(L)ibu(r)


Orang Indonesia itu sangat suka libur. Meskipun kalender dinding tidak lagi terlalu populer dan mulai terganti oleh kalender handphone, namun tetap saja manusia Indonesia itu butuh kalender dinding, mereka butuh libur, dan hanya kalender dinding itulah yang dapat ‘memberikan’ libur pada Indonesia.

Mungkin rakyat butuh berhenti sejenak, bermalas-malas sejak pagi hingga mentari tinggi menanjak. Sekedar untuk re-dekorasi perabot rumah, atau memusnah debu-debu pada sudut mati ruangan. Dan saya pikir libur itu bagus buat orang Indonesia, walaupun kita tetap bisa jadi workaholic macam orang Jepang – buktinya banyak ilmuwan Indonesia yang sukses setelah studi di Jepang, kita juga selalu bisa leyeh-leyeh santai menunggu sore habis.

Barangkali beginilah karakter orang Indonesia, kami bisa menyesuaikan keadaan pada diri sendiri dan menempatkan diri sendiri pada beragam keadaan. Orang Indonesia itu sangat adaptable. Kembali soal libur-nya orang Indonesia, rasa-rasanya kami memang butuh libur yang banyak. Karena orang Indonesia yang beneran Indonesia ya kalau libur sama sekali ndak hambur-hambur harta.

Justru liburnya orang Indonesia – Jawa – itu kadang sangat filosofis. Kami berkunjung ke tempat saudara, kami berkunjung ke makam, kami saling memberi hasil tanah pada tetangga, hal-hal yang mungkin terlihat sederhana dan terasa sepele, padahal sangat mendasar dan filosofis. Orang Indonesia itu kalau libur melakukan pemaknaan diri dan sosial.

Dan buat anak bujang lan perawan macam mahasiswa perantauan yang tidak sok-sok sibuk banget dengan agenda organisasi eksternal kampus, kami pasti memilih pulang. Bertemu Ibu. Libur itu ya Ibu. Buat kami yang tidak lagi ada Ibu, kami tetap pulang, kami tetap bertemu ‘Ibu’.

Karena jikapun tidak mengatakan apapun, wajah Ibu saja sudah mampu menjaga kewarasan kami hingga beberapa bulan ke depan di tanah perantauan. Ketika orang-orang tua di negara maju pada akhirnya berakhir di panti para orang tua – jompo. Orang-orang tua di Indonesia lebih banyak diajak anaknya hidup bersama, menghabiskan masa tua serumah, melampiaskan masa senja satu atap.

Kumpulan

Buat kami, orang Indonesia, harta rasanya benar-benar tidak terlalu penting dan dipentingkan. Asalkan kami bisa berkumpul dalam tawa, bercerita tentang kekonyolan masa kecil berulang kali, melihat anak dan cucu yang menangis ketika jatuh berlarian di teras rumah, ah sungguh menyenangkannya Indonesia.

Maka sebenarnya Indonesia butuh kumpulan-kumpulan tanpa aturan macam yang dibentuk Simbah sejak 15-20an tahun lalu. Kini, datang atau tidaknya Simbah, tetap saja kami berkumpul, tidak pernah ada siapa tokohnya, tidak pernah ada sajian atau hidangan, tidak pernah ada aturan dan prosedurnya, semua boleh bicara, semua boleh meminta. Kata Simbah, kami sudah cukup bisa mengatur diri kami sendiri, kami datang karena kami merasa aman dan nyaman.

Dan kumpulan serupa inilah ‘libur’ yang sebenarnya. Kami belajar untuk mendengarkan, kami belajar meresap apapun saja lalu memilahnya sesuai kebutuhan dan keselarasan roso kami masing-masing. Dan yang paling penting tentu saja kami belajar untuk tertawa, bahagia pada dagelan yang ketika kami pikir ulang ternyata tidak lucu-lucu amat.

Tapi masa bodo lah, kenapa harus nunggu sesuatu yang lucu kalau cuma mau tertawa? Kami dibolehkan untuk mengelola badan dan pikiran ini sepenuhnya kok dari Sang Maha Pengelola. Masa yo ndak boleh kalau kami duduk dan tertawa? Lagipula kan kami sedang libur, haha.

Manusia kadang merisaukan apapun saja yang tidak ia ketahui. Padahal ia tahu bahwa ketidaktahuannya itu adalah kebahagiaan.

Karena itu, sesekali bolehlah ngomong, urip kuwi mung (l)ibu(ran).

Advertisements

One thought on “(L)ibu(r)

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s