Segitiga Sama Sisi dan Masa Depan Kehidupan Bangsa


“Pemuda hari ini mesti menjadi pelayan rakyat Indonesia di masa depan, memahami optimasi pertanian, menciptakan efisiensi teknologi dan meratakan keadilan perdagangan.”

 

Indonesia sebagai negara bangsa telah hidup hampir tiga per empat abad. Walaupun semua warga negara ini tahu bahwa bangsa ini telah lama lahir jauh sebelum itu, ribuan tahun yang lalu. Sayangnya sudah tidak banyak lagi para saksi sejarah yang masih hidup, dan bahkan jauh lebih sedikit lagi yang mau sekedar menelusur sejarah tentang bagaimana bangsa ini tumbuh.

Barangkali kemajuan teknologi yang menyebab transisi antara kesibukan nyata manusia menjadi kesibukan maya telah benar kita rasakan dampaknya. Di satu sisi jelas bahwa pemuda jauh dari kantung-kantung persatuan seperti karang taruna atau rapat warga yang lebih banyak dihadiri oleh para orang tua. Namun di sisi lain pemuda di kota-kota besar cukup terorganisir untuk dapat bergerak hanya karena himbauan dan ajakan dari sosial media. Tentu saja banyak pula yang tersulut berita dusta dari kesimpang siuran sosial media.

Teknologi memang dapat menguasai dunia, namun barangkali kita bersama telah lupa bahwa sejak awal bangsa ini bukanlah bangsa yang hidup dari teknologi. Ratusan tahun bangsa ini telah hidup jauh dari teknologi yang ada di Eropa, nyatanya jelas bahwa rakyat hidup jauh lebih sejahtera sebelum masa kolonialisme. Pun telah kentara bahwa kini masyarakat Indonesia lebih cenderung pada konsumerisme teknologi ketimbang produksi dan multiplikasi teknologi. Indonesia telah jauh tertinggal untuk urusan teknologi.

Sejak awal cara negara ini menyikapi teknologi sangatlah berbeda jauh dari bagaimana Jepang menyerap teknologi bangsa lain. Meskipun dalam banyak hal Indonesia juga selalu memiliki peneliti-peneliti yang dapat dibanggakan dengan penemuan berkelas dunia. Walaupun pada muaranya selalu saja anak emas bangsa dan penemuannya hanya disia-siakan oleh politik dan pragmatisme para pejabat negera.

Maka harusnya kita semua harus berhenti sejenak, memikirkan kembali apa yang mesti dilakukan. Membuka kembali lembar sejarah dan kearifan masa lalu bangsa ini, bahkan sebelum bernama Indonesia. Lalu memampatkan segala ilmu dan kearifan pada satu kesimpulan dan kedalaman pemahaman tentang bagaimana seharusnya negeri ini bertindak menjemput masa depan.

 

Segitiga Sama Sisi

Penulis mengajukan satu ide tentang segitiga sama sisi, tentang tiga titik temu yang barangkali haruslah mulai dipelajari dan dikuasai oleh setiap pemuda Indonesia hari ini. Demi mendorong wujud nyata dari cita dan daya Indonesia di masa depan yang diupayakan.

Segitiga sama sisi memiliki tiga sisi yang identik dalam perhitungan matematik, sehingga tidaklah menjadi masalah sisi mana yang menjadi tumpuannya namun dua sisi lainnya tetaplah mampu berlaku sebagai sisi yang tidak memberatkan sisi lainnya. Namun justru menopang dan mempertahankan bentuknya sebegitu sempurna.

 

Pertanian

Kita akan membicarakan sisi alas yang berada di bagian bawah segitiga, menjadi dasar dan akar sekaligus alasan bagi dua sisi lainnya. Lihatlah bangsa ini, wilayahnya dilintasi oleh garis khaulistiwa, implikasi geografisnya adalah negeri ini menjadi negeri tropis yang kaya segalanya. Lebih sempurna lagi karena Tuhan menganugerahkan tanah yang luas dan menumbuhkan apa saja yang bisa tumbuh.

Maka seharusnya dengan analisa sederhana cara apapun saja sebenarnya dapat dengan mudah dipahami bahwa Indonesia adalah negara pertanian, tempat segala yang butuh tanah bisa tumbuh dengan sehat dan subur serta leluasa. Inilah sisi alas segitiga sama sisi yang benar nyata dikaruniakan oleh Tuhan, pertanian.

