Menerjemahkan Islam Buya ; Haji Abdul Malik Karim Amrullah


Judul Buku     : Ayah… – Kisah Buya Hamka

Penulis            : Irfan Hamka

Penerbit         : Republika

Harga              : –

Tahun Terbit : April 2013 (cetakan VI)

Ukuran           : 13,5 x 20,5 (cm)

Tebal              : xxviii + 323 halaman

 

24 Ramadhan 1436 hijriah, putra kelima Buya tutup usia. Ia yang mewarisi satu percik talenta Buya, menelurkan buku biografi otektik dan jujur tanpa latar belakang “biografi pesanan” atau “biografi pasaran”.

youtube.com
youtube.com

Kita dapat berandai jika Buya menulis otobigrafi, barangkali akan kita temui transelirasi dari frasa Buya Hamka dengan lebih terang benderang – meskipun yang diketahui khalayak tentang Buya saat ini tidak juga dapat dikatakan gelap gulita – utuh dan paripurna. Ini bukanlah hal pelik bagi para musafir ilmu, mereka tetap saja dapat menghisap epistema Buya pada dua jilid Kenang-kenangan Hidup, Tasawuf Modern dan  Falsafah Hidup yang baru saja dire-publish Republika, atau biografi Hamka lainnya – Pribadi dan Martabat – dari anak lainnya – Rusjdi, pun malah kaffah dengan melesap pada pemaknaan Tafsir Al-Azhar yang fenomenal, sembari membayang ruang kekang penjara Buya kala itu.

midjournal.com
midjournal.com

Lantas sebagai penghibur kodrat manusia dalam berkias, Dalam Lindungan Kaabah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjadi sastra populer yang mudah ditemu bentuk digitalnya, bahkan diramu pada layar lebar gambar berjalan. Sungguh bukanlah hal pelik bagi mereka para musafir ilmu, mengumpul sekira 94 karya tulisan Buya yang tercatat.

Kalau engkau membaca buku ini, engkau tentu ingin menjadi anak Buya. Ialah Buya, seorang Ayah yang kamil, seorang ayah yang paripurna.

Ia mengerti hal kecil yang jarang dipahami laki-laki lazim. Seperti kasih sayang kepada kucing, hingga kucing yang telah bertahun menahun hilang pun akhirnya pulang mencari Buya.

Ia mengerti bagaimana melindungi keluarga secara fisik, materi, dan agama. Ia mengusai beladiri Sumatera, ia (secara tidak langsung) membiayai keluarga lewat balik penjara, bahkan setelah wafat pun, ia melindungi segenap keluarganya lewat teladan puluhan tahun dan ajaran pada tiap detik hidup bersama anak-anaknya.

Maka benarlah jika ia disebut Ayah, karena hingga kini pun, aku, engkau, dan seluruh anak Indonesiapastas memanggilnya Ayahanda, Abah, Bapak, Papa, atau apapun yang engkau dan kalian suka.

Karena ilmu dan pemahaman beliau yang kamil paripurna, tidaklah salah jika doa dan permohon keselamatan baginya kita pintakan keharibaan Allah Yang Maha Kuasa.

Karena ia memang seorang Ayah yang berhak, mendapat doa dari seluruh anak-anak negeri ini, negeri dan bangsa ini.

Dan jikapun ayahmu telah tiada sejak kecil, aku yakin, jika hari ini Buya masih hidup, dan engkau mendatanginya. Engkau ceritakan bahwa tidak siapa lagi bisa engkau panggil ayah. Maka Buya akan tersenyum, dan menawarkan padamu untuk menjadi Ayah bagimu.

Senyum yang mungkin kiranya sama persis seperti yang disunggingkan Rasulullah pada seorang yatim yang merengek perlindungan pada Sang Muhammad. Senyum yang kiranya sama persis.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s