Memimpin Kepemimpinan Lewat Perikelakuan


Sudah cukup lama saya tidak mencicipi kembali materi dan pemateri kepemimpinan yang pernah menyenyam ‘bangku’ kepemimpinan, pemimpin, pimpinan dan berbagai jenjang terkait lainnya dalam bermacam lembaga dari strata yang jelas. Maka materi bapak Sudirman Said beberapa minggu lalu sungguh merabuki kewarasan saya untuk tetap percaya pada anak-anak bangsa.

Intro

Betapapun remuk redam teritori, ekonomi, budi pekerti dan bahkan rakyat negeri, kita yang muda ini sungguh berhutang pada ayah-ayah dan paman-paman bangsa di masa lalu. Setidaknya karena mereka – meskipun tidak mesti secara langsung – kita tetap tegap berdiri, sangat hidup, dan dapat melakukan apapun saja yang mesti dilakukan.

Dari ujung negeri manapun kau berasal, dari kondisi sehancur lebur apapun kau beranjak dewasa, kau tetap dapat berperan untuk bangsa. Apalah lacur, kau mesti mau menerima ‘titah’ Lauh Mahfuzh bahwa kau dilahirkan di tanah ini, tanah yang dulu dikenal dengan istilah Nusantara, puluhan ribu pulau dan kepulauan yang kelak disepakati bernama Indonesia. Singkatnya, secara tersirat, Pak Sudirman ingin berpesan, “Kau mesti berbuat sesuatu, apapun saja, berperanlah.”.

Pak Sudirman sendiri lahir di kota telur asin, Brebes. Ia menceriterakan bahwa pada saat itu desa kelahirannya adalah desa termiskin di kota termiskin di Jawa Tengah. Nyatanya kalau mau bekerja keras, berjuang tanpa henti dan berusaha melakukan yang terbaik, pastilah pendidikan tinggi, beasiswa dan kedudukan strategis akan gampang saja menjadi ‘kawan-kawa’ kita. Itulah yang telah dilakukan dan pernah diupayakan Pak Sudirman untuk bangsa ini.

Di negeri yang schizophrenic ini, terlalu banyak lelucon yang bikin kita misuh-misuh sendiri. Pembunuhan karakter seorang yang beneran baik, overrule keputusan pengadilan dengan dalih ada kepentingan yang lebih besar, apalagi ingkar sumpah dan nista janji, bagi mereka seperti sudah menjadi kebiasaan yang mesti dibiasakan.

Chorus

Kita mesti menjaga diri untuk ‘tidak sendiri’ selama membangun kejujuran yang diparipurnakan dengan kompetensi dan kapabilitas pribadi, lanjut Pak Sudirman. Telah banyak tunas dan bibit sarana berkarakter dan berintegritas yang beliau istilahkan sebagai pergerakan Indonesia modern atau patriotisme baru. Komunitas dan kelembagaan seperti Indonesia Mengajar, Forum Indonesia Muda, LPDP, dan berbagai gerakan progresif yang kontributif lainya.

Seluruh pemuda yang kelak menjadi seorang pemimpin tentu saja bukan hanya harus berprestasi, namun sekaligus memiliki kredibilitas, visi dan inisiatif untuk membangun negeri. Sehingga di kemudian hari dapat benar-benar memiliki karakter leadership bukan sebagai pangkat atau jabatan, namun leadership sebagai perikelakuan. Pemimpin dengan kriteria semacam inilah yang akan diikuti karena pengaruhnya, memiliki kharisma personal dan selalu mendapatkan respect dari siapapun yang dipimpinnya.

Setidaknya terdapat tiga jenis skill yang mesti dikuasai seorang pemuda bakal calon pemimpin masa depan, yaitu technical skill, human skill dan conceptual skill. Dengan kemampuan tersebut, seorang pemimpin dapat melakukan manajemen secara teknis dan taktis, pengelolaan sumber daya manusia yang humanis, dan memiliki visi atau pandangan yang jelas lagi sistematis tentang bagaimana menyelesaikan masalah Indonesia hari ini, hari esok dan masa depan.

Pun dengan komplitnya kompleksitas kemampuan diri tersebut, seorang pemimpin harus selalu ingat dan sadar untuk kembali pada pesan awal yang ditegaskan Pak Sudirman, tidak boleh sendirian. Kalau benar berniat mengobati dan mendampingi Indonesia yang ‘cacat’ ini, milikilah kawan seperjuangan yang mau dan mampu mendukung, memberikan kritik yang kontruktif beserta alternatif yang solutif.

Bangunlah tim terbaik untuk tugas-tugas maha pelik yang bahkan pada satu dua titik, pun tidak akan bisa terpecah masalah tanpa sentuhan dan campur tangan tuhan. Pada ‘persamaan’ semacam itulah seorang pemimpin harus tahu batas cukup. Ia mesti mengerti kapan berhenti kalau hanya mengorbankan posisi dan jabatan.

Posisi dan jabatan hanyalah katalis sederhana, kita yang sejak awal tumbuh, berkembang dan dewasa karena tinggi mulianya perikelakuan tidaklah perlu dipusingkan oleh masa ketiadaan jabatan. Sebab, yang paling pertama dan utama sebagai prioritas adalah keberperanan dan kebermanfaatan kita sebagai pribadi.

Dalam kondisi dan posisi senahas apapun, kita mesti terus hidup dalam upaya kebaikan. Nothing to lose kalau cuma soal posisi dan jabatan, tetapi never surrender jika berbenturan dan bertabrakan dalam ranah perikelakuan.

Kalau kau harus membunuh integritasmu untuk mempertahankan jabatanmu, musnah sudah – vanish into thin air – apapun saja yang pernah kau upayakan dalam keteguhan kebenaran. Karena kepemimpinan tidak pernah soal posisi dan jabatan, kepemimpinan selalu tentang jiwa dan perikelakuan.

Interlude

Pasti saja Pak Sudirman juga ‘dipaksa’ berceritera tentang ‘papa minta saham’ dan ‘freeport’. Dan sudah barang tentu beliau dengan gamblang dan terang bukan kepalang njlentrehna bab kontra versi tersebut – dalam kondisi kamera perekam sesi harus dimatikan.

Karena perkara itu beliau anggap sudah terjadi dan terlanjur, kami sebagai anak muda mesti lebih bijak untuk tidak membuat gaduh dan harus lebih teduh, teguh serta telaten dalam kontribusi membangun negeri. Kalau kau – para pembaca – ingin tahu apa yang beliau pesankan pada kami perihal tersebut, datanglah dan mari berdiskusi.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s