Masa dan Massa


Tidak pernah ada yang tahu betapa gelap masa lalu tiap kita dan betapa buram masa dulu tiap mata. Tentu saja hanya diri dan Sang Pencipta yang mengerti betul lintasan-lintasan cahaya hitam atau goresan-goresan belati tajam.Read More »

Advertisements

Tuhan Maha…


Waktu kecil kita sering dinasehati untuk tidak boleh sombong, karena hanya Tuhan yang boleh sombong. Tetapi setelah cukup dewasa dan direnungi betul rasa-rasanya kok ndak pas kalau Tuhan disebut sombong, apalagi Maha Sombong.Read More »

Apapun Saja yang Tidak Membunuhmu, Menguatkanmu


Was mich nicht umbringt macht mich stärker. Ungkapan lama yang akan jauh menuntunmu hingga tahun 1888. Sayangnya, filosofi yang indah selalu disalahkaprahkan menjadi senjata perang – atau paling tidak, kredo camp pemuda Nazi. Tapi bukanlah kuat yang terlintas dalam pikiran kosong Musa sore ini – hanya rutuk dan kutuk pada diri sendiri.

Musa yang kerap mencipta kombinasi kata kunci orisinalnya sendiri, siang itu dengan polosnya barulah ia menyadari, dibodohi perkara transaksi keuangan tanpa jaminan. Ia yang sejak SMA sudah mahir mengutak-atik software virus dan teka-teki jaringan, kini menggigit angin, menggeram geraham, bodohnya manusia kalau punya kuasa.

Uang delapan setengah juta itu lenyap. Dan Musa tau, tidak akan kembali apapun saja yang terjadi. Butuh waktu berhari-hari hari sampai ia mengerti. Butuh waktu berminggu-minggu sampai ia paham. Butuh waktu berbulan-bulan hingga Musa mengikhlaskan.

Uang sejumlah itu bukanlah nominal sepele bagi Musa. Ia yang sejak kecil yatim ditinggal mati ayahnya, tidak pernah membayangkan payahnya mengumpulkan delapan setengah juta, hanya demi hilang melayang lewat tipuan recehan.

* * *

Sore itu Musa bersikeras berkendara ke kota sebelah, tempat dimana ia akan menjalani hidup selanjutnya. Dan butuhlah ia rumah tinggal, hanya untuk sekedar singgah, berlindung sejenak dari hujan matahari atau badai petir.

Sudah ia tetapkan pilihan, rumah kontrakkan yang satu itu, tidak cukup jauh dari tempatnya bekerja. Dan kelihatannya cukup ramah oleh tetangga-tetangga desa. Ia akan tenang meninggalkan istrinya – kelak – di rumah kontrakan, sendirian.

Sekali dua Musa memerhatikan rumah yang jelas bangunan baru itu. Tidak ada warga sekitar, maka ia hanya melintas tanpa bertanya pada siapa. Lantas ia mencari lokasi yang nyaman untuk berkomunikasi. Sekali dua pesan singkat aplikasi chat tidak mendapat jawaban, lantas Musa mencoba kembali dengan pesan singkat biasa.

Si pemasang iklan di laman jual beli membalas sekenanya. Mengatakan tidak bisa bertemu hari itu, tapi Sabtu mungkin bisa. Entah apa yang membuat Musa menawarkan untuk segera melunasi pembayaran dengan cara transfer uang. Tanpa pernah bertemu, tanpa tanda terima. Musa dijanjikan Sabtu bisa bertemu, menyerahkan kunci rumah dan kwitansi bukti.

Ada rasa takut, ada rasa was-was, ada ragu, ada apapun saja yang bisa membuat Musa membatalkan transaksi sore itu. Tapi barangkali inilah jodoh Musa hari ini. Manusia tidak hanya berjodoh dengan manusia, ada jodoh dengan masalah, keberuntungan, kebodohan, kepintaran, kemudahan, kemalangan, dan tidak segala yang berarti negatif, buruk sebagai jodohmu. Bisa saja kebodohanmulah yang akan menyelamatkanmu kelak.

Dan sore itu, kepintaran Musa tentang teknologi-lah, yang membuatnya rugi. Musa mungkin merasa dijatuhkan dari pucuk jurang, oleh kebisa-annya sendiri, kesombongannya tentang teknologi.

Kembali ke kota tempat saudaranya, dengan kereta lokal, Musa tidak juga bisa tenang memikirkan uang delapan setengah juta itu. Lantas ia kembali menghubungi ‘si pemilik’ rumah. Meminta esok hari bertemu, dimanapun ‘si pemilik’ rumah berada, akan ia datangi – pikirnya.

* * *

Kecuali, esoknya ‘si pemilik’ rumah, tidak pernah ada. Dan itulah saat Musa menyadari, bahwa sejak awal, ‘si pemilik’ tidak pernah sebagai pemilik. Siang yang terik, hati yang kosong – jika tidak mau disebut lebur, hancur. Tapi apalah lacur, Tuhan tidak pernah pilih-pilih dalam memberi rezeki.

* * *

Sekali dua kita akan mempertanyakan, sekali dua kita akan menolak tanpa alasan. Tapi toh manusia tidak akan mati sebelum seluruh rezekinya ditunaikan Tuhan. Musa bersyukur pernah sesekali serius mengikuti kajian ba’da subuh Masjid Kampus. Karena dalam saat-saat tanpa semangat semacam inilah, Musa ingat, yang membedakannya, satu manusia dengan lainnya adalah cara mereka menjemput rezeki.

‘Si pemilik’ itu menjemputnya dengan cara menipu Musa. Dua-duanya dalam pertalian ujian Tuhan. Musa bisa memilih untuk menikhlaskan dan mendoakan kebaikan untuk penipu itu, atau sebaliknya, mengutuk dan berikrar tak akan memaafkan.

Dan jikapun butuh berhari-hari lamanya, Musa kembali menetapkan pula hatinya. Di waktu-waktu seperti ini, tidak ada waktu untuk memikirkan filosofi – atau berpikir bijak. Namun, sayangnya, Musa benar-benar paham, bahwa tidak ada juga yang bisa dilakukan selain itu, berpikir bijak, bersikap bijak.

Sampai pada satu ketetapan simpulan, “apalah yang aku miliki?” – pikir Musa. Ingatlah Musa dengan kata yang pernah ditutur oleh Simbah. Manusia tidak pernah memiliki apapaun, maka konsep hak adalah sebuah kenihilan akal.

Manusia hanya diberi pinjam, dijinkan untuk menggunakan, barang sehari-dua, sebulan, setahun, semasa hidup. Jika kapanpun saja diminta oleh Yang Maha Memiliki, memang begitulah seharusnya. Tidak perlu dibahas lagi, yang memiliki memintanya, untuk dipinjamkan kepada orang lain.

Esok hari, Musa telah menetapkan hati, memulai segalanya kembali, tanpa tersirat sesal atau kesal – tetap ada sedikit geram pada diri sendiri, terima kasih Ayah – pikirnya – telah mewariskan Ibu yang tangguh, yang lurus pendirian dalam akhlak. Musa ingat, berapa kalipun kemalangan yang Ibunya dapati, Ibu selalu berhenti sejenak, menarik nafas panjang, lantas berbisik ‘alhamdulillah’ – dan kembali berpaling pada Musa kecil, dengan senyuman penuh kesyukuran. Saat itu Musa belulm tau bagaimana rasanya, apa maknanya – hari ini Musa memahaminya, seluruhnya.

————–

Photo by Daniel Tafjord on Unsplash