Ketidakwarasan


Barangkali pembicaraan tentang kewarasan adalah topik yang klise dan ketinggalan jaman. Tapi biarlah, karena pada satu dua perpotongan garis kehidupan, kita mau tidak mau mesti saling pandang dengan ketidakwarasan, hanya berbatas tabir tipis serupa kain penghalang shaf laki-laki dan perempuan.

Banyak manusia sehat, tapi lebih sedikit yang sehat sekaligus memiliki kewarasan. Bagaimana tidak? Mereka seperti hilang akal pada perkara keduniaan. Meributkan ini dan itu tanpa arah dan tujuan. Tanda bahwa kering dan dangkalnya sumur keimanan.

Padahal kalau mau benar mencermati, iman itu ‘kan ketika kita tidak tahu, maka kita beriman. Kita tidak tahu seperti apa wujud Tuhan, tapi kita menyaksikan alam dan gelaja Tuhan, maka kita beriman. Kita tidak tahu bagaimana cara Tuhan mengatur seluruh dunia dan isinya dengan apapun saja detil yang berbeda dan tak terhitung banyaknya, maka kita beriman. Kita tidak tahu kapan kita mati, maka kita beriman.

Kita tidak tahu apa yang tidak kita tahu, maka kita beriman. Dan tidakkah kita sadar bahwa ketidaktahuan inilah yang tetap menjaga kewarasan kita lewat jalan iman? Maka sungguh bodoh dan tuli kalau kita tetap bersikeras untuk ‘tidak waras’ dengan bercengkrama bersama segala hiruk pikuk dunia dan seisinya.

Kita mesti paham, bahwa dunia dan seisinya ini dicipta sebagai ‘penjaga’ kewarasan, bukan sebagai ‘pengganggu’ kewarasan. Dunia mesti kita sikapi dengan elegan, temuilah dengan penuh kehormatan. Karena kita bekerja itu bukan untuk mencari dunia.

Kita bekerja itu untuk beribadah, perkara kemudian sedikit atau banyak dunia akan mendatangi kita, itu tidak pernah jadi soal. Karena bekerja itu bukan untuk mencari dunia, bekerja itu untuk ibadah, sebagai ketaatan pada Yang Maha Kuasa bahwa kita beribadah dengan cara bekerja.

Jangan campur adukkan kerja dengan harta, karena harta tidak pernah datang dari pekerjaan, dan pekerjaan tidak pernah mendatangkan harta. Harta datang dari Tuhan dan hanya dari Tuhan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan bekerja atau tidak.

Tuhan itu tidak korupsi kok, tiap manusia sudah punya jatah hartanya masing-masing, dan seluruhnya adil, karena Tuhan Maha Adil. Kita miskin, tetangga kaya, itu adil kok, tenang saja, Tuhan itu Maha Adil, dan Maha Detil. Barangkali orang lain kaya harta, tapi mereka miskin kewarasan. Mungkin saja kita miskin dunia, tapi kita kaya kebijaksanaan. Dan percaya saja, kita tidak akan mati sebelum jatah harta kita seluruhnya kita terima dari Tuhan.

Jadi ya, belajarlah bersikap waras, karena kayaknya kok surga itu cuma buat orang-orang waras.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s