Tangguh, Teguh, dan Teduh


Orang sering bilang kita keras kepala saat mempertahankan pendapat dan keyakinan. Orang kadang bilang kita kepala batu saat memperjuangkan keinginan dan kemauan. Tapi orang barangkali lupa, bahwa segala pertentangan harusnya tetap dipertimbangkan dan diperimbangkan bagian manfaat dan kemaslahatan. Juga tentu saja prinsip dan keluhuran niat.

Kita mesti tetap tangguh, teguh dan teduh dalam memperturutkan kemauan, keinginan, pendapat, dan keyakinan yang baik. Apalah lagi kalau kemauan, keinginan, pendapat, dan keyakinan itu adalah ibadah dalam upaya merayu ridho Tuhan. Bahwa akan ada penolakan, pertentangan, ancaman, intimidasi, bahkan hinaan, semuanya tidak akan mampu mengecilkan atau mengerdilkan hati yang khusyuk dalam ketundukkan surgawi.

Karena telah datang panggilan itu. Panggilan untuk bergegas menggenapi separuh yang hingga saat ini belum terpenuhi. Panggilan yang harus dibalas dengan niat, sikap, dan ketetapan hati pada keberanian pendirian, keberanian yang tidak goyah oleh ketakutan tak beralasan.

Kalau kau telah bangun dari tidur panjang kelenaan dan gelap gulita kebodohan, jangan lagi sekarat dalam penjara kefakiran iman. Dunia tidak akan berganti sampai kau mati, ia akan menusukmu dari belakang dengan rasionalisasi keabsurdan.

Kau akan diajak bersedu sedan dalam bilik cilik kekhawatiran tentang harta kekayaan. Kau akan dirayu pandangan, pikiran, hingga kemaluan sampai kau melenguh kesetanan di atas ranjang nafsu hubungan badan. Kau pasti diancam dengan kesengsaraan, kemelaratan, kejatuhan, gunjing kiri kanan, kesakitan bahkan kematian.

Dan tidaklah lagi tega kubayangkan dengan kata per kata apa yang akan diperlihatkan padamu demi runtuhnya ketangguhan puasa badanmu, keteguhan kelindan imanmu, dan keteduhan pilar dasar pikirmu.

Karena kita tidak pernah bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa, dari lingkungan seperti apa, dari budaya, keyakinan dan tingkat kepahaman seperti apa. Tapi kita selalu bisa memilih untuk menjadi orang tua terbaik yang melahirkan anak-anak kita kelak. Sehingga tiada lagi perlu anak-anak kita berjumpa dengan silang sengkarut carut marutnya ketakutan-ketakutan dunia.

Jikapun ingin mengajarkan ketakutan, akan kita ajarkan pada mereka ketakutan-ketakutan kebertuhanan. Ketakutan tentang tidak sempurnanya ibadah. Ketakutan tentang sedekah belumlah 100% tanpa riya’. Ketakutan tentang persiapan menyambut kematian yang tidak pernah cukup berguna.

Ketakutan yang menyuburkan kewarasan kita dalam bertuhan. Ketakutan yang melecut ketidakpuasan kita dalam menyerap ilmu. Ketakutan yang benar-benar membuat tangan kiri lupa tentang apapun saja kebaikan yang dilakukan tangan tangan.

Ketakutan itu, ketakutan seindah itu yang akan membuat kita tangguh, teguh dan teduh, sepanjang jalan orang-orang yang menegakkan apapun saja yang harus tegak dan ditegakkan.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s