Harap Harap Kecemasan


Dari soal kebergantungan diri pada Tuhan, kita mestinya belajar tentang harapan. Sungguh salah kaprah kalau kita percaya pada manusia kemudian mengharap pada mereka. Memang sangat tipis dan halus batas antara kepercayaan dan pengharapan.

Kalau ingin mengumpamakan pengharapan pada manusia itu seperti berharap pada kecemasan. Seperti menanam biji harap harap kecemasan, semakin kita siram, semakin kita berharap tumbuhnya indah berbunga, berbuah dan ranum sempurna, maka kita sangka akan manis dan enak rasanya.

Boleh saja kita mengira begitulah buah pengharapan. Tapi lihatlah, kita akan kecewa dan dikecewakan. Menyemai benih-benih pengharapan pada manusia, hanya akan tumbuh tunas-tunas kecemasan, mekar bunga-bunga kecemasan, lantas berbuahlah lebat buah-buah kecemasan.

Kita memang hidup secara sosial, tapi tidak boleh bergantung secara sosial. Kehidupan sosial adalah tempat kita berinteraksi dan berkontribusi. Memberikan satu dua tiga hingga tak terhingga solusi pada beragam permasalahan.

Bukankah kita diciptakan dalam keadaan yang komunal untuk saling mengenal? Lantas perintah selanjutnya adalah untuk bermanfaat pada orang lain. Lalu lebih teknis dan spesifik untuk mengikhlaskan atau melupakan hutang orang lain kepada kita. Dan kalau mau dirunut sampai surut, tidak akan pernah ada anjuran untuk berharap atau bergantung pada orang.

Kecemasan orang yang cinta dunia adalah bagaimana hidup di hari depan tanpa bekal harta. Kecemasan orang yang cinta sanjungan adalah bagaimana hidup di masa kelak tanpa kehormatan dan kedudukan. Kecemasan orang yang cinta Tuhan adalah bagaimana hidup di dunia selanjutnya tanpa iman dan keyakinan pada Sang Maha Menciptakan.

Kesederhaan yang disukai Tuhan adalah kesederhaan yang kuat dari depan belakang atas bawah kiri kanan. Bukan kesederhaan yang lemah ekonomi, lemah sosial, lemah ilmu, apalagi lemah iman.

Tetapi serupa rumah, kesederhaan seperti dalamnya pondasi yang menghujam tanah, mengakar dan menjangkar, selalu tumbuh dari hati yang kuat memegang iman. Sehingga ilmu dan keterampilan apapun saja yang ia pegang, akan murni dan sejati penuh kegunaan. Sehingga apapun saja harta yang ia upayakan, akan bersih dan tersucikan. Sehingga posisi sosial apapun saja yang ia dapatkan, akan teguh dan kokoh demi luasnya kemaslahatan.

Maka tidak akan ia goyah dan payah karena polah dan obah tentang kecemasan atau pengharapan pada orang-orang. Karena jelas sudah muara harapan hanya pada Tuhan. Tidak ada lagi harap harap kecemasan pada segalanya, sebab segalanya sudah dalam lindungan-Nya.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s