Bukan pertanian korporasi seperti sekarang ini. Jutaan hektar tanah perhutanan milik satu dua orang konglomerat kelapa sawit, atau ratusan ribu ladang sayur dan persawahan milik tiga empat orang juragan. Pertanian Indonesia haruslah menjadi pertanian rakyat, pertanian yang komunal.

Rakyat memiliki tanahnya sendiri, memakan hasil tanamnya sendiri dan menjual hasil panennya yang berlebih untuk kesejahteraan masyarakat bersama. Rakyat haruslah dapat mandiri dengan pertaniannya sendiri, dengan tanahnya sendiri.

 

Teknologi

Sisi topang pertama, teknologi yang bijaksana dan tepat guna. Teknologi bagi pemuda harusnya jelas bukan hanya bermakna teknologi yang berhubungan dengan elektronika, namun dalam porsi yang seimbang selaras dengan kebutuhan dan budaya masyarakatnya.

Kita bersama telah melihat bagaimana teknologi membuat masyarakat semakin malas, menimbulkan berita yang tidak jelas asal muasalnya hingga menyulut perpecahan kebhinekaan. Kita juga telah sadar bahwa terlampau banyak teknologi yang justru merusak, menyemai terlalu banyak bibit-bibit kehancuran bumi yang damai.

Bukanlah teknologi semacam itu yang dibutuhkan masyarakat pertanian yang mandiri. Cukuplah teknologi yang memudahkan dan memberikan efisiensi ada segala bentuk kesukaran tentang pertanian. Kita bicara tentang teknologi bibit tanaman, teknologi pasca panen, teknologi pengolahan dan teknologi penyimpanan.

Pemuda harus berpikir cara apa yang paling efisien untuk membuat tanaman pertanian menghasilkan panen yang sehat dan cukup untuk seluruh rakyat Indonesia, bagaimana membuat ikan-ikan di tambak lebih gemuk dan sehat serta lebih cepat dipanen, perlakuan apa yang mesti diberikan agak ternak-ternak unggas atau hewan memamah biak lebih sehat untuk dikonsumsi dagingnya, serta teknologi yang sekaligus dapat mengolah seluruh limbah pertanian menjadi bukan lagi limbah melainkan komponen penunjang pertanian itu sendiri.

Teknologi semacam inilah yang harus lebih ditekuni dan diseriusi pemuda Indonesia saat ini, untuk masa depan. Teknologi yang menghidupkan apa-apa yang harus hidup dan dihidupi. Bukan teknologi yang membabi buta merusak negeri dan bumi.

 

Perdagangan

Sisi topang kedua, perdagangan. Perdagangan adalah muara, dari kegiatan inilah perekonomian masyarakat bisa tumbuh dan menjadi lebih dewasa. Mengapa perdagangan butuh kedewasaan? Karena dari situlah keserasian dan keselarasan dari segitiga sama sisi akan tercapai.

Masyarakat urban selalu lebih suka sesuatu yang praktis dan berkelas, maka mereka membelanjakan uangnya ke supermarket yang hampir seluruh isinya adalah produk-produk impor, mulai dari komoditas pertanian hingga teknologi bahkan pakaian.

Kini ketika minimarket telah tersebar di seluruh pelosok kecamatan, perdagangan rakyat di pasar-pasar tradisional mulai terancam. Tentu saja kita sadar walaupun tetap banyak pasar radisional yang terus ramai dan memberikan kehidupan, namun lebih dari separuh barang yang diperdagangkan bukanlah hasil tanah dan buatan rakyat Indonesia.

Pemuda hari ini harus paham bagaimana melakukan rekayasa pasar untuk mendorong rekayasa sosial. Memang benar bahwa produk impor lebih laris di pasaran, namun itu juga terjadi karena produk lokal tidak diberikan ruang dan kepercayaan. Maka diperlukan rekayasa pasar untuk menyediakan ruang yang lebih banyak pada produk lokal dengan kualitas tinggi yang telah terseleksi.

Dengan begitu terbelilah Indonesia oleh rakyat Indonesia sendiri. pemuda hari ini mesti pelayan rakyat Indonesia di masa depan, memahami optimasi pertanian, menciptakan efisiensi teknologi dan meratakan keadilan perdagangan. Dari itulah rakyat Indonesia akan hidup, sejahtera.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s