Hak


Banyak kita mengira bahwa diri dalam kehidupannya memiliki hak atas sesuatu. Barangkali kita tidak benar-benar mengerti tentang apapun saja maksud hidup itu. Kalau kita masih merasa barang sedikit saja bahwa kita memiliki hak, mungkin kita tidak sepenuhnya sadar atas tujuan hidup dan kehidupan.

Kita jengkel pada pejabat yang nyambi jadi pencuri, ngamuk sama orang birokrasi yang bisanya cuma korupsi. Jan jane kita itu eman dengan uang yang dikorupsi atau dengan hal lain yang lebih penting? Kalau kita marah pada korupsi karena sayang banget sama uang yang dikorupsi, rasa-rasanya kok kita belum mengerti betul tentang hidup.

Sama dengan begini, ketika kita lihat ada pengemis, peminta-minta, di pinggir jalan, di lampu merah, di manapun saja tempatnya. Lantas kita memberi uang, makanan, atau apapun saja. Sebenarnya kita memberi itu untuk apa? Apa benar kita memberi karena melas betul dan ingin membantu? Atau kita memberi karena ingin ‘mengobati’ rasa tidak enak, rasa melas, rasa kasihan, yang tiba-tiba muncul dalam perasaan kita dan membuat kita tidak nyaman? Coba diteliti dan dicermati lagi kawanku, sebenarnya untuk apa dan karena apa kau memberi.

Kembali ke bab korupsi, semestinya kita merasa sayang banget kalau ada orang korupsi itu bukan karena sayang dengan uang negara yang dicuri. Tetapi lebih mendasar dari itu, kita merasa eman pada moral orang tersebut, merasa eman pada kelanjutan hidup anak-anak dan keluarganya. Merasa eman pada apapun saja kebaikan yang pernah ia lakukan selama ini, tak berbilang bulan, tak terhitung tahun, hilang dan lenyap begitu saja, menjadi abu pembakaran yang beterbangan, karena satu korupsi yang ia lakukan, sayang banget, eman banget.

Lantas kita blaming pada keadaan, menjadikan korupsi dan koruptor sebagai tempat sembunyi, mencitrakan bahwa mereka itulah yang buruk dan pantas dibenci, disalahkan, ‘dibunuh’ demi keberlangsungan hidup yang lainnya. Benarkah begitu? Opo yo koyo ngono becik seh?

Sek to, ojo kesusu, mandeg o sek. Berhentilah dulu, perlahan kuasailah diri, kendalikan bagian-bagian fisik dan materi kita. Mari lakukan pengendapan, sublimasi, diam, tunduk, memasuki kosong, agar kita dapat berjumpa dengan yang sejati. Kata Simbah, terkadang Tuhan meletakkan rahmat-Nya di tempat-tempat yang sama sekali tidak menarik bagi manusia. Terkadang Tuhan menyembunyikan anugerah-Nya di balik momentum yang tak terduga oleh siapa pun. Terkadang Tuhan melakukan penyelamatan, memberikan rejeki, serta menjanjikan rahasia-rahasia, di belakang suatu kejadian yang seakan-akan bernama musibah atau kecelakaan.

Lalu, sudahkah kita bertemu dengan sesuatu yang tidak menarik, seakan serupa musibah dan kecelakaan itu? Kalau belum, temuilah. Disanalah ada janji Tuhan, “Do the people think that they will be left to say, “We believe” and they will not be tried?”. Temuilah, jumpailah, datangilah.

Kita merasa marah atas penderitaan, lantas Tuhan tiba-tiba kita citrakan sebagai berhala yang kapan saja bisa kita hujani dengan umpatan. Padahal, Ya Allah, apalah hakku untuk merasa menderita, sedangkan aku tidak pernah meng-kontribusikan apapun saja atas kehidupan ini. Segala apa yang ada padaku, segala yang muncul dariku, bukan hasil karyaku, melainkan semata-mata penyaluran anugerah dari milikMu jua. Begitu Simbah pernah mengajari kami berdoa. Sama sekali kita tidak memiliki hak tentang apapun saja. Apalagi hak tentang hati seseorang.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s