuk meng-execute islamisasi. Bahkan mencoba know your enemy saja ndak. Mana ada yang tahu kalau Katholik itu mengadopsi sistem administrasi Romawi yang sangat detil dan merinci. Mana ada yang tahu kalau romo-romo Katholik dan Kristen seperti Magnis Suseno secara mendalam menerjemahkan sumber-sumber marxis menjadi buku-buku pegangan para pemuda Katholik agar tidak liar itu tafsir para pemuda pada potensi marxisme sebagai ideologi dan tetap pada satu rel misi Katholik.

Sementara santri-santri pondok pesantren mengalami ke-kagok-an intelektual dan culture shock yang kronis. Setelah mereka keluar dari pesantren justru menghadapi teori perkembangan ilmu dan filosofi barat, hingga secara tidak sadar mengasosiasikan diri pada paham integrasi. Ada yang menafsirkan islam dengan berdasar Sigmund Freud, lebih banyak lagi yang justru melakukan kritisasi dan penghancuran bangunan dasar islam yang telah diperoleh selama bertahun-tahun di pesantren. Islamisasi tidak siap mengahadap globalisasi. Tidak ada strategi sama sekali. Sementara hidup terus berjalan, masyarakat berubah, masyarakat terus berpikir, dipengaruhi, dan bahkan bergantung pada pemikiran dan kecenderungan hidup dengan cara dan budaya barat. Dan islamisasi tetap saja jalan ditempat.

Strategi Islamisasi

Lantas, apa Anda punya staretegi islamisasi? Sekedar punya saja dulu ndak apa-apa, tak perlu paripurna apalagi kaffah. Sekedar ada saja. Biar dapat kita diskusi bersama menambal sana sini itu strategi. Anda punya?

Anda punya strategi mengatasi Syiah di Indonesia, Anda tahu sejak kapan Indonesia dimasuki Syiah? Anda mau pakai cara Saudi berperang dengan Houthi? Atau pakai cara Al Qaeda ISIS bertubruk dengan Bashar Al Assad? Atau Anda punya strategi lain?

Anda punya strategi mengatasi Tolikara? Mengatasi kristenisasi? Anda tahu apa strategi kristen? Anda mau berdebat terbuka seperti Dr Zakir Naik? Anda mau menghidupi orang desa yang darurat uang, air, beras, lantas memilih kristen karena mie instan? Atau anda punya strategi lain?

Anda bisa menyudahi gontok-gontokan PKS dan HTI? Anda bisa mendamaikan Salafy dan NU? Anda punya strategi apa? Anda tahu latar belakang sejarah NU? Anda tahu latar belakang sejarah Salafy? Anda punya strategi bagaimana?

Di skla Solo saja sudah, Anda punya strategi menghidupkan ikon Haji Samanhudi? Yang jelas secara historis jauh lebih besar dibandingkan Slamet Riyadi yang punya nama depan Ignatius itu? Atau jangan-jangan malah Anda ndak tahu kalau nama depan Slamet Riyadi itu Ignatius? Dan (sebagai orang muslim Solo) Anda terima saja jendral Ignatius menjadi ikon kota Solo? Anda punya strategi ndak untuk mengelaborasi sejarah kota Solo dan meng-counter serangan sang jendral?

Apa anda berpikir bahwa sebuah kekhalifahan itu semuanya muslim? Semua manusia di bumi menjadi muslim? Tidak ada masalah agama? Tidak ada pemberontakan? Apa anda kira kekhalifahan sungguh semudah itu? Lupakah Anda bahwa 3 dar 4 khulaurasyidin mati karena dibunuh? Anda punya strategi apa? Strategi bagaimana?

Kita mengerdilkan Islam untuk konsumsi pribadi, konsumsi ritualistik (saja), kita melupakan bab Rasulullah bermuamalah dengan masyarakat, dengan budaya. Anda mungkin terlewat pada analisis bahwa terma Islam Nusantara itu dihadirkan mungkin untuk mernghardik impornya pemikiran Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir? Atau anda sibuk berdebat dan ndak mikir sama sekali soal itu?

Saya kira lebih baik mbok kita ber-wa qul ja’alhaqqu wa zahaqalbatilu, innal batila kana zahuqa saja. Segala sesuatu yang evil itu punya trigger self destruction-nya sendiri kok. Walau begitu, tetap saja bukan berarti kita lantas berhenti menyetrategi dalam membumikan islam. Namun pertama-tama mari perbaiki cara berpendidikan kita, jangan lagi ikuti pragmatisme pendidikan barat yang hanya bermuara pada “sekolah itu investasi untuk dapat kerja, dapat uang,”, dapat cangkul dan pedang kata Cak Nun, tapi mulailah mengkhidmati tatanan pendidikan Islam; taklim, tarbiyah, dan takdib. Sambil sedikit-sedikit bertahap mulai membuka lagi Sirah Rasulullah, mempelajari periodiasi perkembangan Islam, mempelajari latar kejadian perkembangan ilmu Islam. Agar kita mentes. Agar islam kita kaffah. Lantas bisa kita bergerak strategis dengan cara yang sangat Rasulullah.

Saudaraku, islam bukan hanya ritual. Islam bukan hanya halal haram bid’ah sunnah. Islam bukan hanya demokrasi atau khilafah. Islam bukan hanya harokah. Islam tidak sesecuil itu. Islam tidak sekecil itu. Islam tidak berbatas Saudaraku. Islam lebih besar dari kita semua. Ia (Islam) dapat menampung kita semua dalam kondisi yang suci dan bersih seperti Islam-nya Rasulullah Muhammad. Maka mari bersama menuju Islam yang itu, Islam yang sangat Rasulullah.

—————————–

Sutakwa 150913 1443

Repostase Kajian Genealogi Pemikiran Islam Nusantara (150910) oleh Ustad Arif Wibowo, ditulis dengan sedikit elaborasi bermacam pengetahuan.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s