Perang Besar


Benarlah kalau Nabi berpesan bahwa perang besar yang sesungguhnya adalah perang melawan diri kita sendiri. Perang melawan kemarahan saat dihinakan oleh orang lain. Perang melawan ‘hak’ membalas yang sangat bisa dan sangat mampu untuk dilakukan. Barangkali perang itulah yang dimenangkan Ali kala berhenti sepersekian detik tebasan pedangnya hanya karena ludah musuh ke wajah menantu sekaligus keponakan Nabi ini.

Perang yang kasat mata senjatanya. Perang yang tidak terdengar gerak gerik pasukannya. Perang yang tidak dinyana strategi serangannya. Perang yang penuh dengan tipu daya, sehingga kita sejatinya kalah kalau kita berpikir kita menang dan kita mungkin saja menang kalau kita mau mengalah. Perang besar yang sungguh harus dimenangkan setiap kita manusia.

Kita mesti tahu kapan kita memasuki perang itu. Periksa kelengkapan senjata, kalau masih saja kau bawa perisai, pedang, busur, tombak, parang, palu, pistol, atau tongkat sekalipun, maka aku bertaruh kau pasti kalah. Karena bala tentara musuh tidak akan bisa kau hancur leburkan dengan senjata apapun saja.

Bisa jadi kau mengira dapat berlindung di balik perisai atau rompi anti peluru. Mungkin juga kau pikir bisa menghunus pedang, menusukkan tombak, melepaskan anak panah, menekan pelatuk, atau malah membabi buta memukulkan tongkat. Cobalah saja kalau kau belum juga percaya, tidak satupun senjata bisa merobohkan mereka, tidak sedikitpun benteng perisai bisa melindungimu dari serangannya.

Perang besar yang satu ini tidak bisa kau menangkan dengan senjata. Karena ingat lekatlah kawan, detik ketika kau merasa menang dan mengalahkan pasukan musuh, detik ketika mereka terjerembab jatuh cambur baur meleleh jadi darah, detik ketika semua serangan padamu musnah, itulah detik kekalahanmu. Kau telah kalah dalam perang besar ini.

Perang besar melawan kemarahan ini adalah perang melawan nafsumu sendiri. Karena itu, tidak ada taktik yang kalah jitu dibandingkan dengan diam dan tenangnya hati serta akalmu. Berhenti, hela nafas pelan-pelan, jatuhkan senjata dan seluruh kelengkapan perang, lihat dengan hati dan solusikan dengan akal.

Dekati dan peluklah dirimu sendiri di aliran sungai kemaafan. Diam tidak pernah berarti membiarkan. Tenang tidak mungkin maksudnya tanpa sikap dan kesiapan. Menang tidak selalu didapat dengan mengalahkan. Dan biarlah Tuhan yang membangga-banggakanmu di surga. Berikanlah maaf pada dunia, dan temukanlah kehormatan di surga.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s