Belajar Bermain, Bukan Main-Main


Selain kurang piknik, sebenarnya orang Indonesia sangat kurang bermain. Bukan hanya orang dewasanya, tapi juga anak-anaknya. Padahal dalam sesi materi ‘Bapak Main-main Indonesia’ Kang Zaini Alif beberapa minggu lalu, benar betul kalau dikatakan semua manusia itu senang bermain, bukan hanya anak-anak namun juga orang dewasa.

Petama kali saya mengenal Kang Zaini Alif tentu saja tidak secara langsung, lewat paparan beliau yang padat nan filosofis tentang Hom Pim Pah, sejak saat itu saya mengerti betul bahwa bermain itu sangat ‘darurat’ untuk negeri ini. Rasa-rasanya kok pemerintah atau paling tidak diri kita pribadi perlu mencanangan Indonesia Darurat Bermain ya?

Tidak Main-main Dalam Bermain

Sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, mari terlebih dahulu kita tidak main-main dalam bermain. Orang lain berkilah ‘ini hanya main-main’, Kang Zaini Alif menuturkan bahwa bermain adalah cara terbaik untuk belajar ikhlas.

Beda dengan permainan konsol modern yang hanya mengajarkan kita keterampilan jari atau saling umpat di depan layar datar, permainan yang dimaksudkan Kang Zaini Alif tentu saja permainan tradisional. Permainan yang mengajarkan kita tentang banyak hal sederhana dan dalam waktu yang sama sangat filosofis penuh makna.

Saat bermain kita belajar tentang aturan dan kesepakatan, mana ada yang mau bermain dengan orang yang tidak bersepakat untuk taat aturan. Saat bermain kita belajar tentang sanksi sosial pada pemain yang berbuat curang. Saat bermain kita belajar tentang kompetisi, kerjasama, arti kebersamaan, dan tentu saja kebahagiaan.

Lalu semua berubah saat negara api menyerang, entah sejak kapan – dan sampai kapan – tiba-tiba permainan dicitrakan sebagai hal yang negatif, kegiatan tanpa kebermanfaatan. Padahal dalam pembahasan Kang Zaini Alif soal hom pim pah alaihom gambreng saja kami sudah seperti mengikuti kelas perbandingan antar agama.

Tentang makna dualitas, yang barangkali anak-anak tidak juga pernah akan mengerti sebelum mereka dewasa dan belajar betul tentang permainan tradisional – atau mendapat materi Kang Zaini Alif. Tapi toh sejak kecil kami yang selalu memulai permainan dengan hom pim pah tahu benar bahwa kami tidak pernah tahu sisi telapak tangan mana yang akan menentukan.

Bisa aja muka telapak tangan yang menang, mungkin sekali justru punggung telapak tangan yang menang. Kami belajar tentang ketidakpastian dan dualitas menang kalah – meskipun dalam usia sekecil dulu kami belum mengerti kosa kata ketidakpastian atau dualitas. Tapi kami mengerti.

Kita kan selalu begitu dalam segala hal, awalnya kita tahu, lantas kita mengerti, muaranya kita paham. Tahu – mengerti – paham. Nah, pada tingkat paham inilah kita masuk dalam fase pemaknaan, luarannya tentu saja sikap inisiatif yang cekatan dan penuh kecermatan. Kecerdasan untuk menimbang alternatif solusi lalu menetaskannya menjadi ketepatan tindakan.

Lebih dari itu, Kang Zaini Alif juga menjelaskan bahwa hom pim pah alaihom gambreng juga tentang hubungan kita dengan Tuhan. Apapun saja sejatinya berasal dari Tuhan, maka pastilah kembali ke Tuhan. Itulah mengapa kita perlu tahu konsepsi diri – Tuhan – alam lingkungan.

Bermain Pekerjaan

Dalam segitiga tak terputus antara diri, alam lingkungan dan Tuhan, kita sadar betul tentang garis imaginer vertikal dan horizontal. Hubungan kita dengan Tuhan yang berada pada alur vertikal, sekali dua akan berpotongan dan beririsan dengan lelaku kita pada alam lingkungan yang terletak pada jalur horizontal.

Koordinat potongan vertikal dan horizontal itulah sebuah kesatuan makna, arti yang tunggal. Bahwa kita terhubung dengan apapun saja yang tidak pernah kita kira. Ada frekuensi adikodrati yang menyambung kita dalam satu keadaan yang cenderung.

Manusia itu cenderung pada kebaikan. Percaya saja, memang begitu kok. Mau jadi sekeji apapun manusia, mau seiblis apapun manusia, ia tetap akan mendekati kebaikan. Itu sudah menjadi sifat nirnalar yang dianugerahkan Tuhan.

Maka itu yakin saja bahwa jika yang kau lakukan itu kebaikan, pastilah banyak yang akan mendekat, menawarkan bantuan, ikut terlibat dan ambil bagian, bahkan pasang badan turut memperjuangkan.

Sama serupa dengan satu bahasan intermezzo tentang nama, menurut Kang Zaini Alif, nama tidak pernah berhubungan dengan identitas, nama adalah sebaris doa yang diharapkan orang tua. Identitas kita yang sebenarnya adalah apapun saja yang kita upayakan ke depan, apapun saja yang kita lakukan menuju masa depan.

Kang Zaini Alif pernah jalan-jalan ke kampung Baduy Dalam, dan ia ceritakan pada kami bahwa di suku Baduy, tidak pernah ada istilah ‘main’, yang ada adalah istilah ‘pekerjaan anak’. Ini menunjukkan betapa tingginya arti permainan dalam budaya Baduy.

Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 2600 jenis permainan tradisional, dan Kang Zaini Alif memilih untuk berkeliling mengajak kita semua ikut dalam gerakan ‘Indonesia Bermain’. Mungkin tampak sepele, tapi bukannya tidak serius.

Permainan babalonan samping mengajarkan anak mengenal alam. Injit injit semut melatih diri untuk berempati. Congklak mengenalkan kita pada kehidupan dan kesadaran sosial. Gobak sodor bercerita tentang strategi dalam kehidupan. Ampar amparpisang atau salam sabrang menempa kecerdasan emosional dan keseimbangan otak kiri kanan. Dan masih ada 2600++ permainan tradisional lainnya yang kesemuanya memiliki makna dan cerita tersendiri.

Dan Kang Zaini Alif serius, karena hingga kini puluhan kampung permainan tradisional telah mandiri dan terkelola secara bijaksana dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat. Ada kampung Bolang di Jawa Barat, ada juga di Bali, di Mojopahit, di Bulukumba, hingga Ternate dan beberapa kampung dolanan lainnya.

Bermain mungkin terdengar sepele, tapi bukan berarti tidak serius. Masyarakat secara komunal dapat bersinergi lewat culturepreneur yang rata dan menyejahterakan. Bukti bahwa Kang Zaini Alif dan seluruh komunitas yang telah dirintisnya itu bermain tapi tidak main-main.

Karena mereka bermain pekerjaan, permainan yang penuh dengan pemaknaan, permainan yang menyejahterakan.

Dan betapun seriusnya kau membaca tulisan tentang permainan ini, ingatlah bahwa tulisan ini pun hanyalah sebuah permainan, tapi tidak pernah main main. Jadi, kawanku, jangan lupa untuk bermain, tapi jangan pernah main-main.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s