Belajar Diam


Sebagai makhluk sosial, manusia mungkin susah untuk menghindar secara sosial. Lebih lagi saat kemajuan dan perkembangan teknologi ukuran telapak tangan – smartphone – menawarkan berbagai media ekspresi yang beraneka rupa. Mulai dari yang berisi narasi saja, gambar saja, atau bahkan keduanya dan semuanya.

Kalau mau mengakui, maka sebenarnya jelaslah nampak bahwa terjadi pergeseran ‘kesadaran sosial’ menjadi ‘kesadaran sosial media’. Di satu sisi, sosial media terbukti dapat menjadi hulu ledak people power yang gejalanya – 411 dan 212 – telah tercatat menjadi sejarah tumbuh kembang Indonesia. Di sisi lain, semakin lebih banyak waktu masyarakat yang diaktualisasikan lewat antar muka telepon pintar ketimbang pada antar muka diskusi warga.

Dan saya memilih untuk belajar diam, sejak paling tidak dua tahun terakhir. Tentu saja lalu lintas sosial media tetap saya amati dan nikmati, tetapi saya lebih memilih berhenti di halte bus kota pinggir jalan, atau berjalan di trottoir bersama para pedestrian yang lain. Setelah dipikir ulang, ternyata benar, belajar diam itu seperti menjadi pedestrian.

Kadang pinggiran jalan yang kita lewati berupa rindang pepohonan tanpa buah, paling tidak kita sejuk, nyaman dan isis dalam naungannya. Tetapi seringkali malahan panas dan kering, terlalu banyak pelebaran jalan, pohon-pohon ditumbangkan, dan jadilah sedikit saja yang mau menikmati perjalanan kaki. Siapa pula yang mau panas-panasan di sepanjang trotoar yang tak lagi pas dan pantas dilalui?

Begitulah belajar diam, kata mereka yang nasionalis kita akan dituduh apatis. Kata mereka yang menganggap dirinya berjuang, kita dicitrakan ulang tak memberi kontribusi ke depan. Kata mereka yang haraki atau jihadi kita dituduh liberal dan akan segera dipisahkan lalu dikucilkan. Kataku yang cuma pejalan kaki rendahan, urip kuwi mung poso kawan-kawan.

Orang yang puasa itu menahan diri untuk apapun saja yang bahkan menjadi haknya. Mungkin sekali dua akan berbuka puasa, tetapi dalam masa buka puasanya itupun ia akan menahan diri dari apapun saja agar tidak berlebihan dan membinasakan ibadahnya. Karena esok ia harus kembali berpuasa, dan ibadah ini, puasa ini, hanya dia dan Tuhannya yang benar tahu detil upayanya. Karena mereka, orang-orang yang berpuasa, puasanya untuk Tuhannya, peri-kelakukan dan multi-tindakannya semua terbingkai sunyi dan sepi dalam puasanya, murni untuk Tuhannya, tiada mau ia diketahui siapapun saja. Ia takut akan beterbangan menjadi abu pembakaran, ia kalut membayangkan riya dan kesombongan merobohkan bilik cintanya dengan Tuhannya. Ia memilih meringkuk, asyik masyuk dalam puasanya yang tuma’ninah, cukuplah Tuhannya saja yang tahu segalanya. Itulah mereka, para pejalan kaki yang berpuasa.

Advertisements

One thought on “Belajar Diam

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s