Menentukan Arah


Sangat susah bagi saya mengejawantah perkara pada ranah semacam ini, sebenarnya. Terlepas dari susah karena saya sendiri belum pernah mengalaminya, pun setelah saya menjalankannya nanti, bahasan semacam ini memang bukan style saya. Menjadi melankolis deskriptif dan ekspresif itu susahnya luar bisa bagi koleris subversif konservatif macam saya.

Lihat saja sajak-sajak saya, lebih banyak yang ‘diam’ ketimbang ‘mengembang’ atau ‘terbang’. Tetapi toh tentu saja kita mesti mengerti arah dan mau segera menentukan arah. Satu dua titik penentuan arah inilah yang dapat mendorong manusia pada jalan yang baru, jalan-jalan orang-orang yang beribadah, orang-orang yang hijrah.

Bicara masalah dunia, masalah negara, masalah organisasi, komunitas, hingga kumpulan segelintir warga, atau apapun saja yang berafiliasi dengan sumber daya manusia, pada akhirnya kita akan menghujam dalam ke akar, ke perkara pembentukan keluarga, atau pernikahan. Itulah titik akar penentuan arah.

Menikah dengan orang yang sama-sama baik saja belum tentu menghasilkan kehidupan dan keturunan yang baik kok. Apalagi menikah dengan pribadi yang jelas sudah kita kenal buruk. Barangkali itulah mengapa perencanaan, pengaturan, strategi, ‘kong-kalikong’, rembug, diskusi dan saling mencermati dengan waktu yang tidak sedikit mutlak jelas diperlukan untuk perihal ‘mahal’ senilai pernikahan.

Hal yang jauh lebih penting lagi sebenarnya tentang durasi, masa. Karena menikah itu bukan soal sehari dua hari, bukan cuma karena nyaman atau berasa lucu sekali dua kali, bukan pula percaya dan yakin sekata dua kata. Tetapi menikah itu tentang sehidup dua hidup, hidup di dunia dan hidup di akhirat.

Tentu saja tidak akan tercapai penyelesaian dengan sebanyak apapun variabel persamaan matematika. Tidak juga cukup segala gejala dan tanda psikologis untuk menerjemahkan ragamnya detil fenomena tentang pernikahan. Karena ada senyawa Tuhan dalam sebuah pernikahan, partikelir nirnalar yang seringkali disebut dengan istilah lumrah sebagai mawaddah.

Kata Kang Abik di satu sesi materi yang saya ikuti sekira awal Desember 2016 lalu, nikah itu cuma 5% nikmatnya. Yang 95% nikmat banget. Terang saja seisi ruang terpingkal puas tanpa beban, apalagi para bujang tanpa penggawean macam saya. Terlihat dan terdengar menggiurkan bukan?

Beda lagi pesan Mbah Nun, dalam satu poin bahasannya tentang pengandaian manusia. Simbah mengatakan, ‘pengandaianmu, bayanganmu dan pandanganmu tentang suatu yang belum pernah kamu lakukan secara langsung tidak akan pernah sama dan tidak mungkin 100% sama seperti yang kamu pikirkan’.

Taruh saja kau bayangkan surga neraka adalah ilusi, kau kira di surga manusia akan bosan dengan segala kemudahan dan kenikmatan. Kau duga di neraka lama-lama manusia akan kebal atas rasa sakit dan penderitaan azab mereka. Padahal sama sekali kita tidak tahu dan mengerti menjadi makhluk seperti apa kita di surga/neraka nanti, metabolisme dan sistem sensorik atau rangsangan semacam apa yang ada pada ‘manusia surga/neraka’.

Kamu pikir ‘sistem operasi’ manusia dunia sama serupa dengan manusia surga/neraka, lantas kamu kira sebegitu membosankannya nikmat surga dan sebatas itu saja remeh entengnya siksa neraka. Padahal Allah Azza Wa Jalla adalah Maha Maha. Allah bisa menjadi Maha Apapun Saja yang Allah kehendaki untuk membuat sistem operasi serumit dan sedetil-detilnya pada manusia surga/neraka. Bahkan sangat pasti merupakan something that is beyond all of us, terlampau jauh lebih njlimet dan bikin mumet dari wujud dan materi manusia dunia, yang sekedar ‘bab otak’ saja belum terpecahkan 100% oleh para ilmuwan dengan alat termutakhir saat ini.

Begitu juga pikiran dan pandangan kita (yang belum menikah) tentang pernikahan. Kita tersipu manis pipi memerah, mengandaikan nikah itu sebegitu romantisnya. Kita meringis terkekeh gregetan, membayangkan nikah itu ‘segila’ itu lucunya. Atau malahan kita menjadi paranoia, membayangkan ini itu serba sukar dan merana, sehingga tergambar phobia yang mengada-ada. Ah, dasar kita, dasar manusia.

Kawanku, meraba pikiran untuk mencoba merasakan apapun saja yang tidak kita tahu dan belum pernah kita lakukan tidak akan membuah ketenangan dan ketentraman jiwa. We don’t know what we don’t know, man.

Tentu saja manusia berhasrat, ber-ingin, bernafsu, berharap. Tetapi cukuplah engkau dan Tuhanmu saja yang tahu apa yang engkau cemaskan. Cukuplah Allah sebaik-baik pemberi kebaikan, maka ceritakanlah kebaikan yang kau pintakan hanya pada Allah. Maka jelaslah kemana kau harus menentukan arah, ke arah dimanapun saja Allah berada. Untuk dirimu, untuk dia, untuk kalian berdua.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s