Ibu Guru Kami


Kalau kau hidup di pedesaan beneran, tidak akan pernah kau temukan budaya selebrasi sesederhana apapun itu. Beda total berbalik arah dengan ‘desa-desaan’ sekarang ini, desa-desa yang gagal menyikapi globalisasi dan kapitalisme, desa yang kalah.

Di desa yang kalah, anak-anak ramai bermalas manja di dalam rumah, mengira dirinya bermain dan mendapat kesenangan, padahal mereka hanya kecanduan dan keranjingan dengan permainan layar datar yang berpijar tanpa pemaknaan.

Di desa yang kalah, hanya ada anak-anak dan orang sepuh, para pemuda lebih tertarik untuk pergi jauh, menghilang menuju kosmopolitan yang ricuh. Mereka mungkin kembali, namun hanya sesekali, kala libur panjang tahunan berkedok idul fitri. Lantas mereka bawa aneka rupa kendaraan, untuk kemudian menarik kerabat yang lebih muda dengan kekayaan ala ibukota yang menggiurkan, maka setiap tahun semakin jauhlah desa tertinggal kekalahan, dan semakin kentara-lah musnahnya peradaban pedesaan di hari-hari depan.

Kalau benar yang kau maksud itu adalah pedesaan sungguhan, perayaan mustahil dipamerkan dalam tataran pribadi. Tetapi di-komunal-kan dalam tatanan kebersamaan rukun kemasyarakatan. Tiap rumah ikut andil, tiap tangan turut campur pegal, bahkan sampai-sampai kebal hingga kapalan. Pedesaan semacam itu, apakah telah menjelma menjadi sebuah keniscayaan bersyarat?

Akar ujung serabut dan semrawut dari mbulet-nya benang keadaan bangsa – selain sumber dan daya manusianya – pastilah gagal dan galaunya pendidikan kemasyarakatan. Kalau sampai paragraf ini kamu baru sekali ini saja mendengar istilah pendidikan kemasyarakatan, barangkali selama ini kamu mengira pendidikan adalah domain tanggung jawab organisasi dan bangunan bernama sekolah.

Badalah, salah kaprah cah! Pendidikan itu semestinya menjadi tanggung jawab dan kewajiban masyarakat. Karena masyarakat selalu menjadi bagian penengah dalam perubahan dan kemajuan. Masyarakat melakukan dwi-fungsi mata air dan muara. Sebagai sumber mata air, masyarakat mewariskan ghirah, norma, moral dan etos sosial. Serupa muara, masyarakat menjadi ladang lapang diskusi dan aktualisasi empat pilar krusial sistem sosial tersebut.

Bayangkan anak-anak yang tumbuh me-muda tanpa ghirah keceriaan dan rasa ingin tahu, mereka akan lebih banyak letoy dan alay, mengekor, mem-bebek, atau bahkan meng-embek pada modernisasi sosial media. Umpamakan pemuda tanpa norma dan moral, lihat saja tindak tanduk dan gerak geriknya seolah penuh rahasia, bahasa tubuhnya tertutup, dan perikelakuannya bisa saja anti-sosial. Proyeksikan mereka yang penuh alpa secara sosial itu mulai tumbuh dewasa, mana ada masyarakat yang melahirkan etos sosial, justru lebur prematur masyarakat yang serba cacat, penuh bopeng dan koreng, betapa memuakkan masyarakat yang serba cengeng.

Mungkin baru-baru ini kita takjub soal konsepsi community development, social entrepreneur, crowd funding dan puluhan frasa dengan makna serupa yang sebenarnya secara sederhana telah mendarah daging dalam kesadaran sosial ayah-ayah dan mbah-mbah kita selama ini, ialah gotong royong. Dua kata padat dengan satu makna yang kuat, menciptakan sinergi sosial untuk kemaslahatan sosial.

Itulah dan begitulah titik sambung antara pendidikan kemasyarakatan dengan sebait frasa ‘ibu guru kami’. Kesadaran sosial dalam pendidikan masyarakat persis seorang ibu yang marah dan bentaknya penuh cemas, kekhawatiran, ketakukan dan bahkan tangis kalau-kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. Lembut mesra dan ketelatenannya seperti guru yang jewer dan cubitnya ditaburi doa tulus dan upaya serius demi kesiapan murid didiknya menyongsong hari depan yang penuh ketidakpastian. Lalu dengan ‘secuil’ bekal itu, jadilah ghirah, norma, moral dan etos sosial itu meresap dan melesap dalam jiwa serta lelaku anak-anak kita, menjadi bagian dari ‘kami’ itu sendiri.

Awalnya tulisan ini akan saya serupakan sebagai roso yang manis sebagai anak kepada Ibu. Tentu saja karena seingat saya tak pernah walau hanya sekali dua saya memberi ucapan apapun saja bernada romantis pada Ibu. Saya pikir pas dengan nuansa hari Ibu, sayangnya tulisan ini lagi-lagi terlalu memanjang lebar dan tinggi, memberi after taste yang berlebihan atau bahkan terkesan norak ndak ketulungan.

Saya yang anak seorang pengajar dan pendidik ini, merasakan betul betapa Ibu adalah Ibu, Ibu sebagai guru, dan selalu berpuncak pada Ibu itu aku. Kami – anak-anak Ibu, mau tidak mau akan menjadi ‘Ibu’ karena segala yang Ibu berikan dan tularkan, maka kami akan selalu dalam lindungan Ibu tersebab doanya dan ikhlasnya adalah alasan yang jauh lebih dari cukup bagi Tuhan untuk mengabulkan apapun saja yang dipinta Ibu, untuk anak-anaknya.

Yah, seperti bagaimanapun jadinya tulisan ini, semoga niat tetap bulat, padat dan mampat, hanya satu, tribute and unbelievely huge affection to Ibu.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s