Hati yang Bersandar


Ternyata menyandarkan hati pada sesuatu yang tidak terlihat mata dan tidak dijangkau logika tidak semudah menulis ribuan omong kosong tentang hati yang diuji. Kita perlu diuji terlebih dahulu, untuk tahu, mengerti dan paham lantas barulah sadar untuk sumeleh, sareh lan sumeh.

Tidak percaya? Ya tunggu saja dirimu diuji, semua orang yang mengaku beriman pasti akan diuji kok. Tenang saja, pasti sesuai proporsinya, Tuhan itu Maha Adil.

Mau tahu apa ujiannya? Mana bisa. Kalau tahu apa ujianya ya namanya bukan ujian. Dan tidak akan terjadi apa-apa kalau itu bukan ujian. Hanya hari-hari yang sama, rasa hati yang sama, pola pikir yang sama.

Dan, kalau sampai hari ini kamu merasa sama saja, merasa kok tidak pernah diuji dengan sesuatu yang benar-benar mengujimu, ya kalau aku sih akan khawatir dengan itu.

Ada apa gerangan Tuhan kok aku tidak segera diuji? Begitu seharusnya, tapi tidak akan begitu nyatanya. Jarang begitu kenyataannya. Dan begitulah aku sebagai anak muda mainstream, tidak mempertanyakan ujian, hingga datanglah ujian, dan celakalah aku kalah, sama sekali tidak layak disebut layak, apalagi lulus, bodohnya aku kalau menganggap diri telah lulus dari ujian.

Now, I’m a fool. And I wish I stay foolish. Dan apa yang harus dilakukan seorang yang bodoh?

Pertama, ia harus tahu dulu bahwa ia adalah orang bodoh.

Kedua, orang bodoh tidak boleh mengamuk, mendikte, mempertanyakan apapun saja yang menurutnya bodoh, atau konyol, atau absurd, karena dalam kondisi kebodohan yang sekarang ia tidak mungkin bisa membedakan apa itu bodoh, konyol, atau absurd dengan tidak bodoh, tidak konyol, atau tidak absurd.

Ketiga, pahamilah bahwa diri adalah seorang yang bodoh, sehingga dengan pemahaman itu ia dapat menerima dirinya sebagai orang bodoh.

Keempat, dalam keterterimaan diri itu, ia akan merasa enas (kata dasar mengenaskan) pada diri sendiri, ia akan merasa sesal (baca:menyesal), ia akan menangis.

Disitulah hatinya akan membutuhkan sesuatu untuk menyandar. Dan tiada apapun saja yang mampu memberikan ketenangan pada hatimu, kecuali menyandarkan hatimu pada Tuhan.

Kalau kamu tipe orang audio, akan lebih ngeh kalau langsung saja dengarkan lagu Hasbunallah-nya KiaiKanjeng, atau Sandaran Hati-nya Letto.

Banyak yang akan kita pertanyakan, dalam kejatuhan itu, dalam ketenggelaman yang memalung. Banyak marah yang rasa-rasanya tinggal sejengkal lagi pecah membuncah. Banyak amuk karena hatimu terpuruk remuk.

Akan tetapi, opo yo iyo to, kita berhak marah, berontak, menuntut? Kok koyone ora yo? Lha coba saja hitung satu-satu, apasih sesuatu yang jadi ‘hak’ milik kita? Sehingga kita yakin benar boleh ‘merasa berhak’, apasih? Coba deh sebut satu saja.

Udara, air, dan segala partikelir kimiawi jagad bumi, milik Tuhan. Tangan, kaki, badan, seluruh indera, siapa yag ciptakan? Bahkan kalau sampai kita merasa berhak atas apa yang benar-benar kita buat, sebut saja tulisan, teknologi, pemikiran, karya seni, dll, benar? Yakin? Mau lupa begitu aja pada siapa yang memberi ilham? Siapa yang memberi kecerdasan? Ah, astaghfirullahaladzim, laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin. Sudah ngerti sekarang?

Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi, bolehkah aku, mendengarMu

Terkubur dalam emosi, tanpa bisa bersembunyi, aku dan nafasku, merindukanMu

Terpuruk ku di sini, teraniaya sepi, dan ku tahu pasti, Kau menemani

Dalam hidupku, kesendirianku

Teringat ku teringat, pada janjiMu ku terikat, hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika Kaulah sandaran hati, Kaulah sandaran hati

Inikah yang Kau mau, benarkah ini jalanMu, hanyalah Engkau yang ku tuju

Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku, aku hilang arah tanpa hadirMu

Dalam gelapnya, malam hariku

Teringat ku teringat, pada janjiMu ku terikat, hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika Kaulah sandaran hati, Kaulah sandaran hati, sandaran hati

Astaghfirullahaladzim, laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s